Monday, February 02, 2009

susdapejuga

SUSDAPE

SUSDAPE XV sebentar lagi LPJA ( The Antara School Of Journalism) mau kembali selenggarakan Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) angkatan ke 15, mulai 16 Februari - 15 Mei 2009. pendidikan teori selama 3 bulan di LPJA, kemudian mereka para peserta akan mengikuti On The Job Training (OJT) di Redaksi Antara di Wisma ANtara lt 20. Para peserta kebanyakan berasal dari daerah-daerah ( yang selama ini sedikitnya 3 tahun sudah aktif bekerja sebagai koresponden dan pembantu koresponden Antara. DOAKAN YAH

terbitlah

bukuku Semiotika yang sekarang sudah 'habis' (maksudnya tidak ada lagi, di pasaran) akhirnya mau diterbitkan lagi oleh LSPR Jakarta. Kemaren Jumat pekan lalu, aku ketemu Pak Andre Ihsano PUKET II LSPR di ruang kerjanya, dan beliau mau membantu menerbitkan kembali Buku Semiotikaku. ALHAMDULLILAH......SEMOGA LANCAR !!

Sunday, December 07, 2008

keluargaku

IDOLA

semua ingin jadi idola. itu yang muncul dan nyata di televisi, banyak acara yang menampilkan cara cepat untuk terkenal, cara cepat untuk populer. Sebagai contoh acara Idola Cilik. ribuan orang tua yang memaksakan anaknya untuk ikut audisi acara itu meski modal suaranya pas-pasan. setelah itu, mulailah drama sabun televisi, setiap bocah yang masuk final menjadi objek kamera, menjadi komoditi yang layak dijual, termasuk juga gerak-gerik dan perilakunya. Suara anak-anak yang senyaring burung bulbul pun dipaksakan lincah dan piawai menyuarakan syair lagu dewasa, dan mengikuti gerak orang dewasa. Dunia televisi yang menjanjikan 'bintang' justru membuat anak menjadi tegang, takut dan was-was berlebihan, menangis sesengukan ketika namanya tercoret dan harus pulang.Meski dibalut dengan nilai rapor yang merah, tetapi tetap saja anak menjadi kecewa. Apakah acara ini perlu dipertahankan? Apakah boleh mengekpolitasi anak-anak hanya demi keinginan pengusaha dan pemilik kapital televisi untuk meraup keuntungan? Ayo Lawan Televisi dengan mulai sekarang tidak menonton acara Idola Cilik!!!

kultivasi

Di era reformasi ini seringkali pers tak lagi menghargai privasi, dan tidak pandang bulu menyebarkan gosip atau desas-desus meski belum teruji kebenarannya. Berita-berita yang muncul pun seringkali hanya disesuaikan dengan selera rendah masyarakat tanpa pernah mencoba melakukan upaya mendidik rakyat. Padahal, secara teori bila berita-berita semacam ini dibiarkan maka akan terjadi proses ‘kultivikasi’ pengendapan dan lambat laun norma-norma akan bergeser secara perlahan. Sebagai contoh, nilai-nilai freesex, glamour, gaya hidup metroseksual (kebiasaan baru-baru laki-laki Ibukota yang selalu wangi, berdandan ,pakai perhiasan dan farfum mahal), lambat laun akan diterima sebagai nilai baru di tengah masyarakat, apabila hampir setiap hari ditayangkan atau diberitakan di media massa. Saat ini ancaman real terhadap media massa justru muncul di sektor ekonomi, yakni mampukah dia bertahan hidup melawan persaingan dunia usaha. Caranya, lewat penyajian media yang bisa menarik pembaca dan pemasang iklan. Persoalannya, kemampuan membuat berita identik dengan ideologi media massa yang menaunginya, sehingga kemampuan seorang wartawan membuat berita pun tidak serta merta membuat tulisan atau berita di media massanya menjadi lebih baik.

Thursday, November 27, 2008

pak indi dan penggemar rahasia

tentang persahabatan

Sunday, November 23, 2008

obsesiku

Monday, October 20, 2008

BERSYUKUR BERSAMA WISUDAWAN

Friday, October 17, 2008

INDIWAN SETO DAN WISUDAWAN

Monday, October 13, 2008

FOTO KELUARGA SAAT LEBARAN

Friday, October 03, 2008

AYAH DAN IBUKU, MASIH TETAP MESRA

Saat Lebaran kemarin aku sowan kerumah orang tuaku di Sewan Neglasari Tangerang, tempat kelahiranku. Lokasinya sekitar 5 kilometer dari barat Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Aku bahagia banget lihat kedua orang tuaku masih sehat, dan akur. Ayahku tampak bangga dengan kebun cintanya dan kolam-kolam ikan yang cukup membuatnya betah dan asyik saat menikmati masa pensiunnya. Foto ini membuktikan hal itu.

Monday, September 01, 2008

KUMPUL SAAT LEBARAN

PROSES SEMIOTIKA PEIRCE

Proses semiosis adalah suatu proses pemaknan tanda yang bermula dari persepsi atas dasar, kemudian dasar merujuk pada objek, akhirnya terjadi proses interpretan. Penerapan dari model trikotomis Peirce ini dapat dilihat dalam contoh berikut: apabila seseorang melihat sebuah bendera warna kuning ( R ) yang membuatnya merujuk pada suatu O, yakni dilekatkan pada sebuah kayu yang dipegang oleh seorang pengendara motor. Proses selanjutnya ialah saat menafsirkannya, misalnya, bahwa bendera itu menandakan bahwa ada orang yang meninggal dan si pemegang bendera hendak mengantar si jenazah ke pekuburan (I). Pada saat tanda (bendera berwarna kuning) ini masih dalam tataran antara R dan O, maka tanda itu masih menunjukkan identitas (dasar: identitas). Inilah nanti yang disebut dengan ikon. Selanjutnya, bila dalam kognisi pemakai tanda itu, ia menafsirkan bahwa bendera kuning adalah simbol ada kematian maka tanda seperti itu disebut lambang, yaitu hubungan antara R dan O bersifat konvensional (seseorang harus memahami konvensi tentang hubungan antara bendera berwarna kuning dengan “kematian” Bagi Peirce, makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. Jadi, suatu tanda mengacu pada suatu acuan, dan representasi seperti itu menjadi fungsi utamanya.

AGAR KAU TAK DIREMEHKAN

ada tiga hal yang membuat dirimu tidak bisa diremehkan orang lain. pertama: Buatlah karyamu dan prestasimu begitu Besar sehingga tidak mungkin orang lain bakal mengabaikannya; Kedua : tunjukkan kemampuan dan keahlianmu yang begitu luar biasa sehingga orang lain tidak mungkin menyepelekan dan tidak melibatkanmu dalam bidang atau keahlianmu yang kau kuasai. Ketiga: jadikan prominence atau kehadiranmu di tempat kerja, di kampus atau dimanapun di tengah orang lain begitu luar biasa dan meyakinkan sehingga tak mungkin kehadiranmu disepelekan atau disingkirkan begitu saja

Thursday, August 14, 2008

MY PRECIOUS WIFE

Sunday, August 03, 2008

sang jurnalis

KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL

Luckman dalam buku The Social Of Construction Reality . Realitas menurut Berger tidak di bentuk secara ilmiah. Tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi dibentuk dan di konstruksi. Dengan pemahaman ini realitas berwujud ganda/prural. Setiap orang mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas, berdasarkan pengalaman, preferensi, pendidikan dan lingkungan sosial, yang dimiliki masing-masing individu. Lebih lanjut gagasan Berger mengenai konteks berita harus dipandang sebagai konstruksi atas realitas. Karenanya sangat potensial terjadi peristiwa yang sama dikonstruksi secara berbeda. Setiap wartawan mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda atas suatu peristiwa. Hal ini dapat dilihat bagaimana wartawan mengonstruksi peristiwa dalam pemberitaannya. Berita dalam pandangan konstruksi sosial bukan merupakan fakta yang riil. Berita adalah produk interaksi wartawan dengan fakta. Realitas sosial tidak begitu saja menjadi berita tetapi melalui proses. Diantaranya proses internalisasi dimana wartawan dilanda oleh realitas yang ia amati dan diserap dalam kesadarannya. Kemudian proses selanjutnya adalah eksternalisasi. Dalam proses ini wartawan menceburkan diri dalam memaknai realitas. Hasil dari berita adalah produk dari proses interaksi dan dialektika ini. Konstruksi realitas terbentuk bukan hanya dari cara wartawan memandang realitas tapi kehidupan politik tempat media itu berada. Sistem politik yang diterapkan sebuah negara ikut menentukan mekanisme kerja media massa negara itu mempengaruhi cara media massa tersebut mengonstruksi reallitas. Menurut Hamad, karena sifat dan faktanya bahwa tugas redaksional media massa adalah menceritakan peristiwa-peristiwa, maka tidak berlebihan bahwa seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan. Pembangunan konstruksi realitas pada masing-masing media berbeda, walaupun realitas faktanya sama. Hal mengonstruksikan realitas fakta ini tergantung pada kebijakan redaksional yang dilandasi pada politik media itu. Salah satu cara yang bisa dipahami atau digunakan untuk menangkap cara masing-masing media membangun sebuah realitas berita adalah dengan framing. Menurut Eriyanto, terdapat dua penekanan karakteristik penting pada pembuatan konstruksi realitas. Pertama, pendekatan konstruksionis menekankan bagaimana politik pemaknaan dan bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas politik. Makna bukanlah sesuatu yang absolut, konsep statik yang ditemukan dalam suatu pesan. Makna adalah suatu proses aktif yang ditafsirkan seseorang dalam suatu pesan. Kedua, pendekatan konstruksionis memandang kegiatan konstruksi sebagai proses yang terus menerus dan dinamis. Kedua karakteristik ini menekankan bagaimana politik pemaknaan dan bagaimana cara makna tersebut ditampilkan, sebab dalam penekanan tersebut produksi pesan tidak dipandang sebagai “mirror reality“ yang hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya. Dalam konstruksi realitas, bahasa merupakan unsur utama. Ia merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita ataupun ilmu pengetahuan tanpa ada bahasa. Dalam media massa, keberadaan bahasa tidak lagi sebagai alat semata untuk menggambarkan realitas, melainkan bisa menentukan gambaran (citra) yang akan muncul di benak khalayak. Bahasa yang dipakai media, ternyata mampu mempengaruhi cara melafalkan (pronounciation), tata bahasa (grammar), susunan kalimat (syntax), perluasan dan modifikasi perbendaharaan kata, dan akhirnya mengubah dan atau mengembangkan percakapan (speech), bahasa (language) dan makna (meaning). Menurut De Fleur dan Ball-Rokeach, ada berbagai cara media massa mempengaruhi bahasa dan makna, antara lain : mengembangkan kata-kata baku beserta makna asosiasinya; memperluas makna dan istilah-istilah yang ada; mengganti makna lama serta istilah dengan makna baru; serta memantapkan konvensi makna yang telah ada dalam suatu sistem bahasa. Dengan begitu, penggunaan bahasa tertentu jelas berimplikasi terhadap kemunculan makna tertentu. Pilihan kata dan cara penyajian suatu realitas turut menentukan bentuk konstruksi realitas yang sekaligus menentukan makna yang muncul darinya. Sumber: Hamad, Ibnu. Agus Sudibyo. Muhammad Qodari. Kabar-Kabar Kebencian Prasangka Agama Di Media Massa. Jakarta: ISAI. 2001. Ibrahim, Idi Subandi. Hanif Suranto, Yasraf Amir Pialang. Wanita Dan Media: Pemberitaan Isu Pelecehan Dan Kekerasan Seksual Dalam Surat Kabar Indonesia. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1998. Mc Quail, Denis. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga. 1996. ----------------------- and Sven Windahl,. Communication Models: For The Study Of Mass Communication. Newyork: Longman Publishing. 1993. Masduki. Jurnalistik RadioYogyakarta: LkiS. 2001. Nugroho, Bimo. Eriyanto. F. Surdias. Poltik Media Mengemas Berita. Jakarta: ISAI. 1999. Rakhmat, Jalaluddin. Metode Komunikasi Sosial. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2000. Shoemaker, Pamela J. dan Reese, Stephen D. Mediating The Message: Theories of Influence on Mass Media Content. New York and London: Longman Publishing Group. 1991. Siregar, Ashadi. Rondang Pasaribu. Ismay Prihastuti. Eksplorasi Gender Di Ranah Jurnalisme. Yogyakarta: LP3Y. 2002. Sobur, Alex. Analisis Teks Media. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2002.

Uses and Gratifications Approach

explaining of media use History and Orientation Originated in the 1970s as a reaction to traditional mass communication research emphasizing the sender and the message. Stressing the active audience and user instead. Psychological orientation taking needs, motives and gratifications of media users as the main point of departure. Core Assumptions and Statements Core: Uses and gratifications theory attempts to explain the uses and functions of the media for individuals, groups, and society in general. There are three objectives in developing uses and gratifications theory: 1) to explain how individuals use mass communication to gratify their needs. “What do people do with the media”. 2) to discover underlying motives for individuals’ media use. 3) to identify the positive and the negative consequences of individual media use. At the core of uses and gratifications theory lies the assumption that audience members actively seek out the mass media to satisfy individual needs. Statement: A medium will be used more when the existing motives to use the medium leads to more satisfaction. Favorite Methods Qualitative and quantitative questionnaires and observations among individual users of media. Demographics, usage patterns, rating scales of needs, motivation and gratification Scope and Application Scope: the acceptance and use of new and old media and media content according to the needs of the users/receivers. Application: all users and receivers research; adopting innovations. Example Leung, L. & Wei, R. (2000). More than just talk on the move: Uses and Gratifications of the Cellular Phone, Journalism & Mass Communication Quarterly, 77(2), 308-320. Mobility, immediacy and instrumentality are found to be the strongest instrumental motives in predicting the use of cellular phones, followed by intrinsic factors such as affection/sociability. Based on survey research in Hong Kong 1999. References Overview Boer, C. de & S. Brennecke (1999/2003). De Uses and Gratifications benadering. In: Boer, C. de & S. Brennecke, Media en publiek, Theorieën over media-impact (97-115). Amsterdam: Boom. McQuail, D. (2001). With More Handsight: Conceptual Problems and Some Ways Forward for Media Use Research. Communications, 26(4), 337-350.

Cultivation Theory

television shapes concepts of social reality History and Orientation With the decline of hypodermic needle theories a new perspective began to emerge: the stalagmite theories. Black et. al. used the metaphor of stalagmite theories to suggest that media effects occur analogously to the slow buildup of formations on cave floors, which take their interesting forms after eons of the steady dripping of limewater from the cave ceilings above. One of the most popular theories that fits this perspective is cultivation theory. Cultivation theory (sometimes referred to as the cultivation hypothesis or cultivation analysis) was an approach developed by Professor George Gerbner, dean of the Annenberg School of Communications at the University of Pennsylvania. He began the 'Cultural Indicators' research project in the mid-1960s, to study whether and how watching television may influence viewers' ideas of what the everyday world is like. Cultivation research is in the 'effects' tradition. Cultivation theorists argue that television has long-term effects which are small, gradual, indirect but cumulative and significant. Core Assumptions and Statements Cultivation theory in its most basic form, suggests that television is responsible for shaping, or ‘cultivating’ viewers’ conceptions of social reality. The combined effect of massive television exposure by viewers over time subtly shapes the perception of social reality for individuals and, ultimately, for our culture as a whole. Gerbner argues that the mass media cultivate attitudes and values which are already present in a culture: the media maintain and propagate these values amongst members of a culture, thus binding it together. He has argued that television tends to cultivate middle-of-the- road political perspectives. Gerbner called this effect ‘mainstreaming’. Cultivation theorists distinguish between ‘first order’ effects (general beliefs about the everyday world, such as about the prevalence of violence) and ‘second order’ effects (specific attitudes, such as to law and order or to personal safety). There is also a distinction between two groups of television viewers: the heavy viewers and the light viewers. The focus is on ‘heavy viewers’. People who watch a lot of television are likely to be more influenced by the ways in which the world is framed by television programs than are individuals who watch less, especially regarding topics of which the viewer has little first-hand experience. Light viewers may have more sources of information than heavy viewers. ‘Resonance’ describes the intensified effect on the audience when what people see on television is what they have experienced in life. This double dose of the televised message tends to amplify the cultivation effect. Favorite Methods Cultivation analysis usually involves the correlation of data from content analysis (identifying prevailing images on television) with survey data from audience research (to assess any influence of such images on the attitudes of viewers). Audience research by cultivation theorists involves asking large-scale public opinion poll organizations to include in their national surveys questions regarding such issues as the amount of violence in everyday life. Answers are interpreted as reflecting either the world of television or that of everyday life. The answers are then related to the amount of television watched, other media habits and demographic data such as sex, age, income and education. Scope and Application Cultivation research looks at the mass media as a socializing agent and investigates whether television viewers come to believe the television version of reality the more they watch it. Example In a survey of about 450 New Jersey schoolchildren, 73 percent of heavy viewers compared to 62 percent of light viewers gave the TV answer to a question asking them to estimate the number of people involved in violence in a typical week. The same survey showed that children who were heavy viewers were more fearful about walking alone in a city at night. They also overestimated the number of people who commit serious crimes. This effect is called ‘mean world syndrome’. One controlled experiment addressed the issue of cause and effect, manipulating the viewing of American college students to create heavy- and light-viewing groups. After 6 weeks of controlled viewing, heavy viewers of action-adventure programs were indeed found to be more fearful of life in the everyday world than were light viewers. References Key publications Boyd-Barrett, Oliver & Peter Braham (Eds.) (1987). Media, Knowledge & Power. London: Croom Helm. Condry, John (1989). The Psychology of Television. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum. Dominick, Joseph R. (1990). The Dynamics of Mass Communication. New York: McGraw-Hill. Evra, Judith van (1990). Television and Child Development. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum. Gerbner, G., & Gross, L. (1976a). Living with television: The violence profile. Journal of Communication, 26, 172-199.

Saturday, August 02, 2008

Cognitive Dissonance theory

Attitude formation and change. History and Orientation Leon Festinger (1951) synthesized a set of studies to distill a theory about communication’s social influences. Cognitive dissonance enjoyed great popularity from the late 1950s through the mid-1970s. Theoretical problems and conflicting findings lead to temporary replacement by similar “self” theories in the early 1980s, but cognitive dissonance regained its place as the umbrella theory for selective exposure to communication by the late 1980s. Core Assumptions and Statements Cognitive dissonance is a communication theory adopted from social psychology. The title gives the concept: cognitive is thinking or the mind; and dissonance is inconsistency or conflict. Cognitive dissonance is the psychological conflict from holding two or more incompatible beliefs simultaneously. Cognitive dissonance is a relatively straightforward social psychology theory that has enjoyed wide acceptance in a variety of disciplines including communication. The theory replaces previous conditioning or reinforcement theories by viewing individuals as more purposeful decision makers; they strive for balance in their beliefs. If presented with decisions or information that create dissonance, they use dissonance-reduction strategies tot regain equilibrium, especially if the dissonance affects their self-esteem. The theory suggests that 1) dissonance is psychologically uncomfortable enough to motivate people to achieve consonance, and 2) in a state of dissonance, people will avoid information and situations that might increase the dissonance. How dissonance arises is easy to imagine: It may be unavoidable in an information rich-society. How people deal with it is more difficult. Scope and Application Dissonance theory applies to all situations involving attitude formation and change. This theory is able to manipulate people into certain behavior, by doing so these people will alter their attitudes themselves. It is especially relevant to decision-making and problem-solving. Example Consider a driver who refuses to use a seat belt despite knowing that the law requires it, and it saves lives. Then a news report or a friend’s car incident stunts the scofflaw into facing reality. Dissonance may be reduced by 1) altering behavior… start using a seat belt so the behavior is consonant with knowing that doing so is smart or 2) seeking information that is consonant with the behavior… air bags are safer than seat belts. If the driver never faces a situation that threatens the decision not to use seat belts, then no dissonance-reduction action is likely because the impetus to reduce dissonance depends on the magnitude of the dissonance held. References Key publications Aronson, E., Fried, C. & Stone, J. (1991). Overcoming denial and increasing the intention to use condoms through the induction of hypocrisy. American Journal of Public Health, 81, 1636-1638. Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford, CA: Stanford University Press. Festinger, L & Carlsmith, J.M. (1959). “Cognitive consequences of forces compliance,” Journal of Abnormal and Social Psychology 58 (2):203-210

Theory of Planned Behavior/ Reasoned Action

Explaining human behavior. History and Orientation Ajzen and Fishbein formulated in 1980 the theory of reasoned action (TRA). This resulted from attitude research from the Expectancy Value Models. Ajzen and Fishbein formulated the TRA after trying to estimate the discrepancy between attitude and behavior. This TRA was related to voluntary behavior. Later on behavior appeared not to be 100% voluntary and under control, this resulted in the addition of perceived behavioral control. With this addition the theory was called the theory of planned behavior (TpB). The theory of planned behavior is a theory which predicts deliberate behavior, because behavior can be deliberative and planned. Core Assumptions and Statements Theory of Reasoned Action suggests that a person's behavior is determined by his/her intention to perform the behavior and that this intention is, in turn, a function of his/her attitude toward the behavior and his/her subjective norm. The best predictor of behavior is intention. Intention is the cognitive representation of a person's readiness to perform a given behavior, and it is considered to be the immediate antecedent of behavior. This intention is determined by three things: their attitude toward the specific behavior, their subjective norms and their perceived behavioral control. The theory of planned behavior holds that only specific attitudes toward the behavior in question can be expected to predict that behavior. In addition to measuring attitudes toward the behavior, we also need to measure people’s subjective norms – their beliefs about how people they care about will view the behavior in question. To predict someone’s intentions, knowing these beliefs can be as important as knowing the person’s attitudes. Finally, perceived behavioral control influences intentions. Perceived behavioral control refers to people's perceptions of their ability to perform a given behavior. These predictors lead to intention. A general rule, the more favorable the attitude and the subjective norm, and the greater the perceived control the stronger should the person’s intention to perform the behavior in question. Scope and Application Provide useful information for the development of communication strategies. This theory is also used in evaluation studies. Other usages of the model include: voting behavior, disease prevention behavior, birth control behavior (Jaccard & Davidson, 1972), consumption prediction. Example Examples of items which can be researched with the theory of planned behavior are whether to wear a seat belt, whether to check oneself for disease and whether to use condoms when having sex. References Key publications Aronson, E., Wilson, T.D. & Akert, R.M. (2003). Social Psychology. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. Ajzen, I. (1985). From intentions to actions: A theory of planned behavior. In J. Kuhl & J. Beckman (Eds.), Action-control: From cognition to behavior (pp. 11-39). Heidelberg: Springer. Ajzen, I. (1987). Attitudes, traits, and actions: Dispositional prediction of behavior in personality and social psychology. In L. Berkowitz (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 20, pp. 1-63). New York: Academic Press.

Interpretative and Interaction Theories

all communication is based on meaning and interaction The interpretative and interaction approach are a collection of many theories. Communication is seen an exchange of people who act with communication and interpret their real situation and form the situation and the self with interaction. These theories also describe what people do with the media. Communication must be framed in a social and cultural context. See for example: Symbolic Interaction and Coordinated Management of Meaning Core Assumptions and Statements Paul Watzlawick's Interactional View deals with interpersonal communication. His theory has five axioms that explain his view. Axiom 1: One cannot not communicate: This axiom basically says that even if you are not actually talking, or perhaps not doing anything, you are still communicating. Nonverbals are a huge part of communication. Even if you are attempting to avoid speaking, you are still expressing nonverbals. Examples could be facial expressions, the way you are sitting, or your silence in general. Axiom 2: Human beings communicate both digitally and analogically: Analogical communication "represents things by likeness" (Griffin, 1997). Nonverbal communication, for example, is classified as anological by Watzlawick. Digital communication "refers to things by name" (Griffin 170). Language is considered to be digital. Axiom 3: Communication = Content + Relationship: Content is "what" is actually said, while relationship is "how" it is said (Griffin, 1997). A few quick examples can make the distinction between content and relationship more clear. If content is what is said, then relationship is how it is said. If content is computer data, then relationship is the computer program. Basically, the content and relationship make up a communication sequence. Axiom 4: The nature of the relationship depends on how both parties punctuate the communication sequence: This axiom describes how each person perceives, or punctuates, a communication sequence. An example can help to clarify. Let's say that you have a conversation with a roommate. The conversation makes you upset, but you do not tell him or her your feelings. The next time that you see your roommate, you are cold to him or her. Your roommate then realizes that you are upset about something. You have punctuated your feelings during the original conversation. However, your roommate thinks that you have recently become upset. Axiom 5: All communication is either Symmetrical or Complementary: According to Watzlawick, symmetrical communication is "communication based on equal power." Complementary communication is "based on differences in power" (Griffin, 1997). A healthy relationship will have both types of power. Too much of one type of power can lead to possible conflicts. Watzlawick (1974) refers to the relational aspect of interaction as “metacommunication”. It is communication about communication. This is how I see myself, this is how I see you, this is how I see you seeing me. The interactional view holds that there is no way to label a relationship on the basis of a single verbal statement. Interaction requires a sequence of two messages- a statement form one person, and a response from the other. References Key publications Watzlawick, P., Weakland, J.H., Fisch, R. (1974). Changing a system. Change, W.W. Norton, New York. Griffin, E. (1997). A first look at Communication Theory. New York: The McGraw-Hill Companies.

Attribution Theory

History and Orientation Heider (1958) was the first to propose a psychological theory of attribution, but Weiner and colleagues (e.g., Jones et al, 1972; Weiner, 1974, 1986) developed a theoretical framework that has become a major research paradigm of social psychology. Heider discussed what he called “naïve” or “commonsense” psychology. In his view, people were like amateur scientists, trying to understand other people’s behavior by piecing together information until they arrived at a reasonable explanation or cause. Core Assumptions and Statements Attribution theory is concerned with how individuals interpret events and how this relates to their thinking and behavior. Attribution theory assumes that people try to determine why people do what they do. A person seeking to understand why another person did something may attribute one or more causes to that behavior. According to Heider a person can make two attributions 1) internal attribution, the inference that a person is behaving in a certain way because of something about the person, such as attitude, character or personality. 2) external attribution, the inference that a person is behaving a certain way because of something about the situation he or she is in. Our attributions are also significantly driven by our emotional and motivational drives. Blaming other people and avoiding personal recrimination are very real self-serving attributions. We will also make attributions to defend what we perceive as attacks. We will point to injustice in an unfair world. We will even tend to blame victims (of us and of others) for their fate as we seek to distance ourselves from thoughts of suffering the same plight. We will also tend to ascribe less variability to other people than ourselves, seeing ourselves as more multifaceted and less predictable than others. This may well because we can see more of what is inside ourselves (and spend more time doing this). Attribution theory has been used to explain the difference in motivation between high and low achievers. According to attribution theory, high achievers will approach rather than avoid tasks related to succeeding, because they believe success is due to high ability and effort which they are confident of. Failure is thought to be caused by bad luck or a poor exam and is not their fault. Thus, failure doesn't affect their self-esteem but success builds pride and confidence. On the other hand, low achievers avoid success-related chores because they tend to (a) doubt their ability and/or (b) assume success is related to luck or to "who you know" or to other factors beyond their control. Thus, even when successful, it isn't as rewarding to the low achiever because he/she doesn't feel responsible, it doesn't increase his/her pride and confidence. Example If, for example, a runner had already been expending high effort, but had failed to reach a race final, then encouraging him to attribute the failure to lack of effort might simply demoralise him (see, e.g. [Robinson, 1990). If the qualifying standard were simply too difficult to meet, then encouraging attributions to lack of effort might serve little purpose, because increasing effort would probably do little to improve outcomes. If the wrong race strategy were used, then increasing effort would not logically lead to improved outcomes, if the same strategy were used in future. Key publications Aronson, E., Wilson, T.D. & Akert, R.M. (2003). Social Psychology. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. Daly, Dennis. (1996). Attribution Theory and the Glass Ceiling: Career Development Among Federal Employees. Public Administration & Management: An interactive Journal [http://www.hbg.psu.edu/faculty/jxr11/glass1sp.html] Heider, F. (1958). The Psychology of Interpersonal Relations. New York: Wiley. Jones, E. E., D. E. Kannouse, H. H. Kelley, R. E. Nisbett, S. Valins, and B. Weiner, Eds. (1972). Attribution: Perceiving the Causes of Behavior. Morristown, NJ: General Learning Press. Harvey, J.H. & Weary, G. (1985). Attribution: Basic Issues and Applications, Academic Press, San Diego. Lewis, F. M. and Daltroy, L. H. (1990). "How Causal Explanations Influence Health Behavior: Attribution Theory." In Glanz, K., Lewis, F.M. and Rimer, B.K. (eds.) Health Education and Health Behavior: Theory , Research. and Practice. San Francisco, CA: Jossey-Bass Publishers, Inc

SEJARAH TEORI KOMUNIKASI

Setelah Teori komunikasi dirumuskan Laswell, akhirnya penelitian tentang komunikasi pun banyak dilakukan orang, diantaranya Paul Lazarsfeld (pada tahun yang sama, 1948) yang melakukan penelitian tentang pengaruh dari komunikasi, apakah media massa berpenagurh dalam mengubah pilihan orang dalam kampanye Pemilu, dan sejenisnya. Pada tahun 1950-an, Teori Komunikasi pun berkembang. Wilbur Schramm memperkenalkan Teori Peluru atau “The Bullet Theory Of Communication”. Secara simpel, teori itu menyatakan bahwa komunikasi merupakan peluru yang dapat ditembakkan pada pendengar/penerima komunikasi (pendengar/penerima bersifat pasif). Namun, Schramm merevisi teori itu pada tahun 1970-an bahwa pendengar/penerima komunikasi itu tidak pasif. Pada tahun 1960-an, Marshall MC Luhan dalam bukunya “Understanding Media” (1964) memperkenalkan teori “The Medium Is The Massage”. Artinya medium menentukan bentuk pesan/massage. Mc Luhan mengibaratkan dengan cahaya listrik, cahaya listrik untuk menerangi operasi bedah otakdi rumah sakit akan berbeda dengan cahaya listrik untuk menerangi pertandingan sepakbola. Dengan konsep ini, Mc Luhan menegaskan bahwa komunikasi akan mencapai sasarn jika sesuai dengan situasi atau kondisi dari penrima komunikasi, bahkan komunikasi akan percuma jika penerima komunikasi itu sendiri tidak ada. Jadi, komunikasi itu ditentukan penerima komunikasi. Pada tahun 1970-an, Everett M Rogers memperkenalkan Teori “Homophily – Heterophily” yang berati komunikasi harus dilihat dari sudut kejiwaan dua unsur komunikasi yaitu komunikator (Siapa yang bicara) dan komunikan (Kepada siapa ditujukan). Unsur kejiwaan yang dimaksud terangkum dalam Homophily dan Heterophily. Homophily sendiri berarti derajat kesamaan (pendidikan, satus sosial, kepercayaan, nilai dan sebagainya), sedangkan Heterophily berarti derajat ketidaksamaan (pendidikan, satus sosial, kepercayaan, nilai dan sebagainya). Jadi, jika Homophily ada maka komunikasi akan efektif, tapi jika Heterophily ada maka komunikasi tidak akan efektif kecuali jika komunikasi punya Emphatic Ability (kemampuan komunikator untuk merasakan apa yang dirasakan komunikan). Pada tahun 1980-an Teori Komunikasi tidak ada yang baru, tapi ada dua studi tentang Efek (dampak/pengaruh komunikasi) sehubungan dengan semakin canggihnya komunikasi massa. Dua studi tentang efek adalah: a.Agenda Setting. •kajian ini berkaitan dengan pemilihan Presiden AS pada tahun 1976 (menjelang pemilihan). •Davis H Heaver (1981) menjelaskan bahwa media komunikasi itu tidak merefleksikan kenyataan tapi menyaring lalu membentuknya seperti halnya keleidoskop membentuk cahaya. b.Uses And Gratification •Kajian ini sebenarnya sudah pernah dilakukan pada tahun 1940-an dan 1950-an, misalnya mengapa masyarakat memilih program tertentu dari siaran radio? Namun, kajian saat itu tidak melahirkan sebuah studi yang serius. •Kajian yang dikenalkan Heaver pada tahun 1981 ini berasumsi pada empat asumsi: (1) Penggunaan media terarah pada satu tujuan, (2) Khalayak memilih media dan jenis media.(3) Ada sumber non-media yang menjadi pesaing media (keluarga, teman dan sebagainya).(4) Khalayak sadar akan kebutuhan yang dikehendakinya. Dari Teori Komunikasi tersebut di atas, maka Proses komunikasi secara simpel adalah: ”komunikasi merupakan proses penyampaian lambang dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan agar dimengerti atau mengubah perilaku”. Proses komunikasi itu juga menjelaskan adanya Lima Unsur dalam komunikasi: 1. komunikator – penyampaian komunikasi. 2. Komunikan – penerima komunikasi . 3. Pesan – berupa lambang komunikasi, gagasan/ide. 4. Media – berupa sarana penyampaian gagasan. 5. Efek – berupa tujuan komunikasi (dimengerti/merubah prilaku) ( dari sumber internet)

MENGENAL RETORIKA

Retorika sebagai sebuah ilmu bicara, hingga kini masih dipandang sepele dan dianggap hanya kegiatan yang tidak berpijak pada kebenaran, sebab retorika hanya dipandang sebagai kemampuan ‘bersilat lidah’ yang tidak berpijak pada kebenaran. Begitu juga, banyak orang keliru menganalisis seolah-olah kemajuan dunia Barat bertopang primer pada matematika, fisika atau kimia. Namun bila kita mau mendalami lagi, kita akan melihat bahwa kemampuan luar biasa Barat dalam hal ilmu-ilmu alam justru mengandalkan dan berpijak pada kultur berabad-abad pendidikan bahasa. Yang berakar pada filsafat Yunani yang bertumpu pada retorika.. Pengertian Retorika biasanya kita anggap negatif, seolah-olah retorika hanya seni propaganda saja, dengan kata-kata yang bagus bunyinya tetapi disangsikan kebenaran aslinya. Padahal arti asli retorika jauh lebih mendalam yakni pemekaran bakat-bakat tertinggi manusia, yakni rasio dan cita rasa lewat bahasa –selaku kemampuan untuk berkomunikasi dalam medan pikiran. Retorika menurut Jalaluddin Rakhmat justru bisa menjadi mata ajaran poros demi emansipasi manusia. Retorika membebaskan anda dari posisi budak, mengangkat anda menjadi tuan dan puan. Dengan senjata, para tuan dapat menguasai tanah dan negara dan dengan retorika, para pemimpin dapat menaklukkan hati dan jiwa. Sayangnya, meski Retorika bisa ‘menyemangati’ Barat, dalam sistem pendidikan Indonesia, retorika disudutkan pada pojok kecil di Fakultas sastra dan pojok lebih kecil lagi di Fakultas Ilmu Komunikasi. Ini amat terkait dengan masih ‘negatifnya’ pandangan kita terhadap Retorika. Padahal di Amerika Serikat, Jalaluddin Rakhmat bahkan melihat ‘kebesaran’ retorika. Pada tingkat undergrad, retorika diajarkan sebagai kuliah wajib untuk mahasiswa jurusan apapun. Pada tingkat Pascasarjana, setiap mahasiswa harus melakukan presentasi dan presentasi amat membutuhkan kemampuan retorika. Tapi kata ‘retorika’ sendiri di Amerika sudah mendapat nama baru ‘Speech communication’ terkadang lebih dikenal sebagai ‘public Speaking’. ( dari sumber sebelah)

TIPS MENULIS FEATURE

Selain keterampilan memberikan laporan yang bersifat hardnews, seorang jurnalis sebaiknya memiliki kemampuan membuat feature. Jika dalam menyusun laporan yang sifatnya lugas, prinsip 5W 1H menonjol, maka dalam laporan bersifat feature kaidah itu tidak selalu pas.

Berita lebih menekankan kepada angle yang disesuaikan dengan kebijakan editorial, maka laporan yang bersifat feature lebih dalam lagi. Seorang wartawan yang menyusun sebuah feature biasanya memiliki pemahaman yang kuat terhadap kebijakan editorial sebuah surat kabar atau majalah atau media elektronik.

Berita kebakaran misalnya. Dengan mengandalkan prinsip 5W 1 H maka seorang jurnalis tinggal melihat mana angle yang tepat. Apakah dia akan mengangkat gedungnya yang terbakar karena museum? Atau apakah dia akan mengangkat soal korbannya karena dari satu rumah jompo semuanya meninggal dilalap api. Setiap jurnalis akan berbeda dalam mengangkat lead beritanya.

Feature berbeda dengan berita biasa. Di dalam penulisan feature faktor manusiawi lebih menonjol dibandingkan berita yang sifatnya lugas. Berita yang sudah terlambat tetapi layak diangkat lagi, misalnya tingkat pembunuhan di Jakarta, bisa menjadi feature menarik akhir pekan misalnya berdasarkan sedikit riset.

Untuk menulis feature ada beberapa hal penting.

1. Feature menekankan aspek penyajian yang menyentuh hati, bukan hanya informasi. Sebuah feature yang baik adalah laporan yang disusun berdasarkan konsep untuk memperkuat appeal terhadap pembaca. Nasib naas seorang pemulung yang meninggal ditabrak mobil mewah dimana ternyata dia meninggalkan keluarga dengan anak lima, misalnya, akan menyentuh pembaca untuk membantu keluarga yang ditinggalkannya. Sentuhan terhadap perasaan pembaca ini bisa dimulai dari kalimat pertama. Misalnya, canda dan tawa dua anak dari korban tabrakan itu seolah melupakan duka ayahnya yang tidak bisa ditemui lagi esok harinya. Sudut pandang penulis melihat nasib keluarganya ditambah data statisik mengenai jasa pemulung membersihkan kota Jakarta, contohnya, membuat feature itu akan menarik.

2. Sajikan fakta-fakta yang kuat. Anda tidak hanya harus membuat feature dengan menyentuh tetapi buatlah fakta dalam konteks yang kuat. Seorang pemulung yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas bisa diangkat sebagai masalah ketidakberdayaan kaum papa di jalan. Berapa korban tabrakan di Jakarta per bulan atau per tahun ? Feature akan memiliki nilai tinggi, meskipun dirangkum dalam dua kalimat. Atau bisa pula berapa pemulung di Jakarta menurut taksiran. Angka-angka akan memperkuat bobot feature.

3. Selain menempatkan kasus dalam konteks lebih luas, feature juga sebaiknya penuh dengan warna. Percakapan, cerita dan penuturan yang mengalir merupakan kunci penting menuangkan sebuah karya jurnalistik dalam bentuk feature. Dalam kasus pemulung yang meninggal tadi, jika penulisnya turun ke jalan berbincang dengan keluarga dan kerabat serta rekan-rekannya, maka percakapan itu akan berarti banyak dalam mengekspresikan kesedihan mereka. Si pemulung yang meninggal misalnya seorang yang jujur dan sopan. Dia tidak pernah ceroboh di jalan. Beberapa kalimat dari lokasi kejadian akan meningkatkan kualitas feature.

4. Selain membuka dengan kalimat yang menyedot pembaca masuk ke dalam, jalinlah ceritanya untuk tetap mendorong pembacanya mengikuti sampai akhir. Dengan menuliskan feature mengikuti kaidah cerita maka pembaca dihadapkan pada sebuah kisah kehidupan yang nyata tetapi berwarna di dalamnya. Pembuka yang kuat ditambah dengan tubuh feature yang berwarna disertai penutup yang mengguncangkan pembacanya akan memberikan daya tarik tersendiri feature Anda. Tidak perlu seorang jurnalist menuangkan dengan kata-kata yang superlatif, cukup menulis fakta, menyampaikan ekspresi keluarga dan kerabat korban dan diakhiri dengan beratnya perjuangan hidup pemulung di tengah bahaya lalu lintas, akan menjadikan feature tersebut layak dibaca tuntas. (source: http://www.journalist-adventure.com)

Saturday, July 26, 2008

AKHIRNYA MASUK S3 UI KOMUNIKASI

ALHAMDULLILAH...... akhirnya aku diterima di S3 Komunikasi Universitas Indonesia. setelah sempat jatuh bangun, deg-degan dan repot saat ujian TPA dan English yang lumayaan susahnya. tadi tepat tanggal 26 Juli 2008 jam 00:00 aku buka alamat http://penerimaan.ui.edu/pengumuman-hasil-ujian dan aku ketik nomor ujianku yakni 2008180351 keluar informasi :
Nomor Ujian
2008180351
Nama Peserta
J.Indiwan Seto Wahju Wibowo

Selamat, Anda diterima di:

Fakultas
ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK-S3
Program Studi
Ilmu Komunikasi
Nomor Pokok Mahasiswa (NPM) Anda
NPM dapat dilihat pada hari Senin, 28 Juli 2008 jam 18.00 di alamat yang sama (http://penerimaan.ui.edu/pengumuman-hasil-ujian).

Tuesday, July 22, 2008

kelas investigative reporting LSPR

Thursday, May 29, 2008

INI DIA DOSEN GAUL LONDON SCHOOL

Saturday, May 24, 2008

STAF PELATIHAN JURNALISTIK SIAP BANTU

Sesaat aku santai bersama orang-orang hebat di Departemen Usaha Pendidikan Jurnalistik Antara. Meskipun orangnya humble dan berjumlah sedikit kita kompak akan terus melayani segala kebutuhan pelatihan anda. Mulai dengan pelatihan jurnalistik, pelatihan Fotografi jurnalistik, paket calon wartawan, public relations dan pelatihan semiotika dan framing untuk mahasiswa Komunikasi yang tengah membuat skripsi

UBM IN ACTION

Foto bareng Bos ANTARA. Suatu hari yang cerah di hari Rabu pertengahan Mei, sekitar 45 mahasiswa dari Universitas Bunda Mulia berkunjung ke Redaksi LKBN ANTARA untuk melihat dari dekat bagaimana sebuah cerita hebat dicetak, bagaimana sebuah berita disiarkan ke manca negara. Kemudian setelah berbincang-bincang dengan Dr Rajab Ritonga ( Direktur Umum dan PSDM) Antara, mahasiswa foto bareng di salah satu ruangan Antara. Dimana sang dosen gaul? yah pasti ikutlah!!!

KOMEDI ROMANTIS YANG BIKIN TERBAHAK-BAHAK

oleh Nadya (peserta Pelatihan Paket Calon Wartawan ) Bagi anda pecinta film komedi romantis, film otomatis Romantis bisa menjadi salah satu film yang dapat dinikmati kala heng out bersama teman-teman. Dengan dibintangi oleh Tora Sudiro, Marsya Timothy, Pok Atik, Tukul Arwana, Chintami, Tarzan dan pemain-pemain lainnya, tak ada salahnya film ini di tonton sebagai hiburan di akhir pekan anda. Dibintangi oleh Marsya (Nadia) ini bercerita tentang seorang wanita karir yang sukses di usia 29 tahun, menduduki posisi sebagai pemimpin redaksi di sebuah majalah wanita dewasa, namun belum memiliki pasangan. Dan tentang Bambang (Tora Sudiro ) seorang pegawai rendahan lugu yang bekerja sebagai staf administrasi di kantor yang dipimpin oleh Nadia. Dimulai pada saat jam weker menunjukan pukul 6.30 pagi, hari itu nadia berulang tahun ke 29 , keluarganya memberi kejutan. Namun, setelah itu ayahnya (Tarzan) memberikan berbagai wejangan tentang kekhawatiran orang tuanya terhadap anak gadis ke-2 nya itu. “ Ndok, kamu mbok ya kamu jangan melajang terus, kalo istilah di sepak bola, bisa-bisa kamu turun divisi, alias jadi prawan tua”. Nadia di perankan sebagai seorang bos yang bersikap judes, galak, dan kaku , hingga tak jarang sekretaris tuanya yang centil Joyce (pok atik) kena imbas kekesalannya. Tidak hanya joyce yang sering kena imbas, tetapi juga tim kreatif majalah tersebut yang diketuainya. Bambang di perankan sebagai seorang adik yang dibesarkan oleh kakaknya tresno, yang hoby judi dan sering membodohi dan menjual barang-barang adiknya. Bambang yang berasal dari jogja karta awalnya adalah seorang reporter majalah tani. Suatu saat, dikala model yang dibutuhkan untuk pemotretan majalahnya sebagai klien di butik ternama tidak dapat hadir, tiba-tiba saja Bambang yang bekerja di bagian administrasi majalah tersebut lewat, dengan porsi tubuh yang keren dan proporsional, walaupun hanya sebagai pegawai rendahan, ia akhirnya di pakai sebagai model pengganti. Lalu hasilnya di laporkan kepada pimpinan redaksi (Nadia), pada saat di tujukan foto-foto tersebut, nadia senang sekali karena hasilnya memuaskan, namun setelah mengetahui kalau model itu bambang, si bos pun marah besar. “” Bagus sih bagus, tapi jangan pakai model dari kelas tukang becak dong!!”, sambil melempar foto-foto tersebut, bersamaan dengan itu, bamabang pun masuk dan melihat kejadian itu”. Lain halnya nadia yang belum juga menikah, Nabila ( Wulan Guritno) kakak nadia telah menikah dan sudah memiliki seorang anak, namun, belum lama pernikahannya dia sudah ingin bercerai dengan suaminya dave (tukul), yang kaya raya namun bertampang seadanya . Dave diperankan sebagai seorang yang kaya raya, sok cakep, ndeso, dan sok cakep. Saat ingin rujuk dengan Nabila yang dikatakan untuk merayu Nabila adalah “ Apakah kamu tidak menyesal kehilangan pri sedahsyat saya”. Cerita ini merupakan cerita tentang percintaan antar kelas yang diselingi berbagai adegan dan dialog komedi yang sangat menghibur. Namun terdapat berbagai realitas sosial yang ada di masyarakat kita. Film ini sangat menghibur, lucu dan patut untuk di tonton mulai kalangan remaja hingga dewasa. Sudah ad aide, akhir pekan ini mau nonton apa?

KUNJUNGAN MAHASISWA DARMA PERSADA

Monday, May 12, 2008

SMS SANTET BOHONG

Handphone tidak memancarkan infra merah Handphone/ponsel tidak memancarkan radiasi infra merah pada saat menerima SMS/telepon. Berdasarkan artikel mengenai Cellular Frequencies (Wikipedia), frekuensi handphone adalah pada band 800 Mhz, 1800 Mhz, atau 1900 Mhz, sedangkan gelombang infra merah memiliki frekuensi 300 Ghz - 400 Thz. Ini jelas berbeda jauh. Lagi pula, dalam sebuah handphone yang tidak ada fasilitas komunikasi infra merah, tidak ada alat atau komponen yang dapat memancarkan infra merah. Lalu dari manakah infra merah itu berasal? Apakah aman menggunakan handphone / ponsel ? Ketika Anda mengirim/menerima SMS atau menelepon/ditelepon, handphone memancarkan gelombang elektromagnet agar dapat berkomunikasi dengan pemancar operator terdekat. Dalam jumlah yang berlebihan, radiasi ini berbahaya, namun dalam jumlah kecil, radiasi gelombang elektromagnet tidak berbahaya bagi manusia. FCC (salah satu lembaga pemerintah AS) menetapkan batas maksimal besarnya radiasi yang diperbolehkan untuk handphone atau telepon genggam. Besarnya radiasi handphone ini disebut SAR (Specific absorption rate). SAR adalah nilai maksimum radiasi yang diserap oleh tubuh per satuan berat. FCC menentukan besarnya SAR untuk handphone adalah maksimal sebesar 1.6 W/kg. Negara-negara di Eropa (European Union) menetapkan besarnya SAR maksimal adalah sebesar 2 W/kg. Handphone/ponsel yang berada di atas batas ini tidak boleh diproduksi dan diperdagangkan di negara tersebut. Anda bisa melihat daftar nilai SAR dari berbagai macam merk HP di situs FCC, klik di sini. Jika nilai SAR tinggi, maka radiasi handphone tersebut tinggi. Sepuluh handphone dengan nilai SAR paling tinggi adalah (namun masih di bawah batas ‘aman’): Motorola V195s (1.6) Motorola Slvr L6 (1.58 ) Motorola Slvr L2 (1.54) Motorola W385 (1.54) Motorola Deluxe ic902 (1.53) T-Mobile Shadow (HTC) (1.53) Motorola i335 (1.53) Samsung Sync SGH-C417 (1.51) Motorola V365 (1.51) RIM BlackBerry Curve (AT&T) (1.51) Sepuluh handphone dengan nilai SAR paling kecil (radiasi kecil) adalah: LG KG800 (0.135) Motorola Razr V3x (0.14) Nokia 9300 (0.21) Nokia N90 (0.22) Samsung SGH-G800 (0.23) Samsung Sync SGH-A707 (0.236) Nokia 7390 (0.26) Samsung SGH-T809 (0.32) Bang & Olufsen Serene (Samsung SGH-E910) (0.33) Motorola Razr2 V8 (0.36) Sampai saat ini penelitian mengenai radiasi handphone masih terus dilakukan dan kesimpulan mengenai berbahaya atau tidak masih belum final. Setidaknya kita perlu berhati-hati dengan cara (saran ini diambil dari sini): Menggunakan handsfree jika kita akan menelepon dalam waktu lama. Jauhkan handphone dari tubuh Anda. Jangan menelepon di mobil tanpa antena eksternal. Biasanya ABG remaja atau muda-mudi yang masih hot-hotnya pacaran sering sekali menggunakan handphone berjam-jam. Apalagi sekarang ada iklan kalau tarifnya murah (0.000…01 rupiah/detik). Bahkan ada yang nelpon semalaman sampai subuh sambil tiduran. Ini tidak baik karena radiasi handphone yang berlebihan dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Lihat artikel mengenai Mobile phone radiation and health (Wikipedia). Kembali ke masalah infra merah Artikel ini ditulis menyusul beredarnya SMS berantai yang bunyinya seperti ini: Kalau ada nomor handphone yang 0866 dan 0666 atau yang warna merah call masuk jangan diangkat ya, soalnya sudah ada yang mati gara-gara angkat nomor tersebut karena orang itu sedang praktek ilmu hitam. Kemudian menyusul argumen lain: menurut seorang profesor dari WHO itu memang bukan ilmu hitam, tapi sang penelepon mengirim sinar infra merah yang berlebihan ke nomor yang dituju, sehingga memang bisa mengakibatkan sang penerima tewas. Berita ini adalah salah atau hoax, karena: Pada saat menerima/mengirim SMS/telepon, handphone tidak memancarkan radiasi infra merah (seperti yang dijelaskan pada awal artikel ini). Handphone yang tidak ada fasilitas komunikasi infra merahnya, di dalamnya tidak ada alat untuk memancarkan infra merah. Handphone yang memiliki fasilitas komunikasi infra merah, infra merah tidak aktif saat mengirim atau menerima SMS/telepon dan baru aktif saat akan membuat komunikasi dengan handphone lain atau komputer dengan port infra merah. Handphone yang memiliki fasilitas komunikasi infra merah, dan dipasarkan di Indonesia, telah memenuhi standar besarnya batas maksimal radiasi yang diperbolehkan dan aman bagi manusia. Apakah infra merah berbahaya? Infra merah yang dipancarkan oleh peralatan elektronik (mouse, remote TV) yang telah memenuhi standar kesehatan (FCC) adalah tidak berbahaya. Banyak sumber infra merah lain dalam intensitas yang besar, misalnya matahari, lilin yang menyala, tidak berbahaya bagi tubuh, malah menyehatkan. Bahkan sekarang ada sauna dengan infra-merah, sehingga Anda tidak perlu repot-repot dengan uap-air panas. Terlepas dari masalah kontroversi penggunaan sauna ini, sauna dengan infra merah tidak menyebabkan sesak nafas karena menghirup uap air. Bagaimana dengan santet / ilmu hitam yang dikirim lewat SMS? Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa ilmu hitam yang dimaksud adalah sugesti negatif. Sugesti merupakan keyakinan orang yang bisa mempengaruhi tingkah laku bahkan kesehatan manusia. Jika seseorang ketakutan menerima SMS ini, bisa berakibat buruk (takut yang berlebihan, cemas) dan menggangu kesehatan orang tersebut (sulit tidur, sulit konsentrasi, pingsan). Namun jika kita tidak percaya akan kebenaran SMS tersebut, maka tidak akan terjadi apa-apa. Penulis: Oka Mahendra (http://tutorialgratis.wordpress.com)

Saturday, May 03, 2008

SENYUM ITU PENTING

Seorang dokter, Mark Stibich, Ph D,menulis artikel “ 10 Alasan untuk Tersenyum” di situs www.about.com. Senyum menurut Stibich adalah cara terbaik untuk membantu tubuh berfungsi lebih baik. Senyuman meningkatkan kesehatan, menurunkan level stress, dan membuat Anda lebih atraktif. Berikut ini rangkuman tentang manfaat senyuman : 1. Senyum membuat Anda lebih menarik Orang yang banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka tersenyum membuat perasaan orang di sekitarnya nyaman dan senang Orang yang selalu merengut,cemberut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang di sekelilingnya tidak nyaman. Dipastikan, orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman. 2. Senyum mengubah perasaan Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah. 3. Senyum menular Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia. 4. Senyum menghilangkan stress Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah,bosan dan sedih. Ketika anda stress, ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stress dan membuat pikiran lebih jernih. 5. Senyum meningkatkan imunitas Senyum membuat system imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum. 6. Senyum menurunkan tekanan darah Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat Anda tidak tersenyum dan catat lagi tekan darah saat Anda tersenyum saat diperiksa. Tekan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah. 7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin, pemati rasa dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yang bisa mengendalikan rasa sakit. 8. Senyum membuat awet muda Senyuman menggerakkan banyak otot. Akibatnya otot wajah terlatih sehingga Anda tidak perlu melakukan Face lift. Dijamin dengan banyak tersenyum, Anda akan terlihat awet muda. 9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses Orang yang tersenyum terliat lebih percaya diri, terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik. 10.Senyum membuat orang berpikir positif Coba lakukan ini: pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum, tubuh mengirim sinyal “hidup adalah baik” Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah.

Tuesday, April 29, 2008

BULAN MADU KE BALI

Bulan madu kedua!!! Namanya kesempatan emang gak ada yang mengira. Akhirnya aku dan istri tercinta bisa jalan-jalan ke Bali 26 April - 28 April 2008. Dan......kuakui, acara semacam ini amat penting untuk menyegarkan dan menghidupkan kembali api cinta di hati kita dan pasangan hidup..... Thanks God.....kau sudah kasih rejeki, kau sudah kasih kesempatan buat Kami

Wednesday, April 16, 2008

KIAT HADAPI WARTAWAN

1.The journalist is not a friend or an enemy. He or she is a professional "gatekeeper" to the public. Speak with the public in mind. Establish a cordial relationship but don't assume a reporter will put your interest ahead of the story or emphasize your perspective. A journalist is never off duty. Be careful even in casual remarks while socializing. Never say anything you wouldn't want read in the newspaper or heard on the air the following day. 2.Prepare: Develop the points you want to make. Rehearse. Anticipate difficult questions and prepare positive responses. You want to respond to reporters as quickly as possible to get quoted in their story or to avoid a “no comment,” but it’s equally important that you respond on your terms when you’re ready. Buy yourself some time to think about your key messages and potential pitfalls before you begin answering reporters’ questions. 3.Always tell the truth. However, you do not need to volunteer any negative information if asked. 4.Clarify unclear questions: Do not answer a question you do not understand, ask for clarification. 5..Avoid Saying “No Comment”: When you have a chance of gaining some positive publicity, refusing to comment is crazy. However, saying “no comment” during a crisis or in response to a negative story is equally suicidal. You tend to look guilty or negligent when you say “no comment” because you’re perceived as hiding something. You can almost always say something, and that is better than saying “no comment.” At minimum, you can find a nicer way of saying it by explaining why you can’t or don’t want to say more. (e.g. I would like to give you that information, however we are required by law to keep those records confidential.”) 6. Answer at the top: Answer the question first and "bridge" (See ‘Bridging’ section below) to the point you want to make. Even if the implication of the question is negative, answer it, then move to your point. 7. Always answer the question: Answer questions honestly. If you do not respond, [e.g., see “no comment” section above], you will seem evasive and give the impression that you are hiding something. Say instead, "I can't speak about that because..." and give a reason. 8. Emphasize your main points: Reinforce your main message through the technique called "flagging," (See ‘Flagging’ section below) with simple phrases such as, "the key point is..." or "most importantly." Repetition is another way to emphasize your key messages. 9. Speak in personal terms whenever possible: Using personal anecdotes to illustrate your point is the most effective way to communicate your message. 10. Avoid jargon: the robot terms such as "embedded controller," or "switching power converter," can be meaningless to non members. Try not to use them. If you do use electronic-specific phrases, explain them. The simpler, clearer and more concise you make your message, the more likely you are to be quoted accurately and in the context of the story. It’s not always easy to boil down complicated concepts, but doing it will help you get a story you can live with. (dari sumber internet)

Tuesday, April 15, 2008

PETA KOTA TANGERANG

SEJARAH KOTA KELAHIRANKU

AWAL mula berdirinya bebrapa kerajaan dan kota besar di bumi ini umumnya diliputi mitos. Kekosongan data sejarah diisi dengan cerita legendaries. Demikian halnya dengan Roma, yang katanya didirikan oleh Romulus dan Romus, kakak beradik yang dibesarkan oleh seekor srigala. Demikian juga juga diceritakan tentang negeri Matahari Terbit yang dikaitkan keturunan dewi matahari, yang sampai kini menghiasi bendera kebangsaan Jepang. Tetapi tidak jika kita berbicara sejarah Tangerang, yang tidak bisa dilepaskan dari empat hal utama yang saling terkait. Keempat hal itu adalah peranan Sungai Cisadane; lokasi Tangerang di tapal batas antara Banten dan Jakarta; status bagian terbesar daerah Tangerang sebagai tanah partikelir dalam jangka waktu lama; dan bertemunya beberapa etnis dan budaya dalam masyarakat Tangerang. Sungai Cisadane membujur dari selatan didaerah pegunungan ke utara di daerah pesisir. Sungai ini amat berperan penting dalam kehidupan masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) hingga dewasa ini. Yang berubah hanyalah jenis peranannya. Sejak zaman kerajaan Tarumanegara (abad ke-15) hinggga awal zaman Hindia Belanda (awal abad ke-19), sungai ini berperan sebagai sarana lalu lintas air yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Disamping itu, sungai Cisadane juga menjadi sumber penghidupan manusia yang bermukim di sepanjang DAS ini. Antara lain untuk mengairi areal persawahan dan perikanan di daerah dataran rendah bagian utara Tangerang. Dengan peran yang pertama itu, hasil bumi dari daerah pedalaman (lada, beras, kayu, dan lain-lain) dapat dipasarkan ke daerah pesisir dan luar daerah Tangerang. Sebaliknya, keperluan hidup penduduk pedalaman seperti garam, kain, gerabah, dan lain-lain, dapat didatangkan daerah pesisir dan luar daerah Tangerang. Sementara, peranan kedua dapat meningkakan produksi pertanian, terutama produksi beras, selain untuk mencegah bahaya banjir. Sejatinya, pada awal abad ke-16, zaman kerajaan Sunda, Tangerang tampil sebagai kota pelabuahn bersama-sama Banten dan Sunda Calapa sebagaimana tertulis dalam Summa Oriental karangan Tome Pires, orang Portugis yang memuat laporan kunjungan dari 1512-1515. Dokumen tersebut menurut A. Heuken SJ, ahli sejarah Jakarta, adalah dokumen tertua yang menyebut nama ini. Sunda Calapa atau Chia liu-pa (menurut Ma Huan, muslim China yang menulis laporan pelayaran armada Laksamana Zeng-Ho, yang kapal-kapalnya mengunjungi Pantai Ancol pada awal abad ke XV) adlah nama pelabuhan tertua di Jakarta. Yang berbeda diantara ketiga pelabuhan di Tangerang, Banten dan Jakarta itu hanyalah tingkatan kualitas dan kuantitas kegiatannya. (sunda) Calapa menjadi pelabuhan paling sibuk ketika itu lantaran lokasinya paling dekat dan dapat berhubungan langsung melalui jlan darat dan jalan air (Sungai Ciliwung) dengan Pakuan Pajajaran yang menjadi ibu kota kerajaan Sunda. Selain itu, (Sunda) Calapa menjadi pusat kota pelabuhan Kerajaan Sunda. Dibawahnya adalah kota pelabuhan Banten yang merupakan kota pelabuhan paling barat Pulau Jawa. Posisi Banten juga sangat strategis, setelah Malaka diduduki oleh Portugis pada 1511 lantaran Selat Sunda dan pesisir barat Sumatera menjadi jalur utama perdagangan. Sedangkan Pelabuhan Tangerang termasuk pelabuhan yang sepi hingga menempati peringkat paling bawah kesibukannya, karena lokasinya berada diantara dan berdekatan dengan Banten dan (Sunda) Calapa. Lokasi ketiga kota pelabuhan berada disekitar muara sungai, yaitu Sungai Cibanten bagi kota pelabuhan Banten, Sungai Cisadane bagi kota pelabuhan Tangerang, dan Sungai Ciliwung bagi kota pelabuhan Calapa. Selanjutnya, sejak pertengahan abad ke-16 Banten dan Calapa (berubah menjadi Jayakarta sejak berada di bawah kuasa Islam pada 1527) mengembangkan diri menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan. Didukung oleh Cirebon dan Demak, Banten meningkat pesat sebagai pusat penyebaran agama Islam, pemerintahan, dan perniagaan laut (maritim) di Tatar Sunda bagian barat dan Sumatera bagian selatan. Puncak keemasan Kesultanan Banten berlangsung sekira pertengahan abad ke-17, pada masa pemerintahan Sultan Abulmafakir Mahmud Abdulkhadir (1596-1651) dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684). Sedangkan, Jayakarta yang semula berperan sebagai penutup hubungan Pakuan Pajajaran ke dunia luar dan merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Banten, setelah jatuh ke dalam kekuasaan kompeni Belanda pada 1619 dan namanya diganti dengan Batavia, berhasil mengembangkan diri. Mula-mula Batavia berperan sebagai pusat kedudukan dan pusat perdagangan Kompeni (VOC) di Nusantara, kemudian sejak tahun 1800 menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan internasional pemerintah kolonial Hindia Belanda. Semenjak dasawarsa kedua 1600-an antara Banten dan Batavia berlangsung persaingan perdagangan yang keras. Di satu pihak, Kompeni Belanda mendesakkan keinginan untuk melakukan monopoli perdagangan diwilayah Kesultanan Banten. Namun di pihak lain, Sultan Banten sendiri mempertahankan sistem perdagangan bebas dan kedaulatan Negara. Saking kerasnya persaingan itu, alhasil berkembang menjadi konflik politik dan akhirnya knflik senjata. Mula-mula pada 1652, berbentuk konflik senjata secara tertutup, namun kemudian pad 1659 berbentuk perang terbuka. Dalam suasana konflik itulah, kawasan Tangerang menjadi daerah pertahanan sekaligus medan pertempuran serta rebutan antara Banten dan Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, pihak Banten membangun benteng pertahanan di sebelah barat Sungai Cisadane dan pihak kompeni Belanda membangun benteng pertahanan di sebelah timur Sungai Cisadane. Itulah sebabnya, dulu daerah ini dikenal dengan nama Benteng, baru muncul nama Tangerang. Dengan mengerahkan serdadu Kompeni secara besar-besaran, terutama serdadu sewaan yang berasal dari kalangan orang Nusantara sendiri, dan taktik adu-domba (devide et impera), secara bertahap wilayah Kesultanan Banten jatuh ketangan kekuasaan Kompeni Belanda. Mula-mula pada 1569, daerah sebelah timur Sungai Cisadane jatuh ke tangan Kompeni, kemudian tanah di sepanjang Sungai Cisadane sejak dari daerah hulu sampai ke muara dan daerah sebelah selatan Sungai Cisadane sampai ke Laut Kidul (Samudra Hindia) ditetapkan masuk ke wilayah Batavia (1684). Akhirnya pada 1809, Kesultanan Banten dihapuskan serta seluruh wilayahnya dimasukkan ke wilayah pemerintahan Hindia Belanda. Sejak saat itu, berakhirlah kedudukan Tangerang sebagai daeah tapal batas antara Banten dan Jakarta, karena seluruhnya berada dibawah kuasa pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Perubahan pemegang kekuasaan atas daerah Tangerang memberikan jalan bagi perubahan status daerah itu. Semula berstatus sebagai daerah rebutan antara Banten dan Batavia, Tangerang kemudian menjadi daerah partikelir di bawah Batavia. Sepetak demi sepetak tanah di Tangerang dikuasai oleh pihak partikelir secara perseorangan dan perusahaan. Muncullah sejumlah tuan tanah di daerah ini yang umumnya terdiri dari orang Belanda dan orang China. Disamping menguasai tanah garapan dan lingkungannya, mereka juga mneguasai penduduk yang bermukim di lahan itu. Penduduk setempat berkewajiban menggarap tanah milik tuan tanah dengan upah kecil, padahal mereka pun harus membayar berbagai pajak dan pungutan lainnya. Karena itu, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara tingkat kesejahteraan tuan tanah dan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi. Selain itu, tuan tanah lebih berkuasa daripada pejabat pemerintahan pribumi. Tuan tanah dilindungi dan dibantu oleh sejumlah mandor yang bertindak sebagai jawara dan berstatus sebagai pegawai tuan tanah. Keberadaan dan fungsi jawara dalam masyarakat Tangerang masa itu menjadi gejala umum dan ciri khas lingkungan tanah partikelir. Situasi dan kondisi demikian membentuk struktur dan karakter masyarakat tersendiri dilingkungan tanah partikelir. Pendidikan sekolah hampir tak tersentu oleh bagian terbesar penduduk pribumi. Mereka mengutamakan pendidikan informal dari guru agama Islam secara individual, atau pesantren-pesantren secara kelembagaan. Peran dan kedudukan orang keturunan China dan jawara dalam masyarakat Tangerang demikian berpengaruh besar terhadap suasana dan peristiwa selama revolusi kemerdekaan pada tahun 1945-1949. Pada masa itu orang-orang keturunan China di daerah ini pernah menjadi sasaran amuk rakyat sebagai tindak balas dendam, dan amarah terhadap mereka karena dicurigai membantu pihak kolonial. Pernah pula dibentuk pemerintahan mandiri oleh kalangan jawara yang berjiwa merah dan bersikap kiri. Pemerintahan ini tak mengakui Republik Indonesia. Mereka mendirikan negara di dalam negara. Pada mulanya, penduduk Tangerang boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banter., Bogor dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangerang sebelah barat. Keragaman etnis penduduk Batavia sebagai dampak kebijakan Kompeni Belanda di bidang kependudukan di Kota Batavia melahirkan ragam etnis dan budaya Melayu Betawi. Dinamakan demikian, karena mereka berbicara dalam bahasa Melayu sebagai alat komunikasi sosialnya dan bertempat tinggal di daerah Betawi, sebutan orang pribumi bagi Kota Batavia. Penduduk etnis dan budaya Betawi ini menyebar ke daerah sekeliling Kota Betawi, termasuk daerah Tangerang. Mereka menempati daerah pesisir sebelah timur dan daerah pedalaman timur Tangerang. Kebijakan Kompeni tersebut melahirkan pula keturunan orang China dalam jumlah banyak di Kota Batavia yang menyebar ke daerah Tangerang, sebagai dampak dari pemberontakan orang-orang China di Kota Batavia pada 1740 dan lahirnya status tanah partikelir. Keturunan orang China ini tersebar di daerah tanah partikelir, terutama di daerah pesisir Tangerang sebelah timur. Selanjutnya, kebudayaan mereka berasimilasi dengan kebudayaan Melayu Betawi. Dari pertemuan itu lahirlah jenis-jenis budaya yang bercirikan Melayu Betawi dan China yang kini populer disebut budaya Betawi, seperti teater lenong, tari topeng, dan lain-lain. Dengan perkembangan penduduk seperti itu, peta penduduk dan budaya di Tangerang terbilang unik. Daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan China serta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangerang Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangerang Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa. Dalam konteks keseluruhan pemerintahan di wilayah Tatar Sunda, kedudukan Tangerang mengalami beberapa kali perubahan dalam tingkat dan struktur pemerintahan. Sebagaimana telah dikemukakan, pada awal abad ke-16 Tangerang berstatus sebagai salah satu kota pelabuhan dalam lingkungan Kerajaan Sunda. Pada masa itu kota pelabuhan berada di bawah kuasa seorang syahbandar yang bertanggung jawab langsung kepada raja Sunda. Ketika Tangerang berada di bawah kuasa Kesultanan Banten sejak 1526, sistem pemerintahannya berbentuk kemaulanaan dan pusat pemerintahannya berada di daerah pedalaman, yaitu di sekitar Tigaraksa sekarang. Tatkala sebagian daerah ini jatuh ke tangan Kompeni (sejak 1659), demi keamanan pemerintahan di daerah ini dipimpin oleh seorang komandan militer Belanda. Namun, ketika seluruh daerah ini berada di bawah kuasa Kompeni Belanda dan stabilitas keamanannya telah tercapai sejak 1682, pemerintahan di daerah ini berbentuk kabupaten (regentschap) yang dipimpin oleh seorang bupati yang berasal dari kalangan penduduk pribumi. Pada 1809 terjadi perubahan sistem pemerintahan secara menyeluruh di Hindia Belanda yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Tingkat dan struktur pemerintahan di daerah Tangerang berubah lagi. Kini Tangerang berada di bawah wilayah administrasi pemerintahan De stad Batavia, de Ommelanden, en Jacatrasche Preanger Regentschappen (Kota Batavia dan sekitarnya serta wilayah Jakarta-Priangan) yang kemudian disebut Keresidenan Batavia. Daerah Tangerang disebut Batavia Barat dan berada di bawah perintah seorang Asisten Residen yang selalu dipegang oleh orang Belanda. Selanjutnya sejak tahun 1860-an, daerah ini berstatus afdeling yang disebut Afdeling Tangerang yang tetap dipimpin oleh Asisten Residen. Daerah Afdeling Tangerang dibagi atas tiga distrik, yaitu Tangerang Timur, Tangerang Selatan, dan Tangerang Utara yang selanjutnya (sejak 1880-an) masing-masing disebut Distrik Tangerang, Distrik Balaraja, dan Distrik Mauk; lalu ditambah dengan Distrik Curug. Kepala distrik dipegang oleh orang pribumi yang jabatannya disebut demang, kemudian berubah jadi wedana. Tingkat dan struktur pemerintahan demikian di Tangerang berlangsung hingga akhir kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda (1942). Pada zaman Jepang (1942-1945), Tangerang yang bertetangga dengan ibu kota pemerintah pusat Jakarta dipandang sebagai daerah strategis. Dengan demikian, tingkat dan struktur pemerintahannya dinaikkan jadi kabupaten, dan didirikanlah lembaga pendidikan militer (Seinendojo). Pembentukan Kabupaten Tangerang didasarkan Maklumat Jakarta Syu Nomor 4 tanggal 27 Desember 2603 (1943), sedangkan peresmiannya dilakukan pada hari Selasa, 4 Januari 1944, bersamaan dengan pelantikan R. Atik Suardi menjadi Bupati Tangerang pertama. R Atik Suardi adalah aktivis yang kemudian (sejak akhir tahun 1920-an) jadi salah seorang pemimpin Paguyuban Pasundan, organisasi pergerakan nasional masyarakat Sunda. Ia pernah menjabat sebagai pembantu R. Pandu Suradiningrat di Gunseibu Jawa Barat. Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 mendapat sambutan hangat dari para pemimpin dan masyarakat Tangerang. Wujudnya terdiri atas dua bentuk.Pertama, menegakkan kemerdekaan dengan cara membentuk pemerintahan daerah di Tangerang yang me-nunjang Proklamasi Kemerdekaan RI, mulai dari tingkat kabupaten ke bawah. Kedua, mempertahankan kemerdekaan dengan cara menentang dan melawan pihak asing dan antek-anteknya yang berusaha untuk menjajah kembali dan pihak yang mau mendirikan negara sendiri yang tidak mengakui keberadaan Republik Indonesia. Terjadilah revolusi kemerdekaan! Akhirnya, kedaulatan Republik Indonesia bisa ditegakkan di Tangerang. Kedudukan Kabupaten Tangerang dikukuhkan kembali pada awal masa Republik Indonesia (19 Agustus 1945) dan berlaku terus hingga kini. Kabupaten ini jadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Sesuai dengan semangat dan tuntutan otonomi daerah serta perkembangan Kota Tangerang yang meningkat pesat, status pemerintahan di Kota Tangerang sendiri ditingkatkan. Tadinya kota itu adalah kota kecamatan, lalu jadi kota administratif. Kota Tangerang yang memiliki luas wilavah 17.729,794 hektar dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Sebelumnya Kota Tangerang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten 'I'angerang dengan status wilayah Kota Administratif Tangerang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1981. Dengan demikian, di Tangerang terdapat dua jenis pemerintahan daerah yang setara, yaitu Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. Sementara itu, dengan berdirinya Provinsi Banten (sejak 1999), Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang pun jadi bagian dari wilayah Provinsi Banten. ( WAhidin Halim ---dari situs internet)

SEJARAH KOTA KU TANGERANG

Untuk mengungkapkan asal-usul Tangerang sebagai kota “Benteng”, diperlukan catatan yang menyangkut perjuangan. Menurut sari tulisan F. de Haan yang diambil dari arsip VOC, resolusi tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat negeri besar yang terletak di sebelah barat sungai Untung Jawa, dan untuk mengisi negeri baru tersebut Sultan Banten telah memindahkan 5.000 sampai 6.000 penduduk. Kemudian dalam Dag Register tertanggal 20 Desember 1668 diberitakan bahwa Sultan Banten telah mengangkat “Radin Sena Patij dan Keaij Daman” sebagai penguasa di daerah baru tersebut. Karena dicurigai akan merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan Kyai Demang dipecat Sultan. Sebagai gantinya diangkat Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan tersebut Ki Demang sakit hati. Kemudian tindakan selanjutnya ia mengadu domba antara Banten dan VOC. Tetapi ia terbunuh di Kademangan. Dalam arsip VOC selanjutnya, yaitu dalam Dag Register tertanggal 4 Maret 1980 menjelaskan bahwa penguasa Tangerang pada waktu itu adalah ”Keaij Dipattij Soera Dielaga”. Kyai Soeradilaga dan putranya Subraja minta perlindungan kompeni dengan diikuti 143 pengiring dan tentaranya (keterangan ini terdapat dalam Dag Register tanggal 2 Juli 1982). Ia dan pengiringnya ketika itu diberi tempat di sebelah timur sungai, berbatasan dengan pagar kompeni. Ketika bertempur dengan Banten, ia beserta ahli perangnya berhasil memukul mundur pasukan Banten. Atas jasa keunggulannya itu kemudian ia diberi gelar kehormatan Raden Aria Suryamanggala, sedangkan Pangerang Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Selanjutnya Raden Aria Soetadilaga diangkat menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah meliputi antara sungai Angke dan Cisadane. Gelar yang digunakannya adalah Aria Soetidilaga I. Kemudian dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 17 April 1684, Tangerang menjadi kekuasaan kompeni, Banten tidak mempunyai hak untuk campur tangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Salah satiu pasal dari perjanjian tersebut berbunyi: ”Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati kompeni.” Dengan adanya perjanjian tersebut daerah kekuasaan bupati bertambah luas sampai sebelah barat sungai Tangerang. Untuk mengawasi Tangerang maka dipandang perlu menambah pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan sungai Tangerang, karena orang-orang Banten selalu menekan penyerangan secara tiba-tiba. Menurut peta yang dibuat tahun 1962, pos yang paling tua terletak di muara sungai Mookervaart, tepatnya disebelah utara Kampung Baru. Namun kemudian ketika didirikan pos yang baru, bergeserlah letaknya ke sebelah Selatan atau tepatnya di muara sungai Tangerang. Menurut arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 ada rencana merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok. Gubernur Jenderal Zwaardeczon sangat menyetujui usulan tersbut, bahkan diinstruksikan untuk membuat pagar tembok mengelilingi bangunan-bangunan dalam pos penjagaan. Hal ini dimaksudkan agar orang Banten tidak dapat melakukan penyerangan. Benteng baru yang akan dibangun untuk ditempati itu direncanakan punya ketebalan dinding 20 kaki atau lebih. Diasan akan ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig(Peltu) dan 28 orang Makassra yang akan tinggal diluar benteng. Bahan dasar benteng adalah batu bata yang diperoleh dari Bupati Tangerang Aria Soetadilaga I. Setelah benteng selesai dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang dikatakan orang hitam adalah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni. Benteng ini kemudian menjadi basis kompeni dalam menghadapi pemberontakan dari Banten. Kemudian pada tahun 1801, diputuskan untuk memperbaiki dan memperkuat pos atau garnisun itu, dengan letak bangunan baru 60 roeden agak ke tenggara, tepatnya terletak disebelah timur Jalan Besar pal 17. Orang-orang pribumi pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itu, Tangerang terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi, bahkan menurut ”Superintendant of Publik Building and Workd” tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: ”…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya.” (Sumber: www.tangerangkota.go.id)

INTERVIEW GUIDE (2)

YOU HAVE THE RIGHT TO: Decline a requested interview. Ask the gist of the interview and how it will be used. Ask what kind of questions will be asked of you. Request the interview location and time. Know who will be interviewing you. Have legal and PR counsel present during the interview. Be treated with respect, dignity, honesty and fairness. Answer or not answer any given question. Ask for the question to be repeated or explained. Clarify an incorrect assumption or statement. Terminate the interview at any time. Not speculate, even under pressure. Say you don't know the answer and ask for time to research it. Review a document or complaint about your organization before answering questions about it. Follow up regarding questions or disagreements on coverage. YOU DON'T HAVE THE RIGHT TO: Expect to see an exact list of questions in advance. Comment on an organization you are not affiliated with. Be dishonest. Review the article or segment before publication or air time. (dari sumber internet)

KETEMU BOS LSPR JAKARTA

Ini dia sosok pribadi yang aku kagumi karena dedikasinya di bidang pendidikan. Ibu Prita Kemal Gani --bos The London School Of Public Relations. Lewat tangan dinginnya, LSPR menjadi sekolah PR terbaik di Indonesia.........kapan ya bu aku bikin sekolah juga........

DISTRIBUTION METHODS

Distribution Methods How you distribute materials is often as important as what you send. It is a good idea to know which methods your target audiences, especially reporters, prefer. Mail – Good to use when timing is less sensitive (one to three days). Good for newsletter mailings, new neighbor welcome packets, media kits, and other materials that are difficult to fax or e-mail. Mail can also be certified to verify receipt or insured to avoid loss. Fax – Good for timely communication (faster than mail). Good for press releases, event reminders, and some forms of newsletters (such as weekly news notices). Less effective for documents with images or graphics. E-mail – Good for timely and direct communication with an individual. Good for press releases, media reminders, media personnel questions, and pitch letters. Access to e-mail and electronic document size can be limitations. Face-to-face meetings – Best way to make a personal connection. Allows for detailed explanation of a point-ofview or complicated subject. Best way to demonstrate excitement, concern, tolerance, empathy, etc. Phone conference call – Allows for personal contact when face-to-face is not possible. Good for back-and-forth communication. Inexpensive method for communicating with large groups in different locations (cities/states). Web site – Web pages allow interested parties to pull information thereby facilitating distribution. Directing people to a web site may be done through mailings, publicity or other notices. ( dari sumber-sumber internet)

Sunday, April 13, 2008

EMPAT CEWEK CANTIK

TIPS PELIPUTAN

Kalau suatu hari pemimpin redaksi memerintahkan anda untuk melakukan peliputan di Kamar Mayat RSCM apa yang akan anda lakukan?.....Buatlah berita atau feature terkait dengan persoalan tersebut!!! itu salah satu penugasan yang aku berikan pada mahasiswaku yang mengambil mata kuliah pengantar Jurnalistik!!!....kadang-kadang aneh tingkah mereka saat pertama kali menerima penugasan tersebut. yang jelas awal mulanya mereka kaget takut dan tidak tahu harus bagaimana mengerjakannya.... Tips yang mungkin berguna adalah....pertama-tama mencari tahu topik apa yang mungkin menarik dan bisa kita perdalam saat berada di lapangan....kemudian mencari tahu siapa-siapa saja narasumber yang akan kita wawancarai, dan mulailah membuat daftar pertanyaan sesuai dengan topik yang ingin kita bahas.Setelah tiba di lokasi, berlakulah sopan dan santun dalam mencari berita, ikuti birokrasi yang ada tanpa harus merasa terbebani olehnya.Ingat tugas anda baru separuh jalan, sebab setelah wawancara berhasil maka kegiatan penting lainnya adalah bagaimana memasukkan semua data terpilih dalam rangkaian kata-kata serta kalimat yang tepat. Selamat berburu!!

TIPS WAWANCARA

Never say "no comment." Never mislead or lie. Never assume the reporter is an expert. Never try to fake it. Never argue with reporters. Never play favorites with competing reporters. Never make off-the-record comments. Broadcast media include radio, television and, to a growing degree, the Internet. Broadcast media can get news out faster, so it is becoming the media of choice for a majority of American families. While print traditionally has been the place to go for in-depth analytical news and human interest stories, the advent of specialty cable television shows and informational web site has evened the playing field. Your event or interview may be broadcast live, or a reporter and camera crew may tape your event to be shown on a news program later in the day. Television station broadcast live events most often on their afternoon and early evening shows. In any case, follow the guidelines listed below and have your ready at the appointed time and place. Identify yourself to the reporter or cameraman, then allow the crew to do its work. Remember that radio and television stations present a variety of talk shows that welcome interesting and unusual subjects and interviews. (dari sumber-sumber internet)

ULANG TAHUN ISTRI

Sore ini, 13 april 2008 aku bersama-sama istri dan tiga anakku jalan-jalan ke Lippo Karawaci. Sengaja memang aku ngajak mereka makan bareng sambil merayakan hari ulang tahun istriku ke 41 tahun. Gile yeach.....aku dan istriku udah kepala empat. Anakku aja udah gede dan kalau dilihat postur tubuhnya aku aja udah kalah. Terkadang aku tak mengerti.....mengapa jalan hidup ini yang bakal aku jalani sekarang. Aku terkadang bingung sendiri....dulu pas SMA boro-boro mikir mau punya anak dan keluarga kayak gini.......yah hidup inilah yang aku nikmati sekarang.... Bahagia.......pasti!

my audiku

MET ULANG TAHUN YA MA!!!

Saturday, April 12, 2008

ILMU SOSIAL KRITIS

Ilmu sosial kritis (CSS) menawarkan alternatif ketiga dari pengertian mengenai metodelogi.Ada sejumlah versi untuk menyebutkan pendekatan ini, antara lain materialisme dialektikal, analisis kelas, dan strukturalisme. Ilmu social kritis mengabungkan pendekatan nomotetik dan ideographic. Ada yang setuju dengan banyak kritik yang menyatakan pendekatan interpretative sebenarnya adalah positivisme, namun dalam beberapa hal justru tidak sependapat.Pendekatan tersebut mengikuti jejak Karl Marx (1818-1883) dan Sigmun freud (1856-1839) dan kemudian dipertegas Theodore Adorno (1903-1969), Erich Fromm (1900-1980) dan Herbet Marcuse (1989-1979). Critical Social Science sering diasosiasikan dengan teori konflik, analisis feminsi, dan psikoterapi radikal, CSS juga dikaitkan dengan teori kritis, yang pertama kali diperkenalkan oleh aliran Frankfurt di Jerman pada tahun 1930-an. Ilmu social kritis mengkritik ilmu pengetahuan positivistik hanya mempersempit, antidemokratik dan nonhumanisitik dalam penggunaan pertimbangan-pertimbangan yang semestinya. Ilmu social imterpretatif mengkritik positivisme gagal memahami manusia seutuhnya dan kapasitasnya dalam hal merasakan dan berpikir.Intetrpretatif juga meyakini positivisme mengabaikan konteks social dan anti humanistic. CSS setuju dengan semua kritikan terhadap positivisme, CSS juga meyakini bahwa positivisme membela status quo, karena menganggap tidak mengubah tatanan social. Para peneliti kritis mengkritik pendekatan interpretative sangat subjektif dan relatif. Peneliti kritis itu menyatakan bahwa ISS (Interpretative Social Science) memperhatikan seluruh sudut pandang secara seimbang. Pendekatan interperatif membicarakan ide manusia lebih penting ketimbang kondisi actual dan berfokus pada hal local. ISS sangat memperhatikan realitas subjektif, ISS dikritik sebagai amoral dan pasif, tidak memberikan posisi nilai yang kuat atau dapat secara aktif membantu orang untuk melihat ilusi palsu di sekitar mereka, sehingga mereka dapat menngkatkan kehidupannya. Secara umum CSS mendefiniskan dirinya sebagai suatu proses kritis dari pertanyaan yang di luar permukaan yang tidak tercover dalam struktur yang riil dari dunia material, untuk membantu manusia mengubah situasi dan membangun dunia yang lebih baik untuk mereka. (dari berbagai sumber)

MY PAINTINGS

Ten Core Media Relations Strategies

by Charlotte TomicTomic Communications With the news hole shrinking every day and headlines shrieking about celebrities with names like Hilton, it seems more and more impossible to get stories about your clients. As a longtime publicist working for major brands for the past 20-plus years, I thought that getting news articles about clients or placing them on talk shows would get easier.Instead, I find it more and more challenging every day.While the technology boom has fostered new media outlets that increase the probability that some ink will stick, getting through the clutter to actually reach reporters becomes more and more difficult.With answering machines, cell phone numbers and the increasing probability that most e-mails are delegated to the junk mail file, how do you score wins for your clients?Here are ten tried and true tips to follow:1) Find out who’s moved to what publication or outlet. More and more journalists are leaving their jobs for new and more challenging opportunities. Someone who worked on the technology beat may now be a business editor. Keeping track of who is working where is a time-consuming yet necessary job that can minimize bouncebacks and wasted outreach.2) Write catchy subject lines in e-mails. If you want to reach a reporter’s e-mails, write a captivating and sizzling subject line that will pique his or her interest. If the subject line is newsworthy, most likely it will get read.3) Don’t send out generic e-mails or “.bcc” a whole list of reporters. Personalize your pitch letter or note and keep it simple. Don’t repeat what is already in the press release you’re sending, but write why you think the reporter might be interested in this particular news. Find a news hook or focus and make that the pitch, using statistics if you can. For example, add something that says, ‘A recent study shows…..” Or begin with your company’s survey or questionnaire results. All of this make the news relevant.4) Cut down on bogus exaggerated terminology that your news is “breakthrough” or “revolutionary.” Write in words that a layman can understand without making overblown claims that can’t be substantiated.5) Practice your verbal voicemail messages before you call a reporter. Work up a sheet of talking points that ensure you won’t forget what you’re trying to recommend. Remember – your voicemail message should have a “smile” in your voice and enthusiasm should register as you talk. If you sound like you’re reciting the alphabet and have said the same thing over and over, no one will listen to you after hearing one line….6) Set goals for yourself of getting a minimal amount of placements for each pitch or release you send. If you get more, it’s gravy. If you don’t get any, you’ll feel like you failed and will be discouraged to continue pitching for this client.7) Remember that selling a story is just that — sales. You must use the techniques of a salesperson. To succeed, you have to make a lot of “cold calls” to people you only meet on the phone. Don’t give up and make sure your skin gets thicker every day.8) Take rejection gracefully but not too gracefully. Sometimes it pays to be a sore loser. But don’t be abusive to a member of the media. They will always remember. You always get more results with kindness. If you’re nice on the phone, respect a reporter’s deadlines and time constraints and maintain a good virtual and phone relationship, you will garner the most results.9) Never underestimate the power of personal meetings. If you actually can network and meet reporters, developing that human connection and seeing them in another setting can create a relationship that could well-serve you for years to come. Follow a reporter’s career. Express interest in their moves to new positions. Maintain contact with them even after they’re written their story for your account.10) Don’t lie. If you don’t know an answer to a reporter’s question, don’t make believe you do just to keep them on the phone. If you don’t know something, tell the reporter you’ll get back to him or her. Remember - your reputation is always more important than landing a story.

TIPS MEDIA RELATIONS

Good relations with the media mean good relations with journalists. Below are the points to remember in your dealing with journalists: 1. Fast Respect journalists’ deadlines. Return calls as pledged. An unreturned call is an incalculable ‘faux pas’. 2. Factual Be factual. But make the facts interesting. Journalists appreciate facts stated with some literary flourish. 3. Frank Be candid. Never mislead journalists. Be as open as possible and respond to their questions. 4. Fair Be fair to journalists if you expect them to be fair to you. Favouring one news outlet consistently will lose you the confidence of others. 5. Friendly Like everyone else, journalists appreciate courtesy. Remember their names. Read what they write. Know their interests. Thank them when they cover your issues. (Dari sumber sebelah)

MEDIA RELATIONS

The act of involvement with the various media for the purpose of informing the public of the department’s mission, policies and practices in a positive, consistent and credible manner. All contacts with the media should be regarded as opportunities to educate both the media and the public they inform on correctional and criminal justice issues. Good media relations require an attitude of cooperation and responsiveness in dealing with the media. Public relations includes ongoing activities to ensure the organization has a strong public image. Public relations activities include helping the public to understand the organization and its products. Similar to effective advertising and promotions, effective public relations often depends on designing and implementing a well-designed public relations plan. The plan often includes description of what you want to convey to whom, how you plan to convey it, who is responsible for various activities and by when, and how much money is budgeted to fund these activities. Similar to advertising and promotions, a media plan and calendar can be very useful, which specifies what media methods that are used and when. Often, public relations are conducted through the media, that is, newspapers, television, magazines, etc. Publicity is mention in the media. Organizations usually have little control over the message in the media, at least, not as much as they do in advertising. Regarding publicity, reporters and writers decide what will be said. Regarding public relations, consider: What groups of stakeholders do we want to appeal to and how? What impressions do you want each of your stakeholder to have? What communications media do they see or prefer the most? Consider advertising, collaborations, annual reports, networking, TV, radio, newsletters, classifieds, displays/signs, posters, word of mouth, direct mail, special events, brochures, neighborhood newsletters, etc. What media is most practical for you to use in terms of access and affordability? What messages are most appealing to each stakeholder group? (From http://www.managementhelp.org/pblc_rel/pblc_rel.htm)

mutiara ku

The New Social Media Outlets

New social media outlets have sprung up throughout the Internet, including: Blogs Despite the early years of the Internet, Web development was only for the technically savvy. Over time, Web publishing tools have become easier to use, opening up publishing opportunities for even non-technically savvy users. Around the year 2000, RSS (Really Simple Syndication) made it possible to syndicate Web content. These two developments: simplification of Web development and RSS set the table for the explosion of the blogosphere--the interconnected world of blogs. Although some use their blogs as a publishing platform, most successful bloggers interact with their audiences through com- ments and with other bloggers through hyperlinks and Trackbacks1.With an informal tone and very limited editorial review process, if any, blogs have become more timely than the mainstream media in many cases. Podcasts Although podcasts are normally defined as audio versions of blogs, it is not entirely accurate. They do share many character- istics with blogs, such as RSS and the personalized tone, but the production effort is currently substantially higher than with blogging. Podcasts also lack the interactive nature of blogs. For example, while text allows the blogger to include hyperlinks, it is far more difficult with audio or video. Video podcasts have increased in popularity over the past several years. They share many traits with standard audio podcasts, including the same challenges to interactivity. Interestingly though, interactivity may enhance video podcasting before audio podcasting. Several organizations are looking at ways of embedding hyperlinks into video. For example, Siemens is develop- ing a method that would train technicians with video manuals that would allow them to click on components in the video to retrieve more detailed video clips on that component (Economist, 2006). Social Networking sites When Microsoft Outlook was introduced, people were able to place their rolodexes online and communicate with their con- tacts through e-mail. Social networking takes this basic function and adds two important facets. First, in social networking sites you create a personal profile: your own personal Web page to represent you on the Internet, including general statistics, hob- bies and anything else you would like to include. Second, social networking provides an opportunity to extend your personal network. Social networking sites allow you to extend your personal network, to include your friend’s and their friends. These sites have opened up the Web for users to socialize virtually. Creating your online persona, you are now ready to con- nect with the people you choose with no geographical boundaries. Over time, the capabilities offered through social networking Web sites have become increasingly sophisticated, incorporating file sharing, instant messaging, forums and Blogs. With over 150 million users on MySpace alone, social networks have also become the single-most popular form of social media. Wikis In its most basic form, a wiki is a Web site that fosters collaboration. Imagine you are sitting in a brainstorming session with several of your co-workers. Suddenly, you have a great idea so you walk up to the white board and begin to sketch it out. Once you finish, a co-worker has a complementary idea and walks up to the board and adds onto your original sketch. An- other co-worker mentions that they had a similar idea months ago, so they snap their fingers and it suddenly appears on an adjacent white board. And so on and so on. Most wikis store each version of a document, allowing you to review versions to view the various modifications that a docu- ment has undergone over time. In many cases, there is an open discussion about the documents they are collaborating on. Wiki software drives Wikipedia, the world’s largest online encyclopedia and an increasingly influential online resource. Wiki- pedia’s rapid ascent is in large part a result of being completely user-driven. All of the content is collaboratively developed by writers and editors around the world. (sumber dari situs sebelah )

Met Ulang Tahun yah Dear

hari ini istriku tercinta Yoyoh Hereyah ulang tahun. Aku seeh gak punya hadiah istimewa buatnya. Tapi tadi pagi anak-anakku datang kepadanya dan memberikan hadiah yang mereka persiapkan sehari sebelumnya. Istriku aku sangat sayang padamu.......Met Ulang Tahun yah.......

jangan lupa nanti tanggal 26 - 28 April 2008, kita jalan-jalan ke Bali berduaan aja. soalnya aku dapet Doorprize dari The London Schoool Of Public Relations tempatku mengajar hadiah paket ke Bali tiga hari dua malam untuk dua orang. Aku bakal ajak istriku.......sekalian refresing abis sakit ........

MY BIDADARI

CHERYL IN PAINTING

SEPULUH ALASAN UNTUK TERSENYUM

Seorang dokter, Mark Stibich, Ph D,menulis artikel 10 Alasan untuk Tersenyum di situs www.about.com. Senyum menurut Stibich adalah cara terbaik untuk membantu tubuh berfungsi lebih baik. Senyuman meningkatkan kesehatan, menurunkan level stress, dan membuat Anda lebih atraktif. Berikut ini rangkuman tentang manfaat senyuman : 1. Senyum membuat Anda lebih menarik Orang yang banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka tersenyum membuat perasaan orang di sekitarnya nyaman dan senang Orang yang selalu merengut,cemberut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang di sekelilingnya tidak nyaman. Dipastikan, orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman. 2. Senyum mengubah perasaan Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah. 3. Senyum menular Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia. 4. Senyum menghilangkan stress Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah,bosan dan sedih. Ketika anda stress, ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stress dan membuat pikiran lebih jernih. 5. Senyum meningkatkan imunitas Senyum membuat system imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum. 6. Senyum menurunkan tekanan darah Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat Anda tidak tersenyum dan catat lagi tekan darah saat Anda tersenyum saat diperiksa. Tekan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah. 7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin, pemati rasa dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yang bisa mengendalikan rasa sakit. 8. Senyum membuat awet muda Senyuman menggerakkan banyak otot. Akibatnya otot wajah terlatih sehingga Anda tidak perlu melakukan Face lift. Dijamin dengan banyak tersenyum, Anda akan terlihat awet muda. 9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses Orang yang tersenyum terliat lebih percaya diri, terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik. 10.Senyum membuat orang berpikir positif Coba lakukan ini: pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum, tubuh mengirim sinyal-sinyal hidup adalah baik Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah.

ini lukisan foto ku

Aku sedang belajar program pengolah foto yang bisa mengubah foto menjadi sebuah lukisan. Programnya sederhana : Corel Painter Essensial 4 tapi hasilnya rek.....luar biasa. Maybe, akan ada sejumlah foto hasil olahanku menggunakan program tersebut. bagaimana komentar anda?

Friday, January 25, 2008

SAAT KE TK SUHENDRO

ini tampang-tampang kedua anakku yang keren, nggak mau kalah sama papanya. Saat aku ajak ke rumah Suhendra temen saat SMAku dulu. Kita ketemuan di sebuah TK yang memang dibuat oleh Suhendra untuk menopang kehidupannya. Salut aku!!!

Thursday, January 24, 2008

REUNI ANAK MERTO 2008

Wah seneng juga lihat temen-temen cah Merto yang udah nggak ketemu sejak 1986 lalu, udah pada ubanan, udah pada punya anak, ada yang baru kawin lagi, ada yang mau pindah Ke Kanada, pokoknya asyik deh !!!!mau lihat foto yang lain. Kirim aja alamat email ke emailku: indiwan_seto@yahoo.co.id. Oc

Wednesday, January 02, 2008

BELAJAR DARI MAHASISWA

Kalo udeh kumpul sama mahasiswa, kita jadi lupa bahwa usia udah makin tua, udah makin beruban. Tapi enaknya jadi dosen adalah kita selalu 'dimudakan', selalu mendapat banyak pengalaman baru dan pengalaman tersebut bisa saja datang dari mahasiswa kita yang masih teramat muda ini. Contohnya, banyak ide segar dan orisinil muncul dari mahasiswa saat aku menggelar seminar 70 tahun Antara kemarin, kebetulan aku jadi moderatornya. Banyak pertanyaan yang segar justru muncul dari mahasiswa bukan dari wartawan yang menjadi subjek penting dari seminar bertema "Pemanfaatan Teknologi Seluler Dalam Jurnalistik Multimedia" ini. Bravo mahasiswa.

DOSEN NARSIS

Begini neh kalo dosen Fikom tapi narsis.....yah begini neeh setiap ada kesempatan pasti gue maunya tampil hehehehe. Tapi ini memang obsesi gue sejak dari kuliah dulu ...yaitu mau jadi editor foto jempolan....dan dimulai dengan cara yah banyak mengedit minimal yah mengedit foto sendiri. Asyik juga loh bisa-bisa keterusan dan kagak bosen.

MAHASISWA UBM IN ACTION

acara seminar 70 tahun antara cukup meriah. Banyak mahasiswa yang datang dan ikut aktif berdiskusi dengan sejumlah Panelis seperti Dr Cipta Lesmana ( yang sekarang sedang 'diramaikan' gara-gara sebuah seminar penelitian Asian Agri-Tempo), Budiono dari Detik.com serta Dr Rajab Ritonga ( Direktur Umum dan Psdm Perum LKBN ANTARA). Salah satu penggembira seminar adalah rombongan mahasiswa Universitas Bunda Mulia -- kebetulan aku adalah dosen mereka di mata kuliah ' Writing For Media". Maklum dosen jadinya mereka wajib dateng hehehehehe.

TEMUKAN CINTA ANDA DI TEMPAT KERJA

Bila anda tak mencintai pekerjaan Anda,maka cintailah orang-orang yang bekerja disana.Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu.Dan pekerjaan pun menjadi menggembirakan.Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja Anda,maka cintailah suasana dan gedung kantor Anda.Ini mendorong Anda untuk bergairah berangkat kerjadan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.Bila toh Anda juga tidak bisa melakukannya,cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ketempat kerja Anda.Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.Namun,bila anda tak menemukan kesenangan di sana,maka cintai apapun yang bisa Anda cintai dari kerja Anda,tanaman penghias meja, cicak diatas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.Apa saja.Bila Anda tak menemukan yang bisa Anda cintai dari pekerjaan Anda,maka mengapa Anda ada di situ ?Tak ada alasan bagi Anda untuk tetap bertahan.Cepat pergi dan carilah apa yang Anda cintai, lalu bekerjalah disana.Hidup hanya sekali, Tak ada yang lebih indah selain melakukan denganrasacinta yang tulus. ( dari Milis Sebelah buat orang yang sudah mulai ogah-ogahan bekerja)

DEFINISI SABAR

Sabar adalah kunci kesuksesan. Tapi sabar yang seringkali dimaknai oleh banyak orang diekspresikan dengan mengurut dada. Ini tidak sepenuhnya salah, tetapi definisi sabar yang seperti ini kurang tepat. Sabar menjadi sesuatu yang dilakukan secara terpaksa. Sabar seolah-olah hanyalah berkaitan dengan penderitaan hidup. Padahal sabar merupakan sesuatu yang perlu dinikmati. Sabar bahkan adalah kunci untuk menikmati hidup.Kita perlu memberikan makna yang berbeda terhadap kata ”sabar”. Definisi ”sabar” yang baru adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat. Kalau badan dan pikiran Anda berada di satu tempat, Anda pasti akan menikmati hidup Anda. Tapi apa yang terjadi bila badan dan pikiran kita berada di tempat yang berbeda. Bukankah hal ini sering terjadi pada kita? Apa yang Anda rasakan ketika badan Anda sedang berada dalam kendaraan di jalan raya yang macet sementara pikiran Anda sudah sampai di kantor? Badan di kantor tapi pikiran ada di rumah? Badan di rumah tetapi pikiran berkelana ke kantor? Anda pasti akan merasa stres bukan? Anda pasti akan kehilangan kesabaran. Dan Anda tidak akan menikmati apapun yang sedang Anda lakukan.Dengan menyatukan badan dan pikiran kita akan mengalami relaksasi dan menikmati indahnya hidup ini. Relaksasi sebenarnya tidak membutuhkan waktu dan tempat yang khusus. Cara melakukannya pun mudah saja. Satukan badan dan pikiran Anda dan seketika itu juga Anda akan merasakan rileks.Definisi sabar yang lain adalah menikmati prosesnya bukan hasilnya. Kebanyakan manusia modern berfokus pada hasil. Di kantor atasan kita sering mengatakan, ”Show me the money”, ”Show me the result”. Padahal berfokus pada hasil inilah yang seringkali membuat kita resah, susah dan gelisah. Selain itu “hasil” sebenarnya berada di luar kendali kita. Ini berbeda dengan proses. Proses sepenuhnya ada dalam kendali kita, karena itu berfokus pada proses akan menghasilkan suatu kenikmatan, sebuah perasaan memegang kendali. Orang yang sabar adalah orang yang berfokus pada proses dan menikmati semua prosesnya satu demi satu.Sabar juga merupakan ciri orang yang memiliki kecerdasan emosi. Salah satu definisi sabar yang penting adalah kemampuan untuk menunda respon. Orang yang sabar mampu mengendalikan dirinya dan menunda respon jangka pendeknya untuk mendapatkan kenikmatan jangka panjang. Sebaliknya orang-orang yang tidak sabar senantiasa bersikap reaktif dan cenderung tergoda untuk hanya melihat kepentingan jangka pendek. Hal inilah yang membuat mereka sering “berdosa” dan melakukan kesalahan. Karena bukankah, definisi “dosa” dalam manajemen modern adalah mendapatkan kenikmatan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang? ( dari Milis Sebelah, semoga berguna buat anda)

SELAMAT DOKTOR BARU

AKhirnya Bang Rajab Ritonga teman sejawatku di Fikom Moestopo (B) sekaligus 'Bos' ku di LKBN ANTARA meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi. Syukur deh, yah semoga ilmunya segera menular kepadaku. Ngomong-ngomong gimana mau jadi ikut S3? Ternyata aku gak jadi ke UNPAD, maybe tahun ini...bulan Maret 2008 aku daftar ke S3 UI aja deh...niru-niru bang Rajab....heh-hehehehe

Friday, December 07, 2007

DIAPIT SANG JENDERAL

TEMU KELUARGA

KUMPUL BARENG KELUARGA BESAR

Minggu kemaren, kita semua khususnya keluarga besar Darmo Hadi sucipto kumpul bareng di rumah ibu di Sewan, sekaligus memperingati 5 tahun meninggalnya nenek tercinta. Tampak dalam gambar, aku dan istriku, keluarga Pondok Jagung : mbak Endang, Indra dan suami Fitri, Keluarga Lila, Keluarga Bulek Marni dan sejumlah cucu. Semoga kebahagiaan ini tetap langgeng selamanya.

MELATIH HUMAS DEPHUB

MELATIH JURNALIS HIJAU

Asyik juga jadi Kepala LPJA, aku baru aja selesai melatih jurnalistik sekitar 60 'jurnalis hijau' dari kelompok BAIS. Meski banyak tapi mereka sangat profesional dan tidak sungkan dan ragu dalam melaksanakan tugas-tugas yang aku berikan. Dan mereka sangat sopan dan hormat terhadap para Gumil mereka.Profisiat deh semoga sukses buat Mas Wing dan temen-temen.

MELATIH JURNALIS HIJAU

Wednesday, November 21, 2007

TANTANGAN DARI DIRUT ANTARA

TUGAS MENANTANG kata itu yang paling tepat rasanya buat aku dan LPJA ( sebelum menjelma menjadi Sekolah Tinggi Jurnalistik Antara). Tantangan itu langsung diberikan oleh Direktur Utama Antara Bapak Dr Ahmad Muklis Yusuf saat memanggilku secara khusus ke Kantornya di Wisma ANtara, Jumat 16 November 2007 sore. Dia meminta aku (LPJA) membuat proposal untuk melakukan program sosialisasi dan pelatihan mengenai Cityzen Journalism di seluruh tanah air. Untuk menjawab kebutuhan pendanaan besar LKBN ANTARA yang saat ini masih sangat membutuhkan dana segar. Proyect ini merupakan hasil lobby pak Dirut sendiri dengan pihak BUMN, sehingga kalo ini gol maka LPJA akan menjadi main project kegiatan pelatihan Cityzen Journalism yang dibiayai oleh BUMN. Ini tantangan bagus buat LPJA, sekaligus bisa membuat semangat awak LPJA. mulai senin, bahkan teman-teman LPJA telah menunjukkan keseriusan dalam membuat proposal. Bahkan Pak Eko dan Udin merelakan tidak pulang ke rumah demi tugas ini. Pak Lontang juga pada Rabu pagi telah membawa tas berisi pakaian karena dia berencana tidur di kantor untuk mendukung teman-teman yang bertugas menyusun proposal. Sahid dan Wiwit juga berpartisipasi dengan melakukan browsing internet mencari data yang kita perlukan. DOAKAN YAH, DOAKAN YAH AGAR BERHASIL!!!

Saturday, November 17, 2007

CLAUDIA PATUT BERSYUKUR

Saya punya mobil,punya motor,punya hp,punya tempat tidur,sekolah di sd sukasari 4,punya adek yang baik,kakak yang cantik dan galak,punya nyanyian yang cantik,punya jam weker yang bagus.saya sehat,punya baju yang banyak,punya ac,punya mainan banyak,saya les bimbel,saya les balet,punya papa dan mama Kedepannya saya ingin: Menjadi dokter

CHERYL BERSYUKUR

SAYA BERSYUKUR KARENA: Saya punya kakak yang baik,dilahirkan oleh mama,disayang oleh mama dan papa,bisa sekolah,dikasih uang jajan,mempunyai rumah,mempunyai teman yang banyak,mempunyai motor 2,mempunyai baju,badannya sehat,selalu dikasih makan,selalu diajak jalan-jalan,selalu dikasih hadiah,bisa berolahraga,punya kaki,bisa berdoa,bisa membuat imajinasi,bisa tidur,bisa jadi orang Islam,bisa mengaji,bisa berlari,bisa menyanyi Kedepannya cheryl : Bisa naik kelas 2 , Bisa jadi penyiar radio tahun 2020, Bisa selalu punya ayah dan ibu yang baik ,Bisa berimajinasi,bisa berdoa,

AKU BERSYUKUR KARENA.....

Saya masih bisa bernafas, sehat,bisa olahraga tadi pagi,punya istri yang cantik dan sayang padaku, dan anak dan istriku sehat,bisa sholat,bisa jadi dosen,punya anak-anak yang amat sayang,punya istri yang pengertian dan penuh perhatian ,memiliki rumah dan pekerjaan yang layak yang bisa membahagiakan keluarga,bisa berjalan dan kerja jantung cukup prima,bebas bergerak dan menghirup udara segar dirumah dan luar rumah,memiliki anak pertama yang pintar dan mandiri,memiliki anak kedua yang tegas,berani dan teguh dalam memegang kehendak,memiliki anak ketiga yang supel,ramah dan pintar. KEINGINANKU : JADI DOKTOR KOMUNIKASI PADA TAHUN 2012 , NAIK HAJI PADA TAHUN 2009, TAHUN 2008 JADI PENULIS BUKU JURNALISTIK TERKENAL, 2010 PUNYA RUMAH BESAR BERHALAMAN LUAS, 2008 SEHAT BEROLAHRAGA SETIAP HARI 20 MENIT, 2008 BERAT BADAN MENJADI 50 KG TAK LEBIH DAN TAK KURANG, 2008 PUNYA MOTOR HONDA REVO, 2009 PUNYA MOBIL YARIS WARNA HITAM.

CYNTIA BERSYUKUR

Saya sehat hingga hari ini,masih bisa makan dengan kenyang,masih bisa bermain dengan adik-adik,teman-teman sekolah dan rumah,saya dipercaya oleh teman-teman untuk tempat curhat,mempunyai orang tua yang baik dan sayang pada saya,mendapat nilai-nilai cukup baik disekolah,mempunyai teman banyak,masih bisa jalan-jalan kemana-mana,mempunyai hp keren,mempunyai baju-baju yang bagus dan sangat layak pakai,bisa naik motor,punya topi yang bagus,bisa tidur tanpa kepanasan,bisa nonton tv dengan layar lebar,semua kebaikan yang diberikan ALLAH pada saya selama ini,apapun itu,saya masih bisa mengerjakan sholat,saya masih bisa les piano,bimbel dan inggris,saya bisa menggunakan komputer dengan baik,memiliki rumah yang nyaman untuk ditinggali,masih diberikan nafas hingga hari ini oleh ALLAH,mempunyai adik-adik yang manis dan lucu,punya tulisan yang bagus dan menjadi penulis cerpen buat majalah sekolah Dari hal-hal tersebut kedepannya saya : Bisa masuk SMAN 1/2/7/8 [salah satunya],lulus UN dengan nilai sempurna/baik rata-rata 9 [sembilan],bisa sholat lima waktu setiap hari,bisa jadi entertainer di tahun 2009,membina hubungan yang lebih baik dengan adik-adik,punya novel karya sendiri ditahun 2008, lebih serius latihan piano,berhasil UAS,mutihin kulit dan bersihin jerawat dan gendutin badan sedikit . (Cyntia,14 tahun)

MAMA TIA SELALU BERSYUKUR

Segala yang diberikan ALLah kepada mama, bisa memanfaatkan seluruh anggota badan untuk beraktivitas,punya keluarga yang harmonis dan solid, suami yang sangat mencintai dan mempercayai, mendukung segala aktivitas yang dilakukan,anak-anak yang tumbuh cerdas,mencintai dan teramat dekat dengan mama,memiliki prestasi yang lumayan bagus,teteh tia yang membanggakan dengan segala kegiatannya, audi yang punya prestasi di balet, de cheryl yang penuh energik dan memberi inspirasi bagi semua anggota keluarga,mama dipercaya menjadi kepala sekolah dan bekerja diparuh usia yang baya,masih bisa melanjutkan pendidikan master,memiliki keluarga besar yang mensuport satu sama lain,lingkungan tetangga yang relatif kondusif dan memahami karakter mama,punya pengasuh yang care banget sama anak-anakku,memiliki rumah tinggal yang cukup layak huni,kendaraan yang bisa mengantar mama kemana saja,peralatan elektronik pendukung seperti computer,radio tape,tv,hp,dll yang membantu mempermudah dalam melakukan sesuatu,lingkungan pergaulan yang bagus baik di sekolah,di rumah,di tempat bekerja dan terlebih hubungan jalinan kasih sayang antara mama dan papa serta anak-anak tercinta,juga orang-orang yang mensupport secara tidak langsung bagi kebahagiaan kehidupan keluarga mama seperti, iah, om yuni, om haris,om koran,tukang becak langganan dan yang lainnya. Kehidupan spiritual juga cukup lumayan bagus,mama intens melakukannya,cinta mama teramat besar kepada ALLAH dan berusaha menggali dan menumbuhkembangkan potensi sifat NYA dalam diri mama,termanifest dalam tindakan mama. Kesehatan diri yang cukup prima,kecerdasan berpikir dan berpendapat,berargumentasi dengan papa,masih bisa menikmati indahnya dunia beserta segala isinya,bisa tetap mengambil hikmah dengan interaksi dengan orang lain,bisa melakukan dialog tiap minggu dengan keluarga dan kesempatan-kesempatan yang diberikan ALLAH dalam bentuk belajar,berdiskusi,perenungan dan dzikir.

TIPS HIDUP NIKMAT

SEBELAS SIKAP YANG BIKIN ANDA SELALU GAGAL 1. Arogansi: merasa diri paling benar dan yang lain salah 2. MeloDrama: selalu ingin menjadi pusat perhatian 3. Volatility: sulit ditebak, bersikap sesuai mood-nya 4. Excessive Caution: takut mengambil keputusan 5. Habitual Distrust: sikap yang selalu curiga kepada orang lain 6. Aloofness: sulit dihubungi dan berkomunikasi dengan orang lain 7. Mischievousness: peraturan dibuat untuk dilanggar 8. Eccentricity: selalu ingin berbeda, sehingga terkadang dianggap aneh oleh orang lain 9. Passive Resistance: tidak yakin dengan apa yang dia katakan 10. Perfectionism: kebanyakan dianggap salah, hanya sedikit yang benar 11. Eagerness to please: mengejar popularitas dalam setiap situasi

PELATIHAN JURNALISTIK NTT

LAGI BANYAK KERJAAN

Sorry sempet lama ngilang. Bukannya mau bela diri. Aku emang lagi banyak kerjaan minggu-minggu ini. Setelah di awal-awal November memberi pelatihan Jurnalistik terpadu bagi Karyawan Departemen Perhubungan di Hotel Sari Pan Pasific 7- 9 November 2007, aku kemudian berangkat ke Kupang NTT melatih sejumlah staf Humas Setda Humas NTT dari tanggal 11 - 13 November 2007. Capek seeh tapi seneng juga melihat bahwa ternyata kemampuan humas di daerah masih teramat minim. Aku lihat banyak karyawan Humas di daerah --paling tidak yang aku temui di NTT-- masih amat minim dalam penguasaan tulis menulis berita dan Press Release. Itulah sebabnya jauh-jauh Lembaga Pendidikan Jurnalistik datang ke sana untuk memberi pelatihan singkat tapi padat kepada mereka. Outputnya adalah bagaimana menciptakan staf humas yang bisa dengan profesional melayani kepentingan wartawan, staf yang bisa membuat siaran press release yang menarik, staf humas yang punya rasa percaya diri yang tinggi sehingga dia mampu tegar berbicara di depan tanpa takut diberitakan yang negatif.

MY STUDENTS

Thursday, November 01, 2007

AJARAN SESAT

Kadang-kadang aku bingung sendiri melihat fenomena sosial politik yang saat ini tengah terjadi di negeri ini. Saat ini media massa masih ramai memberitakan tentang 'pemberantasan' ajaran dan penangkapan kelompok serta pentolan kelompok Al Qiyadah. Asyik juga yah melihat banyak orang 'agak aneh' kayak bos kelompok ini yang bikin fatwa bahwa kita nggak perlu sholat, puasa dan berhaji. bahkan nggak wajib. lebih gila lagi, dia berani sesumbar bahwa dialah rasul baru menggantikan Nabi Muhammad. Ini jelas kontroversial mengingat di Indonesia ajaran yang syah memang hanya mengakui Muhammad sebagai Rasul atau nabi terakhir. Yang lebih memprihatinkan adalah tindakan anarkis sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam yang akhirnya justru menimbulkan kengerian dan ketakutan tersendiri di kalangan masyarakat.

DUA SEJOLI

aku dan istriku tercinta, saat bercengkrama di Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara. Maklum kita memang selalu dekat dan terus merasa dekat. jadi yah beginilah posenya .

Wednesday, October 03, 2007

SEJARAH KONTROVERSI KEKERASAN MEDIA

Hoberman (1998) mendiskusikan kasus awal kontroversi seputar kekerasan media yang tidak seperti kasus modern seperti Battle Royale. Pada kasus ini, polisi Chicago menolak mengeluaran izin pemutaran film The James Boys In Missouri (1909) di bioskop. Seperti kasus Battle Royal 90 tahun kemudian, masalah yang dirasa adalah film tersebut memiliki pengaruh potensial terhadap perilaku kriminal. Banyak ahli yang melihat Penelitian Payne Fund sebagai permulaan formal dari penelitian ilmiah mengenai dampak media. Penelitian ini menimbulkan respon pada peningkatan keprihatinan masyarakat mengenai kemuningkinan efek gangguan dari seks dan kekerasan dalam film. Studi Payen Fund merupakan hasil dari yayasan sosial dan undangan terhadapa isu ilmiah oleh William Short, seorang direktur eksekutif grup pendidikan privat. Dua penelitian yang mendorong kesadaran mengenai kekerasan media adalah 1. Dale (1935) yang melakukan analisis isi 1500 film yang mengandung tekanan kuat terhadap kejahatan. 2. Blumer (1933) yang melakukan survey terhadap 2000 responden yang menunjukkan kesadaran mereka terhadap fakta bahwa mereka telah meniru secara langsung aksi kekerasan yang telah mereka tonton dalam film kekerasan. Buntut penelitian ini meningkatkan kesadaran publik terhadap kekerasan media. Perhatian ini diperburuk dengan hadirnya analisis Wertham (1954) mengenai isi komik yang tesisnya berbunyi ketidakseimbangan jumlah buku komik yang mengandung gambar-gambar kekerasan yang menakjubkan memberikan kontribusi terhadap kejahatan anak muda laki-laki, banyak dari mereka merupakan konsumen kelas berat dari gambar-gambar tersebut. Perhatian ilmuwan terhadap kekerasan media tidaklah berlarut-larut sampai 1950an ketika terdapat kemungkinan efek televisi publik menarik perhatian pemerintah yang melihat adanya pengaruh negatif pada anak dan kontribusi potensial terhadap kejahatan remaja. Perkembangan televisi di Amerika menimbulkan era baru kontroversi kekerasan media. Schramm, Lyle, dan Parker (1961) mendiskusikan sejumlah contoh peniruan kekerasan yang disebarkan oleh sumber berita pada tahun 1950an. Mereka menyatakan bahwa hubungan antara penggambaran kekerasan di tv dan peniruan kejahatan kekerasan bukanlah tidak sengaja. Perhatian pemerintah Amerika terhadap kekerasan media dimulai dari Senator Estes Kefauver yang mempertanyakan perlunya kekerasan pada tv melalui laporan 1972 dari 23 proyek riset yang berbeda yang didanai Institut Kesehatan Mental Nasional. Walaupun studi-studi tersebut gagal menghasilkan konsensus mengenai efek kekerasan media, mereka memberikan sinyal bahwa topik ini akan menjadi prioritas di masa datang. Seorang ahli, Gerbner mendefinisikan kekerasan sebagai ekspresi terang-terangan dari kekuatan fisik melawan diri sendiri atau orang lain, atau aksi pemaksaan melawan keinginan seseorang terhadap sakitnya disakiti atau dibunuh. Dari definisi tersebut ia menemukan bahwa prime-time tv mengandung delapan contoh kekerasan per jam, rata-rata yang mengindikasikan sedikit perubahan dari studi sebelumnya untuk Komisi Nasional. Dengan lazimnya kekerasan di tv, pintu bagi ahli untuk mempertanyakan dampak isipun terbuka. Pertanyaan apakah menonton kekerasan media mempengaruhi perilaku agresif memang menarik. Sudah begitu banyak ahli melakukan penelitian menganai hal tersebut dengan berbagai metode baik survey maupun eksperimen laboraturium. Kritik terhadap tesis kaitan perilaku agresif sebagai akibat tontonan adegan kekerasan di media salah satunya adalah alat ukur konstruksi tindakan agresif (misalnya memukuli boneka) dianggap tidak berkaitan dengan perilaku agresif manusia. Menurut Bandura, kekerasan media merupakan fasilitator perilaku agresif. Ahli lain, Huesmann menyatakan bahwa kebiasaan agresif diduga dipelajari pada tahap awal kehidupan, sekali ia hadir maka ia akan resisten dan sulit diubah. Bila seorang anak terbiasa menyaksikan tayangan kekerasan dan membntuk pola kebiasaan yang agresif maka menurut Huesmann kebiasaan menyaksikan televisi usia dini berkaitan dengan kriinalitas pada masa dewasa nanti. Kontroversi mengenai efek kekerasan media berkaitan dengan konsep kepentingan statistik, signifikansi statistik, dan kepentingan sosial. Setidaknya terdapat dua aspek yang meminimalkan besarnya efek kekerasan media dan kaitannya dengan perilaku agresif yaitu efek yang timbul sering ditinggalkan oleh pneliti dan kedua, studi yang bisa dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari sering tidak jelas. Selain itu, juga dipertanyakan karena tayangan media sangat banyak dan penonton pun banyak. Apakah bila seseorang berperilaku agresif setelah menonton satu tayangan berarti seluruh lapisan masyarakat yang juga menyaksikan acara tersebut juga memiliki masalah yang sama? Mekanisme teoritis Katarsis. Feshbach (1955) mengemukakan ide yang berpihak pada media yaitu prediksi bahwa tampilan kekerasan pada media akan menyalurkan kemarahan atau kefrustasian penonton untuk menyingkirkan perasaan tersebut, setelah menonton kekerasan media mereka akan mengurangi keinginan berlaku agresif. Ide dasarnya adalah dengan menonton kekerasan media akan memberi jalan bagi penonton melakukan tindakan agresif fantasi mengukung permusuhan dengan jalan pemuasan dan mengurangi perlunya membawa sikap agresif pada dunia nyata. Namun, hasil yang didapat adalah sebaliknya, studi terhadap murid asrama yang menonton kekerasan media (kartun woody woodpecker) menunjukkan hal sebaliknya, mereka berperilaku lebih agresif setelah menonton tontonan kekerasan. Pembelajaran Sosial Bandura (1965) mengemukakan teori bahwa karakter media yang menyajikan model untuk perilaku agresif mungkin dihadirkan oleh penonton, dan tergantung apakah perilaku dihargai atau tidak akan tidak mencegah atau mencegah imitasi perilaku berturut-turut. Studi Bandora menawarkan dukungan yang dapat dipertimbangkan bagi proses pembelajaran sosial. Pernyataan Bandura mengenai teori kognitif sosial menunjukkan bagaimana formulasi awal telah berkembang dan telah berdiri menjadi teori pokok untuk memahami efek kekerasan media. Priming. Berkowits memfokuskan perhatian pada kekerasan media dengan memperhatikan “petunjuk agresif” yang dimiliki dalam isi tipe ini. Menurutnya, petunjuk-petunjuk tersebut akan mengkombinasikan psikis dengan tingkat kemarahan dan frustasi penonton dan akan memicu agresi yang berikut. Jo dan Berkowitz menyempurnakan ide ini dengan menyatakan kekerasan media bisa membentuk pikiran mengenai perilaku agresif dan konsekuensinya membuat perilaku agresif yang nyata semakin disukai. Penelitian lain yang dipengaruhi teori ini adalah pernyataan Bargh yang menyatakan ide bahwa kekerasan tersebut tidaklah bernilai sesaat saja setelah media ditonton, tetapi memiliki efek jangka panjang. Arousal. Zillmann (1991) mengemukakan dugaan bahwa penyebab pemunculan sifat kekerasan media sangat penting untuk memahani intensitas reaksi emosional yang muncul seketika setelah menonton. Arousal juga bisa memperkuat emosi positif yang muncul setelah menonton. Desensitization. Satu jalan mengapa kekerasan media meningkatkan perilaku agresif adalah melalui ketidaksensitifan emosional. Pemunculan kekerasan media yang berulang kali akan menyebabkan kejenuhan psikologis atau penyesuaian emosional terhadap level ketegangan, kegelisahan, atau mengurangi rasa jijik atau lemah. Hal tersebut akan mengurangi kepentingan untuk merespon kekerasan dalam dunia nyata. Ketika sensitivitasan manusia terhadap kekerasan memudar, perilaku kekerasan meningkat karena sudah tidak terdeteksi lagi sebagai perilaku yang seharusnya dibatasi/tidak dilakukan. Cultivation and Fear. Berkaitan dengan kemungkinan menonton kekerasan dalam waktu yang lama akan menumbuhkan sudut pandang partikular mengenai kenyataan sosial dan menyebaban level yang tinggi terhadap ketakutan yang bisa terpatri selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Penelitian Mendatang Akhir-akhir ini, ilmuwan semakin tertarik meneliti dampak kekerasan video games terhadap perilaku agresif. Dill dan Dill mengungkapkan permainan tersebut memang meningkatkan agresivitas, sebuah penemuan yang sejalan dengan penemuan lain. Sparks dan Sparks juga mengungkap sedikit data yang menyimpulkan fakta bahwa program yang mengandung kekerasan media lebih disukai dari program yang tidak mengandung kekerasan. Zillmann dan Weaver mendemonstrasikan bahwa lai-laki dengan psikologis tinggi lebih mudah dipengaruhi kekerasan media. Akhirnya, setidaknya terdapat tiga asumsi dalam lingkaran akademik dan politik mengena efek kekerasan media (1) materi kekerasan lebih sering menghasilkan efek dan efek ini sifatnya cenderung negatif (2) kekerasan media lebih sering menghasilkan pemikiran dan perilaku kekerasan daripada pelukisan media lain (3)kekerasan media lebih layak mendapatkan perhatian peneliti dan tindakan sosial politik daripada penggambaran media lainnya. dari berbagai sumber*

Wednesday, September 26, 2007

AWAS AIDS

Iklan ini punya makna yang dalam, khususnya bila kita kaitkan dengan bahaya Aids yang bisa muncul dari hubungan seks yang tidak sehat. Bila dikaji menggunakan teori segitiga makna Charles Sander Peirce, iklan ini punya interpretant unik. Kamar tidur yang berbentuk seperti nisan memiliki makna bahwa bila tidak diwaspadai maka kenikmatan seksual tanpa ikatan yang jelas bisa berakibat fatal berakibat pada kematian. Jadi hati-hatilah...

AYO MELIPUT KE KAMAR MAYAT !!

Jalan-jalan ke kamar mayat? Siapa takut!!!. Itu kata-kata yang terlontar dari sejumlah mulut mahasiswiku di London School PubliC relations dan Universitas Bunda Mulia. Khususnya bagi mereka yang mengambil kelas Investigative Reporting dan Writting For Public Relations, tugas meliput ke kamar mayat bukan suatu yang aneh. Bahkan dari sejumlah hasil karya tulis mereka soal kebersihan di kamar mayat RSCM -- serta kiat mereka bisa menembus masuk kamar mayat yang penuh dengan aturan dan birokrasi, aku bisa tersenyum-senyum. Ternyata, memang keberanian itu modal utama, setelah itu kegigihan dan usaha untuk mewujudkan kemampuan dan keinginan kita. Sebentar lagi, sejumlah mahasiswa dan mahasiswi ku di Moestopo gantian meliput di kamar mayat RSCM tetapi mereka harus menggunakan kameranya, dan coba menangkap suasana pelayanan public di sana. Susah? Ah nggak juga!! aku selalu tekankan pada mereka bahwa, untuk menjadi seorang jurnalis handal memang nggak mudah, perlu jatuh bangun dan jam terbang. salah satu sarana paling bagus adalah di kamar mayat. Lewat liputan di kamar mayatlah bakal terbentuk pribadi jurnalis yang tahan banting, tak pernah takut dan ragu dalam menerima tugas peliputan mereka dan tetap sabar serta tawakal dalam menerima cobaan. BRAVO KAMAR MAYAT !!!

FOTO HASIL EDITANKU PAKE PHOTOSHOP CS

Saturday, September 22, 2007

AYO BELAJAR JURNALISTIK

BELAJAR JURNALISTIK SAMBIL NUNGGU BUKA PUASA Buat teman-teman, para pelajar SMU atau mahasiswa- baik mahasiswa Jurnalistik atau bidang lain yang tertarik dengan dunia tulis menulis. Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA dengan bangga mempersembahkan acara buat anda: BELAJAR JURNALISTIK SELAMA BULAN RAMADHAN SETIAP HARI DARI PUKUL 15:00 - 18:00 WIB TEMPAT : WISMA LPJA JALAN ANTARA 59 JAKARTA PUSAT DARI 26 SEPTEMBER 2007 - 3 OKTOBER 2007 BIAYA : RP 1.000.000 / orang PESERTA AKAN MENDAPAT SERTIFIKAT Para lulusan LPJA terbukti bisa langsung bekerja di sejumlah media. SEGERA DAFTARKAN NAMA ANDA KE SEKRETARIAT LPJA DENGAN IBU LANTINAH PADA JAM KERJA di NOMOR TELPON 02198495175 BURUAN TEMPAT TERBATAS TERTANDA INDIWAN SETO KEPALA LPJA

Wednesday, September 19, 2007

DASAR-DASAR SIARAN PERS

BASIC NEWS RELEASE Pada dasarnya, sebuah News Release ( Siaran Pers) adalah …..a simple document whose purpose of information in ready –to publish form..(Dennis Wilcox 2003:475). Yakni sebuah dokumen sederhana & simple dengan tujuan jelas siap menyampaikan informasi. Para editor dan wartawan media massa ---tujuan kepada siapa siaran pers dikirimkan—akan menilai News Release sesuai dasar terpenting dalam dunia jurnalistik yakni apakah berita atau informasi yang diberikan itu punya nilai-nilai tinggi sehingga bisa dimuat ataukah hanya Untuk dibuang ke tempat sampah. Biasanya tidak perlu ‘payment’ atau biaya yang harus dikeluarkan dari pemberi Siaran pers demi termuatnya sebuah siaran pers. Meski tidak tertutup kemungkinan bahwa ada media massa yang memang akan meminta bayaran tertentu bila sebuah news release dimuat tetapi bila itu terjadi maka si pengirim yang meminta beritanya dimuat harus bisa ‘mengontrol’ isinya. Dan berita tersebut dianggap sebagai sebuah berita iklan. “…..if an organization or individual purchases space in a publication to present its material, this is a paid advertisement and the purchaser controls the content..” (Dennis 2003:475) Siaran pers seharusnya disajikan dengan jelas dan singkat padat dan menyesuaikan diri dengan gaya atau style penerbitan pers yang dituju, sehingga wartawan atau redaktur bisa merilis isi berita tersebut kepada audiens secara mudah, dengan kualitas berita terpercaya dan akurat Gaya penulisan release harus professional, langsung pada sasarannya.Tidak bertele-tele di mana semua persoalan atau poin penting berada di bagian atas (lead). Semakin ‘pressklar “ (siap terbit) sebuah release akan semakin besar kemungkinan wartawan atau redaktur memanfaatkannya sebagai salah satu bahan berita mereka. Untuk itu maka para penulis release tidak boleh sembarangan. Sebagaimana Dennis berkata: ….a News Release is a purveyor of information, not an exercise in writing style, except in those cases of longer release that are clearly intended to be feature stories…. Sebuah release akan ‘berkompetisi’ sengit melawan puluhan atau bahkan ratusan release yang lain maka dari itu sisi-sisi penulisannya harus bisa menarik perhatian pembaca, menempatkan hal-hal penting di bagian depan dan menggunakan kata-kata yang efektif. Miminal kemampuan penulis release adalah sama dengan kemampuan wartawan yang biasa membuat berita dengan bahasa yang hemat kata, cerdas dan tepat pada sasaran. Pada intinya paling tidak ada tiga perlakuan yang akan diterapkan pada sebuah news release. Yang pertama dikatagorikan sebagai Obvious News yakni berita penting yang akan sesegera mungkin dimuat pada kesempatan pertama. Kedua dikatagorikan ‘Maybe” atau berita atau news release itu baru dimuat apabila si wartawan atau editor punya waktu. Padahal sebenarnya isi dari release itu cukup berharga. Sedangkan katagori ketiga adalah ‘discard’ , di mana sebuah release langsung ditolak atau dibuang karena dianggap tidak punya nilai berita. Katagori release ini biasanya tidak cukup punya daya tarik sehingga bisa disiarkan bisa juga bahwa hal-hal penting di balik release itu tidak dikembangkan PHYSICAL APPEARANCE Ada sejumlah format standar dalam penulisan release sebagaimana dilakukan oleh Public Relations Officer (PRO) diantaranya: 1. use plain white 8 ½ by 11 inch paper ( gunakan kertas warna putih bersih berukuran 8,5 – 11 inc ) 2. Indentitas pengirim harus jelas dituliskan pada Sudut kiri atas dari halaman kertas, diperlengkapi dengan nomor telepon , nama kontak person dan alamat E-mail yang bisa dihubungi setiap saat. 3. Berikan keterangan “For Immediate Release” jika materi yang anda sampaikan memang ditujukan sebagai publikasi yang harus disegerakan pemuatannya. Bila disertai dengan waktu itu menunjukkan bahwa release itu lebih disukai dimuat Berdasarkan waktu yang diinginkan. Misalnya….For Release at 6 p.m Est Feb.12. Ini yang dinamakan ‘embargo’. Terkadang wartawan tidak mematuhi ketentuan embargo, maka dari itu embargo hanya dicantumkan apabila sangat perlu. 4. sisakan ruang sebesar 2 inc untuk kepentingan editing yang memudahkan editor atau wartawan memotong atau membuang hal-hal yang tidak perlu dan tidak bermanfaat 5. mulailah dengan teks berita yang menampilkan ringkasan statement yang actual, relevan dan important information 6. sisakan sedikitnya margin 1.5 inc dan teks berita diketik dua spasi agar memudahkan editor atau redaksi saat mengedit beritanya. 7. jangan sampai menempatkan informasi penting dalam lembaran-lembaran yang terpisah jauh satu sama lain, usahakan semua informasi penting ada di bagian awal news release 8. jangan lupa berilah keterangan ….nomor halaman dan halaman berapa dari jumlah halaman seluruhnya. Pastikan tidak ada informasi yang tercecer dan hilang. CONTENT Content atau isi dari siaran pers harus benar-benar mencerminkan gagasan terpenting dari si pembuat. Ada sejumlah pedoman dalam penulisan Content ini diantaranya: 1.Mulailah menulis release dengan menempatkan unsur-unsur Lead terpenting di bagian depan. 2. Tulisan itu harus bisa menjawab pertanyaan : WHO (siapa yang melakukan), WHAT (apa yang dilakukan) WHEN (kapan kejadian terjadi) WHERE (dimana ) dan WHY ( mengapa hal itu terjadi). 3 Tulisan Lead sebaiknya singkat padat tidak terlalu panjang dan : antara 3 sampai empat baris per paragrapnya ( kurang lebih 35 kata) 4. Hindari penggunaan istilah khusus atau unik yang hanya diketahui oleh anda atau segelintir orang. Bila terpaksa harus ditulis maka setelah kata-kata khusus tersebut harus disertakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar 5. Upayakan penulisan news release menyesuaikan diri dengan kebiasaan wartawan saat menulis atau menggunakan bahasa. Bahasa yang singkat padat, langsung pada sasaran akan lebih disukai ketimbang berita yang panjang lebar seperti gerbong kereta api. Wartawan biasanya menyukai bahasa yang sederhana, gampang dimengerti, hemat kata dan langsung pada sasarannya. 6. Hindarilah ‘cliches’ dan ‘fancy phrase’. Frasa-frasa yang terlalu berlebihan misalnya ‘unique’, revolutionary dan ‘state-of-the-art’ akan dibuang oleh redaksi dan besar kemungkinan news release anda akan dibuang ke tempat sampah. Fact Sheets & Media Advisories Kegiatan pengiriman news release biasanya juga disertai dengan ‘Media Advisories’. Media advisory bisa juga disebut sebagai ‘media alert’ yang sedikit berbeda dari lembaran fakta. Media advisories biasanya memberikan ‘basic fact’ mengenai sebuah kegiatan, ini diharapkan bisa menarik minat wartawan agar mengikuti atau mau melakukan peliputan. Biasanya informasi yang diberikan kepada pers disajikan secara unik dalam kemasan khusus seperti ‘press Kit’. Press Kit biasanya berisi sejumlah materi atau bahan yang terkait dengan kegiatan yang akan dilangsungkan; Di antaranya adalah : 1 Backgrounders ( latar belakang) yang berisi (1) informasi penting mengenai perusahaan/ tim manajemen, (2) product areas/markets & (3) major new products 2. Setiap product baru juga disertai dengan news release tersendiri. 3. Biasanya juga disertai brosur ( enam halaman, full colour diatas kertas glossy mengenai perusahaan dan produk-produknya. 4. Foto hitam putih yang menggambarkan product yang akan diluncurkan atau diperkenalkan kepada public. 5. Slides berwarna mengenai produk utama __________________ DAFTAR PUSTAKA Dennis Wilcox, 2003. Public Relations Strategies And Tactics, Pearson Education, Sevent Edition

Monday, September 17, 2007

KENALIN BINI GUE NEEH

Tinjauan Teori Interaksionis Simbolik pada kasus Kerusuhan Sampit

oleh Yoyoh Hereyah Kasus Sampit di tahun 2001 merupakan salah satu kasus kerusuhan rasial yang menewaskan sejumlah besar orang . menurut catatan beberapa media massa lebih dari seribu orang etnis madura menjadi korban di sana. Kasus ini merupakan kasus cultural yang dinilai besar dan terjadi di masa transisi Indonesia. Menurut Jamie Davidson dalam tesis Ph.D. Violence and Politics in West Kalimantan, Indonesia (Washington University, Seattle: 2002), bungkus tragedi itu adalah kerusuhan anti-Madura. Media mainstream di Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, Balikpapan dan Samarinda diisi dengan komentar-komentar rasialis tentang orang Madura, seakan-akan untuk memberikan legitimasi bahwa orang Madura ... boleh dipotong kepalanya. Orang Dayak dan orang Melayu pun berlomba-lomba menjadikan orang Madura sebagai kambing hitam dalam rangka memperkuat posisi etnik masing-masing. Persaingan terbesar di Kalimantan Barat sebenarnya terjadi antara orang Dayak dengan orang Melayu. Pembunuhan terbesar orang Madura terjadi di Sambas pada 1999 (oleh orang Melayu) dan Sampit pada 2001 (oleh orang Dayak). Kerusuhan Sampit ini marak pada tanggal 17 Februari di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, ketika – dengan alasan masih belum bisa dipastikan - sebuah rumah milik penduduk asli Dayak dibakar habis. Menurut laporan orang-orang setempat, ada komplotan orang Madura yang baru saja tiba berkeliling Sampit sambil memekik ‘Matilah Orang Dayak.’ Ratusan orang Dayak mengungsi keluar dari kota atau berlindung di gereja-gereja. Setelah berita itu menyebar orang Dayak dalam jumlah besar kemudian kembali ke Sampit untuk membalas dendam. Enam orang tewas. Kerusuhan menyebar dengan cepat ke kota maupun kampung sekitar dan mencapai ibukota propinsi Palangkaraya, 220 kilimeter ke sebelah Timur. Dalam sebuah insiden terburuk saat kerusuhan, 118 orang Madura yang sedang dalam perjalanan ke Sampit dibunuh oleh orang Dayak di kampung Parenggean pada tanggal 25 Februari, setelah polisi pengawal mereka melarikan diri.[1] Pada tanggal 2 Maret, kekerasan cukup mereda dan memungkinkan kunjungan Wakil Presiden Megawati selama 30 menit ke kem pengungsi di Sampit yang kemudiaan diikuti dengan kunjungan singkat Presiden Wahid pada tanggal 8 maret ke Sampit dan Palangkaraya. Bagaimanapun ketenangan yang relatif itu hanya bisa tercapai karena sebagian besar pendatang orang Madura sudah bersembunyi di pengungsian, mengungsi ke Banjarmasin, ibukota propinsi tetangga, Kalimantan Selatan, atau sudah dievakuasi ke Jawa. Kekerasan lebih lanjut terjadi setelah kunjungan Abdurrahman Wahid dimana enam orang pengunjuk rasa Dayak ditembak mati polisi.[2] Pada tanggal 22 Maret terjadi lagi kerusuhan di dan di sekitar ibukota Kabupaten Kuala Kapuas. Sebanyak 17 orang lagi dilaporkan tewas dan banyak rumah serta harta benda yang dibakar. Banyak orang Madura meminta perlindungan polisi. Polisi mendapat perintah tembak ditempat terhadap para perusuh. Bulan April kerusuhan baru berupa pembakaran rumah dilaporkan di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat. Menurut polisi setempat, kerusuhan diawali oleh sekitar 400 orang yang tiba dengan menggunakan truk dari arah Sampit yang berhasil menerobos para polisi yang mencegah mereka untuk memasuki kota. Mereka mulai membakari rumah-rumah orang Madura, sekaligus menciptakan arus pengungsi lebih lanjut. Kembali ke Sampit, orang Dayak bentrok dengan polisi pada tanggal 10 April ketika para pengunjuk rasa yang marah memprotes penahanan dan penembakan orang Dayak. Para pengunjuk rasa menuntut agar semua polisi mundur dari kota. Tembakan dilepaskan dan seorang awam tewas.[3] MENGAPA dalam kasus Sampit konflik terjadi hanya antara Dayak dan Madura, sebaliknya dengan suku-suku lain terbina hidup rukun dan damai? Mengapa dalam setiap konflik, di kalangan masyarakat Dayak ada perasaan selalu sebagai pihaknya yang disalahkan? Dan mengapa kejahatan-kejahatan yang dilakukan warga suku Madura tidak diproses secara hukum? Jawaban yang serupa diperoleh di mana-mana. Mulai dari budaya kekerasan yang mereka sebut sebagai akar masalah hingga dugaan kolusi yang terjadi antara aparat penegak hukum dengan warga etnis Madura, terutama di Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur yang dihuni sekitar 160.000 jiwa dengan 60 persen di antaranya etnis Madura. Kasus ini merupakan kasus yang menarik bila dikaji menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik. Mengapa bisa terjadi kerusuhan dan pembunuhan massal terhadap sebuah etnis tertentu oleh etnis Dayak yang sebelumnya diketahui tidak bermasalah? Bagaimana apabila kasus ini dibedah menggunakan Teori Interaksionis Simbolik ? B. KERANGKA PEMIKIRAN Sebelum mengungkap makna dari kasus diatas ada baiknya kita mengungkap apa itu sebenarnya Teori Interaksionisme –simbolik ini.Teori interaksionisme-simbolik dikembangkan oleh kelompok The Chicago School dengan tokoh-tokohnya seperti Goerge H.Mead dan Herbert Blummer. Awal perkembangan interaksionisme simbolik dapat dibagi menjadi dua aliran / mahzab yaitu aliran / mahzab Chicago, yang dipelopori oleh oleh Herbert Blumer, melanjutkan penelitian yang dilakukan George Herbert Mead. Blumer meyakini bahwa studi manusia tidak bisa diselenggarakan di dalam cara yang sama dari ketika studi tentang benda mati. Peneliti perlu mencoba empati dengan pokok materi, masuk pengalaman nya, dan usaha untuk memahami nilai dari tiap orang. Blumer dan pengikut nya menghindarkan kwantitatif dan pendekatan ilmiah dan menekankan riwayat hidup, autobiografi, studi kasus, buku harian, surat, dan nondirective interviews. Blumer terutama sekali menekankan pentingnya pengamatan peserta di dalam studi komunikasi. Lebih lanjut, tradisi Chicago melihat orang-orang sebagai kreatif, inovatif, dalam situasi yang tak dapat diramalkan. masyarakat dan diri dipandang sebagai proses, yang bukan struktur untuk membekukan proses adalah untuk menghilangkan inti sari hubungan sosial.[4] Menurut H. Blumer teori ini berpijak pada premis bahwa (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada “sesuatu” itu bagi mereka, (2) makna tersebut berasal atau muncul dari “interaksi sosial seseorang dengan orang lain”, dan (3) makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat “proses interaksi sosial” berlangsung. “Sesuatu” – alih-alih disebut “objek” – ini tidak mempunyai makna yang intriksik. Sebab, makna yang dikenakan pada sesuatu ini lebih merupakan produk interaksi simbolis.[5] Bagi H. Blumer, “sesuatu” itu – biasa diistilahkan “realitas sosial” – bisa berupa fenomena alam, fenomena artifisial, tindakan seseorang baik verbal maupun nonverbal, dan apa saja yang patut “dimaknakan”. Sebagai realitas sosial, hubungan “sesuatu” dan “makna” ini tidak inheren, tetapi volunteristrik. Sebab, kata Blumer sebelum memberikan makna atas sesuatu, terlebih dahulu aktor melakukan serangkaian kegiatan olah mental: memilih, memeriksa, mengelompokkan, membandingkan, memprediksi, dan mentransformasi makna dalam kaitannya dengan situasi, posisi, dan arah tindakannya. Dengan demikian, pemberian makna ini tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan sebelumnya, tetapi hasil dari proses olah mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi instrumentalnya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukan tindakan dan sikap aktor atas sesuatu tersebut. Dari sini jelas bahwa tindakan manusia tidak disebabkan oleh “kekuatan luar” (sebagaimana yang dimaksudkan kaum fungsionalis struktural), tidak pula disebabkan oleh “kekuatan dalam” (sebagaimana yang dimaksud oleh kaum reduksionis psikologis) tetapi didasarkan pada pemaknaan atas sesuatu yang dihadapinya lewat proses yang oleh Blumer disebut self-indication. [6] Menurut Blumer proses self-indication adalah proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut. Dengan demikian, proses self-indication ini terjadi dalam konteks sosial di mana individu mengantisipasi tindakan-tindakan orang lain dan menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia memaknakan tindakan itu. [7] Lebih jauh Blumer dalam buku yang sama di halaman 78 menyatakan bahwa interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, oleh penafsiran, dan oleh kepastian makna dari tindakan orang lain, bukan hanya sekedar saling bereaksi sebagaimana model stimulus-respons. Selain menggunakan Interaksionis Simbolik, kasus Sampit bisa didekati dengan metode Hermeneutik. Hermeneutik dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau falsafah yang menginterpretasi makna. Pada dasawarsa ini, Hermeneutik muncul sebagai topik utama dalam falsafah ilmu sosial, seni dan bahasa dan dalam wacana kritikan sastera yang mempamerkan hasil interpretasi teks sastera. Perkataan Hermeneutik berasal dari dua perkataan Greek: hermeneuein, dalam bentuk kata kerja bermakna ”to interpret” dan hermeneia, dalam bentuk kata nama bermakna ”interpretation”. Kaedah ini mengutamakan penginterpretasian teks dalam konteks sosiobudaya dan sejarah dengan mendedahkan makna yang tersirat dalam sesebuah teks atau karya yang diselidiki. Dokumen awal menjelaskan bahawa seorang ahli falsafah, iaitu Martin Heidegger menggunakan kaedah Hermeneutik pada tahun 1889-1976. Walau bagaimanapun, Hermeneutik telah mula dipelopori oleh Schleimarcher dan Dilthey sejak abad ke-17 dan diteruskan oleh Habermas, Gadamer, Heidegger, Ricoeur dan lain-lain pada abad ke-20. Menurut Mueller (1997), Hermeneutik adalah seni pemahaman dan bukan sebagai bahan yang telahpun difahami. Hermeneutik juga adalah sebahagian daripada seni pemikiran dan berlatarkan falsafah. Oleh itu, untuk melakukan penginterpretasian terhadap ilmu pengetahuan tentang bahasa, maka adalah penting untuk memahami ilmu pengetahuan individu. Tetapi, pada hakikatnya adalah mustahil untuk menganalisis aspek-aspek psikologi seseorang itu. Kejayaan seni penginterpretasian bergantung kepada kepakaran linguistik dan kebolehan memahami subjek yang dikajinya. C. PEMBAHASAN Kasus Sampit ini berupa sebuah konflik antar etnis Dayak dan Madura . Komunitas Madura telah lama hidup di tanah Kalimantan khususnya Sampit. Mereka beranak pinak dan mempunyai sistem komunitas tersendiri . sejak Desember 1996 secara beruntun warga Madura empat kali menghadapi pertikaian antar-etnis yang sangat dahsyat dan memilukan, mulai dari Sanggau Ledo (Kabupaten Sambas/ Kalimantan Barat) pada Desember 1996. Dari sana, pertikaian dengan etnis Dayak ini terus meluas ke sejumlah kecamatan lain dalam Kabupaten Sambas, Pontianak, dan Kabupaten Sanggau. Lalu, pertikaian itu berakhir 28 Februari 1999. Korban yang tewas diperkirakan sedikitnya 350 orang. Ribuan tempat tinggal hangus dibakar. [8] Belum tuntas masyarakat dari kedua etnis melakukan rekonsiliasi dan rehabilitasi psikis, tiba-tiba kasus yang sama berkobar lagi di Desa Parit Setia yang juga masih di Kabupaten Sambas pada 19 Januari 1999. Setelah itu, situasi keamanan pulih kembali. Namun, 22 Februari 1999 konflik etnis Melayu-Madura ini meletus kembali di Pemangkat, lalu disusul 16 Maret 1999 di Samalantan yang melibatkan etnis Dayak dengan Madura.[9] Sejak itu, emosi massa etnis Melayu dan Dayak sulit dibendung lagi. Pertikaian mulai berkobar ke hampir seluruh wilayah Kabupaten Sambas. Sedikitnya 500 warga dari etnis yang bertikai tewas dibunuh. Semua rumah dan tempat usaha milik warga Madura dirusak dan dibakar. Kurang lebih 68.934 jiwa terpaksa diungsikan ke berbagai lokasi di Kota dan Kabupaten Pontianak, serta Kota Administratif Singkawang. Bahkan, hingga kini warga Madura itu masih bertahan di lokasi pengungsian, dan belum dapat dipastikan kapan mereka akan kembali ke Kabupaten Sambas. ”....Bibit permusuhan yang berkembang di Sambas ternyata menyubur pula di Pontianak. Setahun kemudian, yakni pada 25-28 Oktober 2000, pertikaian Melayu-Madura kembali meletus di ibu kota Provinsi Kalbar, Pontianak. Untung saja, penduduk setempat secara bersama-sama tanpa membedakan etnis langsung meningkatkan pengamanan di wilayah permukiman masing-masing sehingga kerusuhan tidak meluas dan dapat dikendalikan. Kendati demikian, sekitar 17 orang tewas, puluhan becak serta kios milik warga Madura dibakar massa. [10] Dari Kalbar, pertikaian antara penduduk asli Kalimantan dengan Madura menjalar hingga ke Kalteng dengan meletusnya tragedi Sampit pada 18 Februari 2001....” Setiap fenomena sosial politik merupakan produksejarah dan tidak terlepas dari latar belakang sejarahnya (ahistory). Ini berlaku pada fenomena konflik di Kalbar. Sejak tahun 1960-an di Kalbar telah terjadi sembilan kali konflik yang cukup besar. Delapan kali di antaranya adalah konflik antara pendatang baru Madura dengan warga Dayak, dan hanya satu kali dengan Melayu -- Melayu Sambas. Selama delapan kali konflik antara Madura Kalbar dengan Dayak, tak seorang pun dan tak sekali pun Melayu Kalbar bergabung dengan saudaranya, Dayak, memberikan reaksi terhadap Madura Kalbar, walaupun mereka memiliki pengalaman pahit yang sama dalam berhubungan dengan pendatang baru Madura. Kalau kemarahan kolektif Melayu hanya terjadi satu kali, sedangkan warga Dayak dan Madura Kalbar mengalami delapan kali konflik, lalu bagaimana mengukur tingkat kesabaran si Melayu, sedangkan Dayak juga terkenal penyabar? Itulah sebabnya Dayak dan Melayu dapat menjalin hubungan dengan kelompok etnik mana pun AWAL pertikaian antar-etnis di Kalbar dan Kalteng sebetulnya dipicu oleh persoalan yang sangat sepele. Kerusuhan Sanggau Ledo, misalnya, dipicu oleh adanya kecemburuan seorang pemuda Madura, sebab pacarnya diajak menari oleh seorang pemuda Dayak dalam suatu pesta pernikahan. Kecemburuan itu diluapkan dengan menikam pemuda Dayak hingga tewas sehingga menimbulkan kemarahan keluarga korban. Pertikaian di Parit Setia berawal dari seorang warga bernama Hassan yang kedapatan mencuri, lalu dihajar warga setempat. Tindakan penduduk Parit Setia ini tidak diterima keluarga Hassan, lalu tepat pada hari Idul Fitri, 19 Januari 1999, ratusan warga Madura menyerang perkampungan Parit Setia, mengakibatkan tiga warga (Melayu) tewas. Sedangkan tragedi berdarah di Pemangkat pada 22 Februari 1999, disebabkan ulah Rodi bin Muharap (Madura), penumpang bus dari Singkawang yang tidak mau membayar. Saat ditagih Bujang Lebik bin Idris, kernet bus yang ditumpangi Rodi, dia malah membacok Bujang hingga tewas. Sementara itu, kerusuhan di Samalantan pada 16 Maret 1999 juga dimulai dari kasus yang sangat sepele. Saat itu 13 pemuda setempat (Dayak) yang baru pulang kerja menggunakan sebuah mobil, dicegat warga Madura di Desa Perapakan (Pemangkat), lalu seorang di antaranya dibunuh.[11] C.1. BEDA BUDAYA YANG MENYOLOK Menurut Kompas (12 April 2001), etnis madura digambarkan sebagai etnis yang keras , egois dan permisif terhadap laranagan larangan yang di berlakukan oleh etnis Dayak. Mengutip LH Kadir, pemuka masyarakat Dayak di Kalbar melihat ada empat hal dasar yang selama ini kurang dipahami masyarakat Madura yang berdomisili di Kalimantan. Pertama, bagi masyarakat adat Kalimantan, khususnya etnis Dayak, senjata tajam sangat dilarang keras dibawa ke tempat umum. Menemui ataupun bertamu ke rumah orang lain dengan membawa senjata tajam ditafsirkan sebagai ancaman atau ajakan bertempur. Senjata tajam juga tidak diperkenankan mencederai atau melukai orang lain, khususnya anggota masyarakat adat Dayak. Apabila hal itu terjadi, pelakunya wajib membayar denda adat yang disebut pemampul darah. Jika korban yang dilukai itu tewas, maka pelaku dikenai hukum adat pati nyawa. Namun demikian, kalau tindakan mencederai orang lain itu dilakukan berkali-kali oleh kelompok yang sama terhadap kelompok masyarakat yang sama pula, persoalannya bisa menjadi lain. Kasus yang tadinya hanya sebatas individu, berubah menjadi masalah kelompok sosial, karena dianggap sebagai pelecehan terhadap adat. [12] Semangat solidaritas dalam menghadapi segala gangguan tercermin dalam simbol adat yang disebut "mangkok merah" (Dayak Kenayan) atau bungai jarau (Dayak Iban). "Apabila simbol ini sudah bergerak, maka keadaan bisa menjadi lain. Pertikaian kolektif pun tidak terelakkan lagi," jelas Kadir. ” Kedua, dalam tradisi penduduk asli Kalimantan, mencuri barang orang lain dalam jumlah besar adalah tabu. Alasannya, menurut adat dan kepercayaan masyarakat setempat, barang dan pemiliknya telah menyatu; ibarat jiwa dan badan. Dengan demikian, apabila barangnya diambil tanpa izin, diyakini bakal mengganggu seluruh jiwa keluarga pemilik. Sebagai konsekuensi, pemilik barang akan sakit, bahkan tidak tertutup kemungkinan meninggal. Ketiga, pinjam-pakai tanah antarpenduduk baik di dalam maupun di luar komunitas masyarakat adat tanpa pamrih merupakan hal yang lumrah. Dalam peminjaman itu biasanya hanya didasarkan pada saling percaya tanpa disertai surat perjanjian. Namun, pola ini cenderung dilanggar oleh warga pendatang, khususnya etnis Madura. Ketika pemilik hendak mengambil lagi tanahnya, sering mendapat reaksi yang kurang simpatik dari peminjam. Bahkan, peminjam pun mengklaim tanah itu adalah miliknya, sebab dia yang menggarap. Mengingkari perjanjian lisan, dalam hukum adat Dayak disebut balang semaya (ingkar janji) atau penipuan. Hukumannya setimpal dengan perampasan hak orang lain dengan kekerasan. Keempat, dalam tradisi masyarakat Dayak, ikrar perdamaian harus bersifat abadi sehingga hanya dilakukan sekali oleh kelompok yang bertikai. Pelanggaran terhadap perjanjian damai dinilai sebagai wujud pengkhianatan sehingga ikrar yang diucapkan sebelumnya sebatas demi adat. Pelanggaran tersebut dikategorikan sebagai pelecehan adat sekaligus pernyataan permusuhan oleh semua anggota komunitas dari pelanggar perjanjian.” ( LH Kadir, Kompas, 12 April 2001) Menurut Kadir lagi, Upacara adat perdamaian yang digelar bukan hanya bernilai adat, tetapi juga moral sekaligus mengandung unsur magis-religius. Hal itu disebabkan perjanjian disaksikan penguasa alam semesta atau dalam bahasa setempat disebut Betara atau Jubata. Karenanya, perdamaian yang digelar setelah pelanggaran itu takkan pernah efektif lagi hingga kapan pun. "Buktinya, hingga kini kerusuhan Dayak-Madura sepertinya sulit berakhir. Karena perjanjian damai pertama yang dibuat tahun 1959 telah dilanggar warga Madura," kata Kadir yang melihat kunci penyelesaian konflik kedua etnis ada pada kesungguhan seluruh lapisan masyarakat Madura untuk beradaptasi dan berperilaku sesuai tradisi serta adat warga Kalimantan. Tanpa didukung kesadaran itu mustahil perdamaian abadi dengan warga asli Kalimantan akan terwujud.[13] Stereotip orang Madura pernah dihimpun oleh Huub de Jonge berjudul "Stereotypes of the Madurese".[14] Dilukiskan, betapa, pada zaman kolonial, orang Jawa sudah mengembangkan penilaian negatif terhadap orang Madura. stereotip orang Madura adalah licik, tidak jujur, ekstrovert, kasar, suka balas dendam, suka merampok, temperamen panas, mudah menghunus senjata tajam, carok (bertarung sampai mati demi kehormatan), kotor, suka berpakaian norak menyala dan bertampang jelek. “…..Mungkinkah orang Dayak juga telah mengembangkan stereotip (negatif) tentang orang Madura dan itu mempengaruhi sikap mereka? Jauh sebelum kerusuhan Sampit meletus, orang Cina memberikan sebutan "sankhe" kepada warga Madura di Kalbar yang berkonotasi liar, jorok, hidup tak menetap, makan dengan mengais atau mencuri dari sana-sini. Sankhe itu adalah ayam hutan. Bagaimana stereotip orang Dayak? Masih banyak orang Jawa percaya bahwa orang Dayak bertampang aneh dan misterius. Mereka berekor dan tubuh berbulu lebat. Orang Dayak juga ahli perdukunan. Suka memenggal kepala orang lain. Lantas, bagaimana menurut orang Madura? ....orang-orang Madura juga mengembangkan atau mempercayai stereotip tertentu terhadap orang Dayak....” [15] Dari segi ekonomi etnis madura mempunyai penghidupan yang lebih layak dengan berbagai bisnis yang mereka kuasai( Khususnya bisnis kayu) . Dalam desertasi Hendro S. Sudagung, Migrasi Swakarsa Orang Madura ke Kalimantan Barat, kedatangan orang Madura ke daerah ini, dibagi dalam tiga periode. Pertama, 1902-1942 ketika Kalimantan dan Madura diperintah oleh Kerajaan Belanda. Migrasi ini berlangsung lambat dan terus-menerus. Kedua, migrasi yang terjadi pada zaman peralihan kekuasaan, saat Perang Dunia II, antara 1942 dan 1950. Saat itu Jepang menduduki Hindia Belanda, lalu terjadi kekosongan kekuasaan, sesudah Amerika mengalahkan Jepang pada Agustus 1945. Antara 1945-1950, terjadi diplomasi internasional guna menetapkan status Hindia Belanda dimana pemenangnya sebuah negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Ketiga, migrasi yang terjadi pada zaman Republik Indonesia, 1950-1980. Perpindahan orang Madura ke Kalimantan Barat, juga dikarenakan faktor perdagangan. Orang Madura biasa mengarungi lautan, dan menjadi pedagang antarpulau. Selain mendarat di Ketapang dan Pontianak, para pedagang sapi itu, juga mendarat di pelabuhan Pemangkat, di daerah kekuasaan keraton Sambas. “Karena biasa berlabuh di Pemangkat, akhirnya menetap di sana,” kata H. Syamsuddin dari Yayasan Korban Kerusuhan Sosial Sambas. Orang tua Syamsuddin datang ke Pemangkat pada 1923. Pemangkat adalah satu dari tiga daerah Sambas dimana terjadi pembunuhan dan pengusiran orang Madura besar-besaran pada 1999. Kini Sambas “bersih” dari orangMadura. Di Kalimantan, orang Madura, ibarat imigran kebanyakan, pekerja keras dan ulet. Mereka bekerja sebagai buruh atau petani. Tugasnya membuka hutan, ladang, kebun, menggali parit, hingga memecah batu. Upahnya kecil. Selain rajin, orang Madura dianggap taat pada majikan bila bekerja. Tak heran, permintaan tenaga kerja orang Madura, terus meningkat. Menurut Sudagung, biasanya, orang Madura yang datang ke Kalimantan Barat, dari Bangkalan dan Sampang di Pulau Madura.[16] Sedang kan orang Dayak adalah masyarakat yang defensive dan sebenarnya tidak reaktif . Banyak orang bilang bahwa etnis ini adalah etnis yang penyabar dan jarang marah. Etnis ini punya sistem hubungan yang cukup baik dengan etnis lain seperti saling menghormati dan sangat percaya atas apa yang dilakukan orang pada dirinya. Namun kepercayaan mereka itu bukannya tanpa balasan artinya mereka bisa sangat kecewa jika dibohongi atau dikecewakan. Mereka bisa sangat baik dan menghamba jika di perlakukan baik namun akan sangat marah jika dikecewakan atau dibohongi. Perbedaan budaya pada dua komunitas ini melahirkan perbedaan pemaknaan tentang kehidupan masing masiang . Si etnis Dayak menyatakan bahwa Orang Madura telah melanggar batas- batas nilai mereka dan si Madura menganggap itu biasa bagi mereka. Akhirnya konflik di sampit pun terjadi ini diperparah dengan adanya kesenjangan ekonomi dan mungkin juga factor provokator. Alhasil Selama kebih dari seminggu ribuan warga Madura terbantai dengan kepala terputus dan yang masih hidup eksodus besar besaran ke beberapa pulau termasuk pulau madura sendiri. Kasus ini mungkin akan terulang lagi dimasa depan dengan dan skenario yang berbeda namun tetap masalah yang sama adanya miskoordinasi pemaknaan dan komunikasi antara komunitas budaya dan etnis tertentu. [1] Sumber : Kerusuhan di Kalimantan Tengah, pernyataan Tapol dan DTE, 2/Mar/01; Pemerintah Indonesia Harus Melindungi Warganya Dengan Tepat dan Tegas! Pernyataan Bersama LSM Tentang Tragedi Sampit, Jakarta, 1/Mar/01 [2] BBC Worldwide Monitoring 23/Mar/01; Jakarta Post 10/Apr/01; [3] Kerusuhan di Kalimantan Tengah, pernyataan Tapol dan DTE, 2/Mar/01; Pemerintah Indonesia Harus Melindungi Warganya Dengan Tepat dan Tegas! Pernyataan Bersama LSM Tentang Tragedi Sampit, Jakarta, 1/Mar/01 [4] Bisa dibaca lebih jelas pada karya Stephen W. Littlejohn (1995). Theories of Human Communication, 5th Edition. Belmont, Wadsworth Publishing Company [5] When Mead had to give up his position as a lecturer at the University of Chicago due to illness, Blumer took over and continued his work. In his 1937 article "Social Psychology", Blumer coined the term symbolic interactionism and summarised Mead's ideas into three premises: The way people view objects depends on the meaning these things have for them. This meaning comes about as a result of a process of interaction. The meaning of an object can change over time. [6] Blumer, 1969, Ibid.hal.81 [7] Herbert Blumer, Symbolic Interaction: Perspective and Method (1969) hal.81 [8] Baca Harian Kompas Kamis, 12 April 2001 , Laporan Kompas Dari Sanggau Ledo hingga Sampit [9] Ibid. [10] Ibid. [11] Harian Kompas Kamis, 12 April 2001 , Laporan Kompas Dari Sanggau Ledo hingga Sampit [12] Kompas, 12 April 2001 [13] Kompas, 12 April 2001 [14] Across Madura Strait (Kees van Dijk dkk. 1995. Leiden: KITLV Press) [15] Baca hasil kajian P. Florus Peneliti Kebudayaan Dayak dari Institut Dayakologi, Pontianak di Majalah D&R, 1 Maret 1997 [16] Kompas, 12 April 2001

CLAUDIA SHINTA OKTA WIBOWO

GLOSSARY BERGER & LUCKMAN

Berger,peter.L dan Luckman, Thomas, the social construction of reality: a treatise it’s the sociology of knowledge,Anchor books, New york,1966 Knowledge: the certainty that phenomena are real and that they possess specific characteristics. (p. 1). “Commonsense knowledge is the knowledge I share with others in the normal, self-evident routines of everyday life” (p. 23). The objectivated meanings of institutional activity are conceived as “knowledge” and transmitted as such” (p. 70). See also pp.65-66. Sociology of Knowledge: “…is concerned with the analysis of the social construction of reality”. (p. 3) “How is it possible that subjective meanings become objective facticities? How is it possible that subjective activity should produce a world of things? An adequate understanding of ‘reality sui generis’ of society requires an inquiry into the manner in which this reality is constructed. This inquiry, we maintain, is the task of the sociology of knowledge. (p. 18) Reality: “a quality appertaining to phenomena that we recognize as having a being independent of our own volition (we cannot “wish them away”). (p. 1) Different spheres of reality: “Different objects present themselves to consciousness as constituents of different spheres of reality….I am attentive to them in different ways. My consciousness, then, is capable of moving through different spheres of reality. Put differently, I am conscious of the world as consisting of multiple realities. As I move from one reality to another, I experience the transition as a kind of shock. This shock is to be understood as caused by the shift in attentiveness that the transition entails. Waking up from a dream illustrates this shift most simply…. (p. 21). The reality of everyday life: “presents itself as the reality par excellence”; “an intersubjective world, a world that I share with others,” (p.23) which is “an ordered reality” that “appears already objectified.” (p.21) “This intersubjectivity sharply differentiates everyday life from other realities of which I am conscious. I am alone in the world of my dreams, but I know that the world of everyday life is real to others as it is to myself....I know that there is an ongoing correspondence between my meanings and their meanings in this world, that we share a common sense about its reality”. (p. 23). Dialectical relationship of man and the social world: “Man…and his social world interact with each other. The product acts back upon the producer. Externalization and objectivation are moments in a continuing dialectical process. The third moment in this process is internalization….Society is a human product. Society is an objective reality. Man is a social product.” (p.61)

JENIS JENIS PENELITIAN

Penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis penelitian, misalnya: Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Penelitian historis menerapkan metode pemecahan yang ilmiah dengan pendekatan historis. Proses penelitiannya meliputi pengumpulan dan penafsiran fenomena yang terjadi di masa lampau untuk menemukan generalisasi yang berguna untuk memahami, meramalkan atau mengendalikan fenomena atau kelompok fenomena. Penelitian jenis ini kadang-kadang disebut juga penelitian dokumenter karena acuan yang dipakai dalam penelitian ini pada umumnya berupa dokumen. Penelitian historis dapat bersifat komparatif, yakni menunjukkan hubungan dari beberapa fenomena yang sejenis dengan menunjukkan persamaan dan perbedaan; bibliografis, yakni memberikan gambaran menyeluruh tentang pendapat atau pemikiran para ahli pada suatu bidang tertentu dengan menghimpun dokumen-dokumen tentang hal tersebut : atau biografis, yakni memberikan pengertian yang luas tentang suatu subyek, sifat dan watak pribadi subyek, pengaruh yang diterima oleh subyek itu dalam masa pembentukan pribadinya serta nilai subyek itu terhadap perkembangan suatu aspek kehidupan. Penelitian deskriptif adalah penelitian tentang fenomena yang terjadi pada masa sekarang. Prosesnya berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta analisis dan penafsiran data tersebut. Penelitian deskriptif dapat bersifat komparatif dengan membandingkan persamaan dan perbedaan fenomena tertentu; analitis kualitatif untuk menjelaskan fenomena dengan aturan berpikir ilmiah yang diterapkan secara sistematis tanpa menggunakan model kuantitatif; atau normatif dengan mengadakan klasifikasi, penilaian standar norma, hubungan dan kedudukan suatu unsur dengan unsur lain. Penelitian teoritis adalah penelitian yang hanya menggunakan penalaran semata untuk memperoleh kesimpulan penelitian. Proses penelitian dapat dimulai dengan menyusun asumsi dan logika berpikir. Dari asumsi dan logika tersebut disusun praduga (konjektur). Praduga dibuktikan atau dijelaskan menjadi tesis dengan jalan menerapkan secara sistematis asumsi dan logika. Salah satu bentuk penerapan asumsi dan logika untuk membentuk konsep guna memecahkan soal adalah membentuk model kuantitatif. Dalam beberapa penelitian teoritis tidak diadakan pengumpulan data. Penelitian ekperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan menciptakan fenomena pada kondisi terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan sebab-akibat dan pengaruh faktor-faktor pada kondisi tertentu. Dalam bentuk yang paling sederhana, pendekatan eksperimental ini berusaha untuk menjelaskan, mengendalikan dan meramalkan fenomena seteliti mungkin. Dalam penelitian eksperimental banyak digunakan model kuantitatif. Penelitian rekayasa (termasuk penelitian perangkat lunak) adalah penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapatkan kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Rancangan tersebut merupakan sintesis unsur-unsur rancangan yang dipadukan dengan metode ilmiah menjadi suatu model yang memenuhi spesifikasi tertentu. Penelitian diarahkan untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Penelitian berawal dari menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah. Penelitian perangkat lunak komputer dapat digolongkan dalam penelitian rekayasa.

AYAH IBUKU DI MASA LALU

SEMIOTIKA DAN POLITIK MEDIA MASSA

Media massa sebagaimana lembaga-lembaga pendidikan , agama dan seni serta kebudayaan merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatutan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa.[1] Akan tetapi pandangan Althusser tentang media ini dianggap oleh Antonio Gramsci ( 1971) justru mengabaikan resistensi ideologis dari kelas tersubordinasi dalam ruang media. Bagi Gramsci, media massa merupakan arena pergulatan antar ideologi yang saling berkompetensi. Antonio Gramsci melihat media sebagai sebuah ruang di mana berbagai ideologi direpresentasikan. Ini berarti, di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa, jadi alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik.[2] Namun di sisi yang lain, media juga bisa jadi alat resistensi terhadap kekuasaan. Media massa bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan, sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Menurut Alex Sobur (2001), walaupun ada perbedaan pandangan mengenai media dari Gramsci dan Althusser, keduanya sama-sama sepakat bahwa media massa bukanlah sesuatu yang bebas, independen tetapi media memiliki keterkaitan dengan realitas sosial.[3] Artinya, dalam setiap teks yang dihasilkan media ada berbagai kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara. Dalam diri media massa juga ada kepentingan-kepentingan terselubung seperti kepentingan pemilik modal, kepentingan keberlangsungan lapangan kerja bagi para wartawan, karyawan dan sebagainya. Dalam kondisi seperti ini, media massa tidak mungkin berdiri statis dan netral di tengah-tengah, media massa bergerak dinamis di antara pusaran-pusaran kepentingan yang sedang bermain. Kenyataan inilah yang membuat dan menyebabkan terjadinya bias di media massa. Dalam masyarakat modern mana pun , media memainkan peran penting untuk perkembangan politik masyarakatnya. Pers kerap disebut sebagai salah satu pilar demokrasi. Tetapi dalam kenyataannya, sering terjadi bias dalam berita-berita di media massa. Sementara sebagian orang melihat media massa tidak pernah dan tidak akan lebih banyak memberikan kebenaran atau kenyataan secara ‘apa adanya’. Media lebih banyak menjanjikan mimpi dan fiksi. Media massa tidak menunggu peristiwa lalu mengejar, memahami kebenarannya dan memberitakannya kepada publik. Media mendahului semua itu, dia menciptakan peristiwa. Menafsirkannya, dan mengarahkan terbentuknya kebenaran. Tidak selalu untuk melayani kepentingan pihak-pihak tertentu secara setia dan terkontrol. Dengan begitu, realitas dan subjek politik menjadi luntur. Keduanya tidak lenyap, tetapi tidak lagi bisa otonom, autentik apalagi menjadi pusat dalam sejarah kontemporer. Baik realitas politik maupun subjek politik tidak selalu menjadi lebih penting ketimbang apa yang dikatakan media tentang mereka.[4] Secara berkelakar, negarawan Amerika Serikat , Adlai Stevenson sebagaimana dikutip Macnamara, berkata : “Editor adalah orang yang memisahkan gandum dari kulitnya dan mencetak kulit tersebut,”. Kutipan lain yang senada dengannya disampaikan Macnamara mengenai apa yang dipikirkan orang tentang media: “Dokter menyembunyikan kesalahannya. Pengacara menggantungnya. Editor justru menaruhnya di halaman depan,”.[5] Kritikus dan editor, Sam Lipski mengatakan bahwa media telah menjadi elite kekuasaan baru. Menurut Sam, wartawan tidak lagi menjadi ‘kelas empat’. Mereka merupakan kelas baru. “Media ingin melihat diri mereka sebagai anjing penjaga. Tetapi sekarang ini mereka telah tumbuh menjadi anjing yang sangat besar dan menakutkan. Mereka juga sangat mudah menyebar, sangat kuat dan meskipun demikian, di mana pengawasan dan keseimbangan berada? [6] Media massa kerap dituduh bias dalam memilih informasi untuk dipublikasikan atau disiarkan dan dalam pengolahan informasi mereka. Bias media sebagai dalih merupakan salah satu isu yang paling mengganggu mengenai media massa di masyarakat. Bias , menurut Macmanara, terjadi karena berbagai alasan. Terkadang terjadi dengan sengaja karena wartawan atau editor memproyeksikan pandangan pribadi mereka dalam cerita atau pandangan yang telah ditunjukkan kepada mereka. Ini terjadi karena sistem atau tuntutan media yang menghimpit akan kecepatan dan rasa haus yang tak pernah terpuaskan terhadap berita sedangkan ada ‘deadline’ ( tenggat waktu) yang sedikit. Kadang-kadang bias juga terjadi karena standar pelatihan dan pendidikan yang kurang memadai di antara reporter, meskipun ini secara mantap sedang diatasi dengan banyaknya wartawan yang memiliki kualifikasi universitas. Bias juga bisa terjadi secara tidak sengaja. Bias macam ini terjadi melalui kesalahan wartawan yang bekerja di bawah tekanan batas waktu, informasi salah yang disampaikan narasumber kepada reporter dan adanya ‘human error’. Soal bias dalam media bukan cuma monopoli media nasional Indonesia, tapi kecenderungan ini juga terjadi di Amerika dan negara barat di mana kebebasan pers konon dijunjung tinggi dan profesionalitas wartawannya begitu dinilai tinggi. Bias terjadi juga di media barat ketika berhadapan dengan isu atau peristiwa yang berlawanan dengan kepentingan pemilik media. Derajat bias media ini, setidaknya dipengaruhi oleh tiga hal: kapasitas dan kualitas pengelola media, kuatnya kepentingan yang sedang bermain dalam realitas sosial, serta taraf kekritisan dari masyarakat. Fakta peristiwa umumnya disajikan lewat bahasa berita dan bahasa bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Bahasa tidak netral, dan uniknya tidak pula sepenuhnya berada di bawah kontrol kesadaran. Karena itu, bias yang berasal dari bahasa adalah bias yang amat berbahaya, ibarat musuh yang menikam dari belakang. Para reporter juga para editor berkuasa penuh atas pilihan kata yang hendak dipakainya. Reporter atau editor dapat dan harus memilih salah satu kata di antara deretan kata-kata yang hampir mirip namun berbeda “rasanya”. Misalnya, sebuah penelitian terhadap fenomena perkosaan dalam pemberitaan surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Suara Merdeka, menemukan ada 22 kata yang digunakan untuk mengganti kata “ perkosaan”, yaitu (1) direngut kegadisannya, (2) mencabuli, (3) menggauli, (4) menggagahi, (5) menakali, (6) dianui, (7) dikumpuli, (8) menipu luar dalam, (9) digilir, (10) dinodai, (11) digarap, (12) dihamili, (13) korban cinta paksa, (14) dipaksa berhubungan intim, (15) berbuat tidak senonoh, (16) memaksa bersetubuh, (17) korban kuda-kudaan, (18) memaksa memenuhi nafsu birahi, (19) dipaksa melayani, (20) melakukan perbuatan asusila, (21) digelandang, (22) dipaksa melakukan permainan ibu-ibuan. Pilihan kata-kata atau istilah tersebut bisa menimbulkan bias.[7] Bias media ini dalam perkembangannya lebih jauh bisa mengarah pada upaya membunuh Karakter suatu tokoh atau kelompok. Figur tokoh penting dan berpengaruh seperti ketua partai, menteri bahkan presiden menjadi sasaran empuk pemberitaan media massa dan sangat memungkinkan terjadinya bias yang amat besar antara realitas yang sesungguhnya dengan realitas media yang dipublikasikan kepada masyarakat. Adalah Paul Johnson yang coba mengingatkan pers agar tidak tergelincir melakukan tujuh dosa besar di mana bias media adalah salah satunya. Tujuh dosa itu adalah (1) distorsi informasi, (2) dramatisasi fakta palsu, (3) mengganggu privacy, (4) pembunuhan Karakter (character assassination), (5) eksploitasi seks, (6) meracuni benak pikiran anak-anak dan (7) penyalahgunaan kekuasaan.[8] Media massa tanpa disadari –atau bahkan menyadari betul-betul—telah melakukan salah satu atau sejumlah ‘dosa besar’ versi paul Johnson. Dramatisasi fakta palsu sering dilakukan media saat materi atau bahan pemberitaannya tidak atau kurang menarik atau atraktif. Kemudian lewat teknologi canggih fakta yang biasa-biasa saja dibuat dramatis dan menarik secara audiiovisual . Bisa juga, pihak media melakukan ‘gangguan atas fakta yang didapatnya’ sehingga informasi yang sampai ke tangan pemirsa atau pembaca sudah terdistorsi. Dosa lain yang juga kerap dilakukan adalah mengganggu kehidupan privacy seseorang. Wartawan seringkali tidak memperdulikan hak asasi manusia khususnya privacy. Dalam peliputannya kehidupan pribadi artis tak lagi jadi sesuatu yang sifatnya pribadi, sehingga sang artis merasa amat terganggu. Di bidang politik dosa pers yang tak kalah hebohnya adalah ‘pembunuhan karakter’, dramatisasi fakta palsu atau distorsi informasi.Cara yang sering dilakukan pers adalah dengan melakukan ‘labeling’ atau penilaian tak adil tanpa fakta yang benar terhadap seseorang, atau penggunaan kata-kata yang menghujat dan menjatuhkan citra atau nama baik seseorang. Terkait dengan itu , Semiotika bisa dijadikan sebagai ‘pisau kajian’ untuk menganalisa penggunaan kata-kata dalam teks berita yang bersifat menghujat, menghina atau melakukan labeling. Labeling mirip eufemisme tetapi ada perbedaan yang menonjol. Apabila eufemisme merupakan istilah inofensif sebagai pengganti istilah yang tidak menarik (misalnya menggunakan kata ‘usaha pengendalian dan rehabilitasi ‘untuk pengganti kata pengucilan), labeling (penjulukan) adalah penerapan kata-kata offensive kepada individu, kelompok atau kegiatan.[9] Upaya menganalisis praktik-praktik penjulukan ini pernah dilakukan oleh Farrel Corcoran terhadap liputan-liputan sejumlah majalah yang terbit di Amerika Serikat yakni Time, Newsweek dan US News and World Report, saat meliput insiden penembakan pesawat komersial Korea Selatan oleh tentara Soviet pada tahun 1993. Insiden tersebut akhirnya menewaskan seluruh penumpang Korean Airlines bernomor penerbangan 007 tersebut.[10] Corcoran dalam penelitian itu menemukan bahwa ketiga majalah secara semiotika telah menggambarkan atau lebih tepatnya menjuluki Uni Soviet sebagai bangsa yang barbar,bodoh,tiranik & kacau dan sensitive secara politik (Ignorant,drab, politically sensitive,Tyranical dan Barbaric). Kejadian tersebut dimanfaatkan media Amerika untuk menghadirkan citra uni soviet sebagai bangsa yang jahat. Sedangkan sebaliknya, media-media tersebut mengklaim diri mereka sebagai wakil publik (masyarakat) Amerika, dan menjadikan diri mereka sebagai agen virtual dari pemerintah Amerika untuk menghadapkan dua ideologi kebaikan dan kejahatan melalui Tulisan-tulisan. Tentu saja kebaikan yang dimaksud adalah Amerika Serikat sementara yang mewakili kejahatan adalah Uni Soviet. Jauh-jauh sebelumnya di jaman Jerman Nazi, golongan elit yang berkuasa memberi label pada golongan Yahudi dengan kata-kata ‘parasit’, binatang pengganggu dan baksil atau kuman dan dengan adanya kata-kata itu, mereka menetapkan golongan Yahudi bukan sebagai manusia melainkan sebagai hama untuk dibasmi dengan sedikit atau tanpa rasa berdosa. Di era saat ini, saat Amerika begitu kuat. Upaya-upaya negara Muslim yang tidak setuju terhadap keinginan Amerika dianggap sebagai fundamentalis, ekstrimis bahkan bisa disebut sebagai pendukung terorisme, sementara mereka yang mendukung kebijakan Amerika di Timur Tengah dianggap sebagai negara Islam yang moderat. Begitu juga dalam kasus Palestina, setiap upaya pemerintah mengajukan usulan maka disebut sebagai usulan perdamaian, lain halnya bila pihak Palestina atau negara Arab mengajukan usulan yang senada dan memperjuangkan kepentingan Palestina maka dianggap sebagai ‘penolakan’. Kata-kata berikutnya adalah terorisme. Terorisme pada mulanya berarti tindakan kekerasan disertai dengan sadisme yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti lawan. Dalam kamus adikuasa Amerika Serikat, terorisme bisa diartikan tindakan protes yang dilakukan negara-negara atau kelompok kecil terhadap usulan AS. Pembunuhan tiga orang Israel di Lanarca adalah terorisme, tetapi pembantaian Rakyat Irak yang tak berdosa dalam perang Irak 2003 lalu bukan disebut sebagai aksi terorisme tetapi aksi menggulingkan pemerintahan Sadam Husein atau upaya membebaskan Rakyat Irak terhadap rezim lalim. Di Indonesia sendiri , rezim Orde Baru ditandai dengan banyaknya melakukan aksi penjulukan terhadap pihak-pihak yang tidak dikehendaki atau tidak mereka sukai atau mereka yang dianggap bakal mengganggu statusquo. Maka berhamburanlah julukan-julukan seperti OTB (Organisasi tanpa Bentuk), Komunis ,anti pancasila, GPK, subversive, Bonek, ekstrem kanan, fundamentalis, Islam radikal, provokator. Aksi penjulukan ini sedikit banyak akan mempengaruhi citra si korban di tengah masyarakat, dan lambat laun terjadi proses pembusukan atau lebih hebat lagi upaya pembunuhan karakter. * Indiwan seto, Kepala Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA (LPJA). Alumnus Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia 2003, dan wartawan LKBN ANTARA sejak 1993. DAFTAR PUSTAKA [1]Alex Sobur, h.xii [2] Sobur,Alex 2001.”Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika dan Analisis Framing”, Remadja Karya, Bandung.Hal.30 [3] Ibid.,h.30 [4] Macnamara,Jim. 1999. Strategi Jitu Menjinakkan Media. Penerjemah Tony Rinaldo. Mitra Media, hal.7-9 [5] ibid., hal.7 [6] Kelly, 1995 dalam Macnamara, 1999 h.5 [7] Alex Sobur, Op.Cit., h.35 [8] Paul Johnson menguraikan secara panjang lebar soal tujuh dosa besar pers dalam artikel,”The Media Truth: Is There a Moral Duty” dalam Mass Media: Annual edition 1997-1998 [9] Lebih bagus lagi bila anda membaca karya Dan Nimmo (terjemahan) Komunikasi Politik (1993) hal.108 [10] Alex Sobur, Opcit.hal.120

Wednesday, September 12, 2007

MEMBUAT TERAS (LEAD) KARKHAS

Oleh Mulyo Sunyoto (ombudsman Antara) Teras atau intro sebuah tulisan jurnalistik jenis "feature" alias karkhas harus lembut, "soft". Wartawan menulis karkhas, pertama-tama dan terutama, bukan untuk memberi kabar tapi menghadirkan kisah! Tapi, astagfirullah, teras karkhas kita kok masih sekeras tempurung kelapa. Tidak semua! Memang. Kita sudah tahu banyak soal teori menulis teras karkhas. Tanpa harus menguraikan lagi konsep-konsep, saya langsung saja dedahkan perbandingan mana teras yang lunak dan yang pejal.Gerbang baja kelabu penjara di Ankara terbuka dan seorang perempuan muda dalam busana ala Barat muncul. Nalan Demircioglu berkata pelan pada sejumlah orang yang berkumpul di sana. " Suamiku meninggal untuk tujuan luhur."(A Hunger for Justice, Time 5/8/96)Teras di atas konkret, visual. Ada sosok yang jadi fokus, Demircioglu. Nanti kita bisa melihat kontrasnya pada teras karkhas kita: abstrak, dan terlalu bernafsu merangkum fenomena yang massal. Tak ada sosok, kecuali gerombolan manusia yang bernama masyarakat, umat. Bukan potret "close up" yang muncul tapi "long shot". Apa teras mesti berupa deskripsi visual? Jelas tidak! Bukankah ada 16 varian dalam menulis intro? Meski demikian, fokus dan segi personal perlu diperhatikan. Ini contohnya:Jika hidup sesungguhnya dimulai pada umur 40, aktris Jennifer Jason Leigh sedang lahir kembali sebagai penulis skenario dan sutradara dalam film barunya, "The Anniversary Party".(Actress Leigh finds new carrer as writer/director, Reuters 5/7/...)Tak ada deskripsi visual, tapi masih konkret karena ada aktris Leigh, bukan gerombolan "para aktris" misalnya.Satu contoh lagi yang sejenis--teras feature bisnis: Dengan tingkat pengangguran yang mencapai 35 persen di sekitar Bialogard, kota bagian utara Polandia, wiraswastawan Donat Krol tak bisa mengeluh kekurangan tenaga kerja yang rajin. (Polish town losing battle against unemployment, Reuters 28/5...)Lead berikut cukup impresif tapi tak istimewa karena mengadung diksi ajektiva yang tak bisa dipegang tolok ukurnya.Perempuan yang sempurna akan memiliki hidung Nicole Kidman, mata Winona Ryder, bibir Kim Basinger, dagu Sandra Bullock, pipi Jennifer Lopez dan tubuh Salma Hayek.(Plastic surgeon survey reveal Hollywood hottest looks, Reuters 9/3...)Yang ini lead dari feature berjudul Us and Then, Far Eastern Economic Review, 12/2/98): Fadli Zon punya visi. Mantan aktivis kampus itu membayangkan warga Jakarta mengayuh sepeda pelahan di Jalan Thamrin, kawasan yang sering macet oleh kendaraan bermotor. Alih-alih berbusana modern, mereka akan mengenakan sarung dari kain kasar. "Bila perlu, kami akan mundur 10 sampai 15 tahun," katanya bergelora. Ini teras dari Pergumulan Menjadi Warga Dunia, Tempo 6/1/2002: Lembaran partitur itu berserakan di atas sebuah meja. Dengan hanya mengenakan sarung, di pelosok Cilandak di selatan Jakarta, Tony Prabowo mencipta.Catatan: di sini saya tidak menyinggung bentuk-bentuk teras yang belasan jumlahnya. Wartawan boleh memilih bentuk yang mana saja. Tapi, dia harus punya fokus, ada sosok yang spesifik. Syukur-syukur visual.

KONTRUKSI REALITAS

Noeng Muhadjir (2000) mengatakan bahwa saat hendak melakukan penelitian, banyak orang langsung berbicara populasi, teknik sampling, merumuskan masalah, mendesain tata relasi, merancang instrumen instrumen kuantifikasi data, dan seterusnya, tanpa menyadari bahwa dia telah menjadi penganut filsafat ilmu tertentu. Kebiasaan ini umum terjadi, pun dalam dunia komunikasi/televisi. Saat hendak mengetahui jumlah penonton, pihak peneliti langsung menentukan populasi beserta sampelnya untuk kemudian digeneralisasi sebagai fakta bahwa sekian persen orang menonton program A. Atau seperti dalam iklan, 7 dari 10 perempuan Indonesia menggunakan shampo B. Dalam ilmu komunikasi di Indonesia, pendekatan Objektif-Positivistik-Kuantitatif semacam ini memang masih mendominasi. Dalam filsafat ilmu, hukum generalisasi dan reduksi yang linear ini sedang mengalami krisis hebat. Sebab ada keyakinan bahwa setiap manusia itu berbeda dan unik. Masyarakat bukanlah terdiri dari satu entitas yang homogen (yang karenanya bisa diukur), tetapi terdiri dari banyak ragam kepribadian yang kompleks. Dan karenanya perilaku aperiodik instabil akan selalu dapat ditemukan pada sistem-sistem yang dalam kacamata statistik sederhana. Dan kenapa pendekatan kuno ini masih menjadi mainstream dalam ilmu komunikasi, jawabannya bukanlah karena ia begitu diminati dan karenanya tidak ditinggalkan, seperti yang dikatakan oleh agen-agen (asing) pendukungnya. Sebab, mengikuti Deddy Mulyana (2001), itu tak lebih karena para mahasiswa telah diberi ‘kacamata kuda’ begitu masuk perguruan tinggi. Dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial atau Metode Penelitian Komunikasi, mahasiswa langsung dicekoki dengan konsep-konsep berbau positivistik, seperti hipotesis, variabel bebas, variabel terikat, populasi, reliabilitas, validitas, dan sebagainya. Setelah kita menjernihkan mengapa pendekatan kuantitatif masih saja mendominasi ilmu komunikasi di Indonesia, dan mengetahui betapa teks-teks kultural yang dihasilkan sejumlah program televisi banyak menuai kecaman, maka perdebatan selanjutnya, menurut hemat saya, adalah dasar dari semua ini, yakni apa yang disebut pendekatan behaviorisme radikal, yang juga masih merupakan anak dari Positivisme. Selama ini cara mengetahui apakah seseorang sedang menonton sebuah program acara adalah melalui alat yang disebut peoplemeter, dimana alat ini dipasang di televisi responden terpilih. Diharapkan setiap anggota rumah tangga yang menonton televisi akan memencet tombol di handset dan memencet lagi seusai menonton. Penelitian yang dilakukan berdasarkan perilaku permukaan ini sesuai dengan kaidah behaviorisme radikal. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya cara sah secara ilmiah untuk memahami semua hewan, termasuk manusia, adalah dengan mengamati perilaku mereka secara langsung dan seksama. Lebih jauh behaviorisme radikal menolak gagasan bahwa manusia memiliki kesadaran, bahwa terjadi suatu proses mental tersembunyi yang berlangsung pada diri individu diantara datangnya stimulus dan bangkitnya perilaku. Pendekatan ‘gila’ ini segera mendapat respon dari sejumlah aliran filsafat, seperti interaksionisme simbolik. Para penganutnya memandang bahwa pendekatan behaviorisme radikal tidak memungkinkan seorang peneliti untuk mendapatkan latar alamiah dari apa yang sedang diteliti. Menempatkan manusia dalam lingkungan buatan akan membuat subjek berperilaku tidak alamiah karena tahu sedang diteliti, sebagaimana hewan juga akan berperilaku lain ketika mereka berada dalam lingkungan buatan seperti kebun binatang, apalagi laboratorium (Mulyana, 2001). Mereka, kata kaum interaksionis simbolik, tidak akan mampu membedakan manusia dengan hewan. Padahal aktivitas tersembunyi (kesadaran) inilah yang justru membedakan perilaku manusia dengan perilaku hewan. Mereka membuang kehendak bebas manusia untuk menyalakan televisi sebagai sekedar mengalihkan perhatian sambil menunggu temannya datang, sekedar membaca runing text yang terus bergerak di layar bawah televisi, atau sekedar tidak terlalu sunyi. Djati Koesoemo yang dikutip Garin Nugroho (1995) mengatakan, “orang yang menonton televisi belum tentu suka akan tontonan itu. Seringkali mereka menonton sambil ngedumel”. Dan dalam kasus-kasus seperti ini, sebagaimana diungkapkan James Lull (1998), “penggunaan media oleh khalayak tak dapat dianggap benar-benar merupakan respon terhadap kebutuhan biologis atau psikologis. Kalaupun dinyatakan begitu, itu jelas berlebihan”. Kaum behavioris ini seperti tidak sadar bahwa mereka sedang mengkonstruk pemirsa yang mereka inginkan melalui alat (tool). Mereka bagaimanapun bisa dipandang telah mereduksi perilaku manusia kepada mekanisme yang sama dengan yang ditemukan pada hewan lebih rendah! Dan ini adalah sebuah penghinaan!Di tengah kekacauan Sistem Sosial-Kultur Indonesia, kita memerlukan suatu keterbukaan untuk melampaui batas-batas metodologis yang disediakan para provider asing itu. Dan keterbukaan itu, seperti kata Agus Nggerwanto (2001), memerlukan seperangkat intuisi yang reflektif agar mampu mengalami lompatan imajinatif untuk melampaui yang partikular menuju pemahaman yang menyeluruh, yakni media massa tidak saja berfungsi untuk melayani selera-budaya, tetapi juga mendidik-cerdaskan selera-budaya. (Dikutip dan dirangkum Dari situs sebelah )

DIKSI ( PILIHAN KATA )

Secara ringkas, Diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan cerita mereka. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.[1] Agar usaha mendayagunakan teknik penceritaan yang menarik lewat pilihan kata maka diksi yang baik harus (1) tepat memilih kata untuk mengungkapkan gagasan atau hal yang diamanatkan’ (2) untuk memilih tepat seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembacanya. (3) pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya mungkin kalau ia menguasai sejumlah besar kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu pula menggerakkan dan mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan efektif. Contoh-contoh pengunaan diksi dalam cerita fiktif misalnya penggunaan metafora, anafora, litotes, simile, personafikasi dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya, akan disajjikan sebagai berikut: a. Simile (persamaan) adalah suatu gaya bahasa menggunakan kiasan berdasarkan perbandingan atau persamaan. Sesuatu yang dimaksud dibandingkan dengan sesuatu yang lain jenisnya. Hal ini dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan sebagai, laksana, seperti, bagai dan sebagainya. Beberapa contoh: 1)” bagai seekor burung yang kedinginan, Hasan meringkuk di selnya gara-gara merampok” 2) Di langit bulan yang masih jauh dari purnama itu seperti sabit yang kehilangan tangkainya. b. Metafora. Metafora berasal dari kata Yunani : meta yang berarti di belakang, dengan, di seberang dan phore yang berarti ‘membawa’. Secara etimologis, metafora adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mengambil sifat atau keadaan benda lain. Tetapi tidak menggunakan kata ‘bagai’, seperti, laksana dan sebagainya. Contoh: 1) “bunga desa itu terkulai, patah dengan cara tak wajar” 2). aku tadi kehilangan muka saat bertemu orang yang kutaksir 3). dia adalah singa podium yang selalu mampu membetot massa lewat rayuan mautnya c. Personifikasi. Berasal dari kata latin Persona yang berarti orang atau pribadi dan facere yang berarti membuat. Jadi personifikasi atau pengorangan ialah semacam kiasan yang mengambarkan binatang, tumbuhan dan benda-benda mati seakan-akan hidup selayaknya manusia, seolah punya maksud, sifat dan perasaan dan kegiatan seperti manusia. a. Air yang kebiruan di dalam bak berlapis porselen itu seakan memanggil-manggil untuk diselami. b. Buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan kapal telah menungguku c. Pulpenku merajuk, membetot diriku agar terus menulis surat buat si mata genit dambaan hati a. tautologi. Berasal dari bahasa Yunani Toauto yang berarti sama dan logos yang berarti perkataan. Gaya bahasa ini adalah gaya bahasa penegasan dimana pengarang mengulang gagasan yang sama dengan kata atau perkataan yang berlainan. Contoh: a. Ia mendehem agak keras, batuk b. Alangkah senangnya hatiku ketika jalan-jalan dengan dia, bersiar-siar dan berputar-putar, naik bendi dan kereta melihat kota Jakarta c. Maka bercucuranlah pula air mata perempuan ini, menangis. b. Pleonasme. Berasal dari bahasa Yunani Pleon yang berarti lebih banyak dan Pleonazoo yang berarti berlimpah. Gaya bahasa ini mempergunakan kata atau kata-kata yang maknanya telah terkandung dalam kata-kata terdahulu.Contoh: a. maka olenglah kapal itu ke kiri dan ke kanan serta mengangguk ke muka dan ke belakang b. dia melompat ke depan dan mundur ke belakang c. Setelah sampai ke jalan besar di muka kantor Pos menolehlah ia ke belakang c. Hiperbol. Berasal dari kata Yunani Hyper yang berarti di atas, atau melampaui dan ballein yang berarti melemparkan. Jadi gaya bahasa ini merupakan gaya melebih-lebihkan sesuatu secara sengaja dari kenyataan sebenarnya. Contoh: a. teriakan-teriakannya membelah udara tetapi pemimpin membelah dua jantung rakyat b. kemenangan berturut-turut memabukkan manusia c. Hujan surat selebaran turun dari langit berisi ajakan agar rakyat Indonesia menyerahkan senjatanya pada sekutu d. Pars pro toto. Gaya bahasa berasal dari kata Latin pars yangberarti bagian dan Pro demi Totum yang berarti keseluruhan. Jadi gaya bahasa ini mempergunakan sebagian dari suatu hal untuk menyatakan keseluruhannya. Contoh: a. kalau aku kembali ke padang niscaya akan kulihatlah semua mulut yang dulu mengejekku b. sejak tadi pagi tak kulihat batang hidung lelaki berengsek itu c. Jantung rakyat yang sebelah kiri percaya pada kata-kata pemimpin, sebelah lainnya takut pada kekuatan sekutu e. Sarkasme. Berasal dari kata Yunani Sarx yang berarti daging. Sarkazoo artinya merobek daging. Sarkasme merupakan gaya bahasa sindiran yang terkasar karena memaki orang dengan kata-kata kasar, tak sopan di dengar dan menyakitkan hati. Contoh: a. Hei mana Anjing Belanda, datang dan lawanlah si Pitung!! b. Rupamu bagai hantu drakula penghisap darah. Masih mau uji nyali di sini!! c. Hei mana anjing Sukarno (Djunaedi 1975) f. Anafora. Adalah gaya bahasa pengulangan kata atau kata-kata pada awal kalimat atau penggalan kalimat. Tujuannya adalah untuk menegaskan atau menonjolkan arti. Contoh: a. ada salak anjing, ada dengus babi, ada aum harimau ada cericit tikus b. Hidupku untukmu, hidupku untuk ayahmu, hidupku untuk ibumu, hidupku untuk anak-anakmu. c. Tangis berkepanjangan, tangis desa, tangis para istri, tangis anak-anak bajang di tengah hiruk pikuk kerusuhan. g. Epifora. Adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari gaya bahasa anafora. Yaitu pengulangan kata atau kata-kata pada akhir kalimat atau bagian kalimat. Tujuannya sama seperti anafora menegaskan arti. Contoh: a. Hidupnya sebagian untuk kebahagiaan laki-laki, cintanya untuk kenikmatan laki-laki, perasaannya untuk melembutkan hati laki-laki b. Alam menjadi saksi, gunung menjadi saksi, pohon menjadi saksi saat kau mencium mesra diriku c. Ifing tersenyum, berdua kami tersenyum. Hari tersenyum dan bumi juga tersenyum h. Litotes. Berasal dari bahasa Yunani Litos yang berarti sederhana. Litotes adalah gaya bahasa yang bertujuan merendahkan diri dengan mempergunakan kata yang berlawanan artinya dengan yang dimaksud. Contohnya: a. takkan dapat saya membalas segala kebajikan ibu kepada saya yang hina lagi miskin ini b. Tidak usah sungkan-sungkan datang ke gubug reyotku ini c. Nggak usah malu-malu, cobain deh makanan ala kadarnya ini. [1] Bisa dibaca dalam buku Diksi dan gaya Bahasa, karya Gorys Keraf yang diterbitkan pada tahun 1981, khususnya di halaman 18.

TEKNIK MENULIS LATAR

Menurut MS Hutagalung, latar adalah gambaran tempat dan waktu atau segala situasi di tempat terjadinya peristiwa. Latar yang baik selalu dapat membantu elemen-elemen lain seperti alur dan penokohan.[1] Latar atau setting, merupakan ‘ seluruh ‘milleu’ dari sebuah cerita seperti :tata cara, kebiasaan, cara hidup, latar belakang alam dan lingkungan sekitar. William Hudson dkk. Membedakan dua jenis latar, yakni (1) latar sosial (2) material. Latar-latar itu dikenal sebagai ruang atau tempat tokoh-tokoh melandaskan laku dan alasan pertumbuhan tokoh.[2] Bahkan MJ Murphy berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan latar atau setting cerita fiksi ialah latar belakang hidup para tokoh/pelaku. Dalam beberapa cerita, latar dipentingkan. Latar dapat dikatakan tempat dan waktu, dimana para tokoh hidup dan bergerak. Keduanya mempengaruhi watak/kepribadian, tingkah laku dan cara berpikir para tokoh.[3] Sedangkan menurut Jakob Sumardjo, setting adalah tempat bermainnya sebuah cerita. Setting di sini bukan hanya terbatas pada pengertian geografis, tetapi juga antropologis.Di kalangan masyarakat mana, di jaman apa, dalam suasana apa cerita itu berlangsung adalah setting.[4] Tiga Unsur penting latar, yakni: (1) waktu, (2) tempat dan (3) suasana. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Waktu. Sebuah cerita atau peristiwa selalu terjadi dalam waktu tertentu. Ada empat macam waktu yang biasanya dilakukan oleh penulis yakni: (a) kini, sekarang (present time); (b) dahulu, masa lalu; (c)masa depan, masa datang; dan (4) waktu tidak tertentu. Contoh setting menggunakan waktu kini misalnya Novel Azab dan Sengsara (M Siregar), Siti Nurbaya (Mh.Rusli), Salah Asuhan (A.Muis), Kehilangan Mestika (Hamidah). Contoh setting menggunakan masa lalu: Hulubalang Raja (N St Iskandar), Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer) yang melukiskan keadaan kebudayaan Jawa pada akhir abad XIX sekutar tahun 1898. Sedangkan contoh menggunakan setting masa depan ‘Indonesia Abad ke-25’ (Murbandono Hs), ‘ Perlawatan Ke Bulan’ (Jules Verne). Sedangkan contoh setting menggunakan waktu tak tentu adalah Novel Merahnya Merah (Iwan Simatupang), Ziarah (Iwan Simatupang). Tempat. Unsur penting dari latar yang kedua adalah setting tempat atau ruang. Murphy membedakan tiga macam tempat/lokasi di mana sebuah cerita dapat terjadi yaitu (a) tempat yang dikenal; (b) tempat tidak dikenal dan (c) tempat khayalan. Contoh penggunaan setting yang dikenal dan diketahui kebanyakan pembaca atau orang sebangsanya adalah Novel Azab dan Sengsara bertempat di daerah Tapanuli, Siti Nurbaya di Padang, Sukreni Gadis Bali di Bali. Sedangkan contoh setting tempat tak dikenal atau lokasi yang dipilih tidak diketahui atau dikenal oleh sebagian besar pembaca misalnya Helai-Helai Sakura (N Djamin) berlokasi di Jepang, Seribu Senja di Roma (M.Boesje),Grotta Azzura (Takdir Alisyahbana) berlokasi di Eropa. La Barka (Nh.Dini) di perancis. Tuyet (bur Rasuanto) di Vietnam.Untuk penggunaan setting tempat khayalan misalnya novel karya Iwan Simatupang (Merahnya Merah, Ziarah dan Kering. SUASANA. Unsur ketiga yang tak kalah pentingnya adalah latar suasana atau atmosphere. Suasana inilah yang menyebabkan sebuah cerita/peristiwa itu hidup dan menarik serta memukau pembaca. Dalam sebuah setting suasana dibedakan menjadi tiga yaitu: a. suasana alamiah atau lahiriah yakni suasana yang berhubungan dengan alam :tempat, waktu dan cuaca. Contoh ‘Anak Perawan di Sarang Penyamun’ (Takdir Alisyahbana. b. Suasana sosio kultural adalah suasana yang dibentuk lewat pemaparan suasana sosio kultural seperti tata cara, kebiasaan dan adat istiadat, cara hidup, sejarah dan kebudayaan dan struktur masyarakat. Contoh Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer) yang melukiskan adat istiadat dan sistem feodal bangsawan Jawa pada akhir abad ke XIX, bagaimana seorang anak harus jalan berlutut menghadap ayahnya seorang bupati. c. Suasana batiniah. Suasana batiniah umumnya merupakan akibat saling pengaruh dan interaksi antara tokoh dengan tokoh, antara tokoh dengan suasana alamiah dan sosio kulturalnya, tempat para tokoh itu direkakan hidup atau berada. Contoh karya Trisnoyuwono ‘Pagar kawat Berduri’ menggambarkan suasana hati yang tegang, tertekan, cemas dan was-was –waktu tokoh utama Toto dan Herman melarikan diri dari Kamp Salatiga- dengan sangat hidup. [1] Hutagalung,MS.1967.Tanggapan Dunia Asrul Sani, Jakarta, Gunung Agung Hal.102-103 [2] Frans Wido, Opcit.hal.51 [3] Murphy, MJ. 1972.Understanding Unseens.An introduction To english poetry and the english novel for overseas students.London.Goerge Allen.Hal.141 [4] Frans Mido, Opcit.hal.52

DEVELOP YOUR COMMUNICATION SKILL

There are a number of situations when you need to solicit good information from others; these situations include interviewing candidates, solving work problems, seeking to help an employee on work performance, and finding out reasons for performance discrepancies. Skill in communication involves a number of specific strengths. The first we will discuss involves listening skills. The following lists some suggests for effective listening when confronted with a problem at work: · Listen openly and with empathy to the other person · Judge the content, not the messenger or delivery; comprehend before you judge · Use multiple techniques to fully comprehend (ask, repeat, rephrase, etc.) · Active body state; fight distractions · Ask the other person for as much detail as he/she can provide; paraphrase what the other is saying to make sure you understand it and check for understanding · Respond in an interested way that shows you understand the problem and the employee's concern · Attend to non-verbal cues, body language, not just words; listen between the lines · Ask the other for his views or suggestions · State your position openly; be specific, not global · Communicate your feelings but don't act them out (eg. tell a person that his behavior really upsets you; don't get angry) · Be descriptive, not evaluative-describe objectively, your reactions, consequences · Be validating, not invalidating ("You wouldn't understand"); acknowledge other;'s uniqueness, importance · Be conjunctive, not disjunctive (not "I want to discuss this regardless of what you want to discuss"); · Don't totally control conversation; acknowledge what was said · Own up: use "I", not "They"... not "I've heard you are noncooperative" · Don't react to emotional words, but interpret their purpose · Practice supportive listening, not one way listening · Decide on specific follow-up actions and specific follow up dates A major source of problem in communication is defensiveness. Effective communicators are aware that defensiveness is a typical response in a work situation especially when negative information or criticism is involved. Be aware that defensiveness is common, particularly with subordinates when you are dealing with a problem. Try to make adjustments to compensate for the likely defensiveness. Realize that when people feel threatened they will try to protect themselves; this is natural. This defensiveness can take the form of aggression, anger, competitiveness, avoidance among other responses. A skillful listener is aware of the potential for defensiveness and makes needed adjustment. He or she is aware that self-protection is necessary and avoids making the other person spend energy defending the self. In addition, a supportive and effective listener does the following: · Stop Talking: Asks the other person for as much detail as he/she can provide; asks for other's views and suggestions · Looks at the person, listens openly and with empathy to the employee; is clear about his position; be patient · Listen and Respond in an interested way that shows you understand the problem and the other's concern · is validating, not invalidating ("You wouldn't understand"); acknowledge other;'s uniqueness, importance · checks for understanding; paraphrases; asks questions for clarification · don't control conversation; acknowledges what was said; let's the other finish before responding · Focuses on the problem, not the person; is descriptive and specific, not evaluative; focuses on content, not delivery or emotion · Attend to emotional as well as cognitive messages (e.g., anger); aware of non-verbal cues, body language, etc.; listen between the lines · React to the message, not the person, delivery or emotion · Make sure you comprehend before you judge; ask questions · Use many techniques to fully comprehend · Stay in an active body state to aid listening · Fight distractions · ( if in a work situation) Take Notes; Decide on specific follow-up actions and specific follow up dates (dari berbagai sumber )

BARRIERS TO EFFECTIVE COMMUNICATION

There are a wide number of sources of noise or interference that can enter into the communication process. This can occur when people now each other very well and should understand the sources of error. In a work setting, it is even more common since interactions involve people who not only don't have years of experience with each other, but communication is complicated by the complex and often conflictual relationships that exist at work. In a work setting, the following suggests a number of sources of noise: Language: The choice of words or language in which a sender encodes a message will influence the quality of communication. Because language is a symbolic representation of a phenomenon, room for interpreation and distortion of the meaning exists. In the above example, the Boss uses language (this is the third day you've missed) that is likely to convey far more than objective information. To Terry it conveys indifference to her medical problems. Note that the same words will be interpreted different by each different person. Meaning has to be given to words and many factors affect how an individual will attribute meaning to particular words. It is important to note that no two people will attribute the exact same meaning to the same words. defensiveness, distorted perceptions, guilt, project, transference, distortions from the past misreading of body language, tone and other non-verbal forms of communication (see section below) noisy transmission (unreliable messages, inconsistency) receiver distortion: selective hearing, ignoring non-verbal cues power struggles self-fulfilling assupmtions language-different levels of meaning managers hesitation to be candid assumptions-eg. assuming others see situation same as you, has same feelings as you distrusted source, erroneous translation, value judgment, state of mind of two people Perceptual Biases: People attend to stimuli in the environment in very different ways. We each have shortcuts that we use to organize data. Invariably, these shortcuts introduce some biases into communication. Some of these shortcuts include stereotyping, projection, and self-fulfilling prophecies. Stereotyping is one of the most common. This is when we assume that the other person has certain characteristics based on the group to which they belong without validating that they in fact have these characteristics. Interpersonal Relationships: How we perceive communication is affected by the past experience with the individual. Percpetion is also affected by the organizational relationship two people have. For example, communication from a superior may be perceived differently than that from a subordinate or peer Cultural Differences: Effective communication requires deciphering the basic values, motives, aspirations, and assumptions that operate across geographical lines. Given some dramatic differences across cultures in approaches to such areas as time, space, and privacy, the opportunities for mis-communication while we are in cross-cultural situations are plentiful. You work in a Japanese company in the US. You have noticed that the Japanese staff explains only the conclusion to Americans when they address a problem, rather than discussin the steps to the conclusion. Also , the Japanese staff sends reports directly to Japan without showing them to you. (Dari berbagai sumber di dunia maya)
<